Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Masih Dapati Kasus Kematian Bayi Prematur di Malang Raya

Bayu Mulya Putra • Minggu, 17 November 2024 | 18:20 WIB
RIO/RADAR MALANG
RIO/RADAR MALANG

Bayi Prematur dan Penanganannya 

Fungsi Pengaturan Napas dan Saraf Pusat Pegang Peran Penting 

MALANG RAYA - Tahun ini sedikitnya ada 423 kelahiran prematur yang terdata tiga Dinas Kesehatan (Dinkes) di Malang Raya. 

Perhatian khusus diberikan mereka terhadap kasus kelahiran bayi sebelum usia 37 minggu tersebut. 

Alasannya karena kasus tersebut memiliki beragam risiko. 

Khususnya untuk tumbuh kembang anak (selengkapnya baca grafis). 

Seperti disampaikan Swasti (bukan nama sebenarnya), warga Kecamatan Dau. 

Dua anaknya yang bernama Arka dan Akbar (bukan nama sebenarnya) sama-sama lahir prematur pada 2021 lalu. 

Arka lahir lebih dulu. Tepatnya saat usia kandungan Swasti tujuh bulan.

Sebelum melahirkan Arka, dia sempat mengalami panas tinggi selama tiga hari. 

Setelah itu Swasti mengalami pecah ketuban. 

Kondisi itu berlanjut ke pembukaan sampai Arka terlahir. 

Dia tidak merasakan adanya kontraksi. 

”Namun, saat perjalanan menuju rumah sakit, Arka meninggal dunia,” kenang perempuan berusia 23 tahun itu. 

Swasti tidak menyangka Arka tidak bisa bertahan hidup. 

Padahal, dia rutin melakukan USG setiap bulan. 

Dia merasa terpukul. Apalagi, saat melahirkan Arka dia tidak bisa dijenguk oleh keluarganya yang berada di Blitar karena sedang pandemi. 

 Baca Juga: Cerita Lokalisasi Kalisari Kota Malang, Sudah 27 Tahun Ditutup, Masih Ada Makam Bayi

Tiga bulan setelah Arka meninggal, Swasti kembali hamil. 

Padahal, masa nifasnya belum selesai. Dari yang seharusnya 60 hari menjadi hanya 40 hari. 

Kendati demikian, Swasti berupaya menjaga nyawa baru yang ada di rahimnya. 

Selama kehamilan, kondisi kandungannya cukup baik. 

Hanya saja dia beberapa kali mengalami flek dan mengeluarkan gumpalan setelah beraktivitas berat. 

Itu karena kondisi rahimnya belum sempurna pasca melahirkan Arka. 

”Saya kan tinggal dengan mertua. Enggak enak sama mereka kalau santai-santai saja. Jadi tetap beraktivitas seperti bersih-bersih,” tuturnya. 

Pada usia kandungan ke-tujuh bulan, anak keduanya lahir. 

Saat itu, kondisi mulut rahim Swasti sudah terbuka sekitar 1,5 sentimeter. 

Dokter yang mengetahui kondisi rahim Swasti pun berkata kalau Swasti tidak ingin mengalami kelahiran prematur, harus dilakukan tindakan pengikatan mulut rahim. 

Akbar lahir dengan berat badan sekitar 1,2 kilogram. 

Sampai di rumah sakit, dia langsung mendapat perawatan di Neonatal Intensive Care Unit (NICU) selama 54 hari. 

Swasti juga ikut dirawat selama tiga hari karena kadar hemoglobinnya rendah. 

”Tapi saya sedih karena waktu itu kan masih pandemi. Yang boleh di rumah sakit hanya satu orang. Saya yang menemani Akbar. Sementara suami dan keluarga saya di Blitar hanya bisa menghubungi lewat telepon,” paparnya. 

Saat pulang ke rumah, Swasti sempat mendapat cemoohan dari keluarga suaminya. 

Sebab, dia melahirkan anaknya dalam kondisi prematur. 

Namun, dia tidak menyerah. 

Swasti tetap berupaya memberi perawatan yang terbaik kepada Akbar. 

Mulai menerapkan metode kanguru hingga mendorong produksi ASI agar tetap melimpah. 

Semua upaya dilakukan Swasti dengan belajar secara perlahan-lahan. 

Dia menemukan support system melalui komunitas Prematur Indonesia. 

Dari sana dia banyak belajar demi mengejar target berat badan sang putra. 

Termasuk memberikan skrining. 

Karena tidak memiliki BPJS Kesehatan, saat itu Swasti harus membiayai skrining Akbar dengan biaya mandiri. 

”Sekarang anaknya sudah bisa berdiri, tapi masih kesulitan jalan. Jadi harus ikut fisioterapi,” tambahnya.

Pengalaman selanjutnya disampaikan Istuti, 42, warga Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang. 

Dua tahun lalu, dia melahirkan mengandung anak kembar saat usia janin 28 minggu. 

Saat itu, kedua anaknya punya berat 1,4 kilogram dan 1,5 kilogram. 

”Lahirannya normal, tapi setelah itu si kembar harus masuk inkubator selama 12 hari,” ujar Istuti saat ditemui di rumahnya. 

Selain harus memenuhi kebutuhan susu khusus prematur yang mahal, perawatan bayi juga harus dilakukan ekstra hati-hati. 

Satu bulan pertama, bayi kembar Istuti tidak boleh dimandikan. 

Hanya diusap dengan kain basah untuk membersihkan tubuhnya. 

”Untungnya si kembar cukup doyan minum susu, jadi satu bulan itu berat badannya berangsur normal,” lanjut Istuti. 

Di tempat lain, Retnowati mengaku hamil pada usia 24 tahun. 

Dia didiagnosis preeklamsia atau darah tinggi (hipertensi) di tengah masa kehamilan. 

Saat itu usia kehamilannya masih lima bulan. 

”Efeknya memang badan saya gemuk, tapi bayinya kecil,” ujarnya. 

Itu lantaran dia mengonsumsi makanan dengan kadar garam tinggi saat ngidam dan memicu hipertensi. 

Bahkan, dirinya mengaku mengalami pembengkakan kaki. 

”Akhirnya saya melahirkan pada usia kandungan 7 bulan, beratnya saat itu 2,1 kilogram,” paparnya. 

Kendala baru dia alami saat kehamilan kedua. 

Ketika memasuki usia kehamilan lima bulan, dia kembali mengalami preeklamsia. 

Akhirnya, bayi yang dikandungnya tidak tumbuh optimal dan memiliki berat relatif kecil. 

Warna kulit bayi lebih gelap lantaran efek darah tinggi dan minimnya nutrisi. 

”Hanya bertahan dua hari di rumah sakit, setelah itu meninggal,” tandas wanita asal Kelurahan Sisir, Kota Batu itu. 

Proses Tumbuh Kembang Bergantung Usia Kelahiran 

Di tempat lain, Ketua Tim Rumah Sakit Sayang Ibu Bayi (RSSIB) RSUD dr Saiful Anwar (RSSA) dr Brigitta Ida Resita Vebrianti Corebima SpA(K) menyebut, saat ini semakin banyak anak prematur yang bisa dirawat dan bertahan hidup. 

Kendati demikian, prematur tetap harus dicegah. 

Sebab, anak yang lahir prematur rawan mengalami keterlambatan pertumbuhan. 

”Karena organ tubuh anak prematur belum berfungsi dengan baik dan berkembang sempurna,” jelasnya. 

Tak hanya keterlambatan pertumbuhan. Anak yang lahir prematur juga berisiko mengalami gangguan motorik, penglihatan, dan psikososial. 

Sebagai bentuk penanganan, anak biasanya akan dirawat di NICU selama beberapa saat. 

Di sana, anak diberi alat bantu seperti infus untuk memenuhi nutrisi. 

Kemudian ada ventilator, Continous Positive Airway Pressure (CPAP) atau alat bantu pernapasan, dan alat-alat lainnya. 

”Setelah dirawat di NICU dan membaik, penanganan tidak selesai begitu saja,” jelas Brigitta. 

Anak harus dirawat menggunakan metode kanguru atau perawatan bayi yang dilakukan menggunakan kontak langsung. 

Antara lain membiarkan bayi dalam kondisi telanjang (hanya menggunakan popok, kaus kaki, dan topi), menjaga posisi dan leher bayi, serta perut bayi menempel pada perut ibu bagian atas. 

Selain itu, bayi prematur harus menjalani rangkaian skrining. 

Terdiri dari skrining pendengaran atau otoacoustic emission (OAE), USG kepala, skrining osteopenia of prematurity (OOP), skrining hipotiroid, skrining retinopathy of prematurity (ROP), dan pemeriksaan jantung. 

Meski sudah mendapat perawatan, beberapa anak yang lahir prematur ada yang meninggal dunia. 

Menurut Brigitta, kematian anak yang lahir prematur biasanya disebabkan karena ketidakmatangan fungsi pengaturan napas dan saraf pusat. 

Dokter Spesialis Anak RSUD Kanjuruhan dr Nur Ramadhan menambahkan, dampak bayi yang lahir prematur memang patut diwaspadai. 

Utamanya terkait dampak imunitas rendah dan gangguan pada proses pertumbuhan. 

Meski begitu, dia memastikan bila bayi prematur bisa memiliki kesehatan yang sama dengan bayi lainnya. 

Asalkan mendapat perawatan dan gizi yang sesuai. 

”Kadang masalahnya, ibu dari bayi prematur itu belum siap memiliki anak prematur,” ucap Nur. 

Itu menjadikan bayi mendapat perawatan yang salah. 

Sementara perawatan terhadap bayi prematur butuh ketekunan, kesabaran, dan ketelatenan. 

Untuk itu, pihaknya selalu memberi edukasi khusus kepada ibu yang melahirkan bayi prematur. 

Dokter Spesialis Anak RSUD Karsa Husada Kota Batu dr Maya Chusniyah SpA MBiomed merinci, ada tiga jenis bayi prematur berdasar usia kelahirannya. 

Pertama, extremely preterm atau bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 28 minggu. 

Kedua, moderately preterm atau bayi lahir antara usia kehamilan 28-32 minggu. 

Terakhir, late preterm atau bayi lahir usia kehamilan 32-36 minggu. 

”Padahal percepatan pertumbuhan bayi ideal ada pada usia kehamilan 37 minggu,” ujarnya. 

Cepat dan lambatnya proses tumbuh kembang anak bergantung pada usia kelahirannya. 

Jika bayi tersebut masih dalam kategori moderately dan late, risiko yang ditimbulkan lebih minim. 

Itu karena organ bayi masih dapat bekerja lebih optimal meski belum sempurna. 

Berbeda dengan extremely preterm yang masih lemah dan perlu banyak penanganan. 

”Meski pernapasannya rendah, pemberian oksigen berlebih juga bisa berakibat fatal,” imbuh dia. 

Anak yang lahir secara prematur memiliki dua komplikasi. 

Komplikasi jangka pendek, yang dapat mengakibatkan pendarahan pada otak atau gangguan penglihatan karena kelebihan oksigen. 

Sementara jika anak tersebut tumbuh besar, terjadi komplikasi jangka panjang seperti diabetes, kolesterol, dan stroke dini. (mel/ori/aff/by)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Dinas Kesehatan (Dinkes) #Malang Raya #bayi prematur