MALANG - Pertunjukan Kesenian Bantengan di Malang Raya saat ini mulai menjadi sorotan masyarakat karena pertunjukan kesenian ini menampilkan gerakan enerjik dan diiringi dengan alunan musik yang menghentak.
Namun, selain dari cerita dan ritualnya, kesenian ini juga kaya akan ornamen-ornamen yang menghiasi setiap bagian dari penampilan kesenian Bantengan itu sendiri.
Lantas, apa saja ornamen yang umum ditemukan pada Kesenian Bantengan?
Simak ulasan berikut ini.
- Tanduk
Salah satu ornamen utama dalam kesenian bantengan adalah tanduk, yang sering kali terbuat dari tanduk asli hewan seperti banteng, kerbau, atau sapi.
Tanduk ini tidak hanya menjadi bagian dari kostum, tetapi juga memiliki makna simbolis yang dalam, sering kali melambangkan kekuatan dan keberanian.
- Kepala Banteng
Kepala banteng yang dibuat dari kayu dan dihiasi dengan berbagai jenis bahan seperti waru, dadap, atau kembang, memegang peran dalam kesenian ini.
Kepala banteng ini tidak hanya sebagai kostum, tetapi juga menjadi objek utama yang digunakan dalam ritual dan pertunjukan kesenian.
- Mahkota Bantengan
Mahkota bantengan, berupa sulur wayangan dari bahan kulit atau kertas, adalah ornamen lain yang sering kali menghiasi kepala banteng.
Mahkota ini memberikan nuansa magis dan sakral pada keseluruhan penampilan bantengan, menambah kesan mistis dalam pertunjukan.
- Klontong
Klontong, alat bunyi yang diletakkan di leher, memberikan aspek audiovisual yang unik dalam pertunjukan bantengan.
Bunyinya yang khas turut mengiringi gerakan-gerakan dari penari bantengan.
- Keranjang Penjalin
Sebagai bagian dari badan bantengan, keranjang penjalin yang terbuat dari kain hitam memiliki peran penting dalam menyatukan bagian kepala dan kaki belakang bantengan.
Ornamen ini tidak hanya sebagai penghubung fisik, tetapi juga menguatkan kesatuan visual keseluruhan penampilan bantengan.
Setiap gebyak (pertunjukan) Bantengan didukung oleh beberapa perangkat dan pemain.
Termasuk dua pendekar yang mengendalikan kepala Bantengan dengan menggunakan tali tampar.
Sedangkan pemain gamelan, pengerawit, dan sinden yang menciptakan alunan musik khas yang membangkitkan semangat dan suasana kesenian.
Tidak luput dengan hadirnya para sesepuh yang konon memiliki kelebihan memanggil leluhur banteng (Dhayangan).
Juga, pamong sebagai pemimpin kelompok dengan membawa kendali seperti Pecut yang akan menambah kesakralan pertunjukan Kesenian Bantengan.
Kehadiran Macanan dan Monyetan juga menambahkan nuansa kejutan dan kelincahan dalam pertunjukan.
Setiap ornamen dan perangkat dalam pertunjukan Kesenian Bantengan bukan hanya sekadar aksesori.
Tetapi juga memperkaya nilai budaya dan keindahan tradisional yang perlu dilestarikan. (Megan Inez Ayu Sabrina)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana