Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kisah Warga Dau Malang Juri Modifikasi, Berawal dari Modif Knalpot Motor Bapak, Kini Langganan Kontes Keliling Indonesia

Fathoni Prakarsa Nanda • Senin, 25 November 2024 | 19:22 WIB
EKSTREM: Karya Tito yang menggabungkan mesin Honda Vario dengan mesin Mazda B600 diikutkan pada kontes Art of Speed 2014 di Kuala Lumpur.
EKSTREM: Karya Tito yang menggabungkan mesin Honda Vario dengan mesin Mazda B600 diikutkan pada kontes Art of Speed 2014 di Kuala Lumpur.

MATA jeli Tito sangat terlatih untuk menilai detail modifikasi motor pada konteskontes tingkat nasional.

Sudah sekitar 21 tahun dia berkeliling Nusantara, menjadi juri untuk mencari pemodif-pemodif juara.

Selera modifikasi di dalam otaknya bahkan sudah terbentuk selama 38 tahun. 

Saat ini Tito terbilang jarang menyambangi rumahnya di Jalan Rambutan, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

Dia lebih banyak berada di luar kota.

Dalam kurun waktu 21 tahun terakhir, terhitung 110 kabupaten/kota dari 11 provinsi yang ia singgahi untuk menjadi juri.

Kariernya sebagai juri modifikasi motor dimulai pada 2003 lalu.

Saat itu, Tito yang sudah 17 tahun menggeluti dunia modifikasi otomotif dipercaya menjadi juri untuk kali pertama pada acara Otomodify Contest yang diselenggarakan Ototrend (tabloid otomotif di bawah jaringan Jawa Pos).

Namun, sebelumnya dia harus menjalani masa ujian lisensi juri di Ototrend selama tiga bulan.

Poin yang dinilai mulai dari kecepatan dalam menjuri, keakuratan kurasi karya, hingga ketangkasan menjawab pertanyaan peserta.

Sebab, tiap kontes modifikasi berakhir selalu ada sesi tanya jawab dengan peserta.

Tujuannya untuk menjawab rasa penasaran para kontestan mengapa sebuah karya bisa ditetapkan sebagai juara.

”Saya didampingi juri senior di Ototrend waktu ujian lisensi juri,” ujar ayah dua anak itu.

Pertama kali setelah mendapat lisensi, Tito langsung dipercaya menjadi juri event nasional.

Lamakelamaan, Tito semakin sering menjadi juri kontes modifikasi di berbagai kota.

Namun, ketenaran Tito di dunia kontes modifikasi motor tidak didapatkan secara instan.

Dia sudah tertarik dengan selukbeluk modifikasi sejak usia sembilan tahun.

Tepatnya pada 1986, saat duduk di bangku kelas lima SD.

Kala itu, Tito kecil nekat mencuri sepeda motor ayahnya, Suzuki FR80, untuk dimodifikasi knalpotnya.

Modifikasi yang dilakukan hanya ringan.

Yaitu membuka filter knalpot agar suara yang dihasilkan lebih besar.

Saat ketahuan, Tito pun ditegur ayahnya.

Bukan karena memodifikasi knalpot, tapi karena sang ayah diprotes Pak RT karena Tito membuat kebisingan dengan suara knalpot yang sangat nyaring.

Tapi momen itu malah membuat sang ayah melihat potensi besar pada anak pertamanya untuk terjun ke dunia modifikasi otomotif.

”Saat masih SD dan SMP, saya hanya bisa modifikasi tipistipis. Baru saat masuk SMA pada 1992, saya memutuskan untuk serius dan diizinkan terjun di dunia modifikasi,” lanjut pria dua bersaudara itu.

Untuk bisa melakukan modifikasi motor, Tito mengumpulkan uang saku dan uang bensin.

Awalnya hanya bisa digunakan untuk membeli knalpot moncong dua yang populer dengan sebutan knalpot telo.

Waktu itu harganya Rp 75 ribu.

Uang sebanyak itu dikumpulkan dari sisasia uang saku dan uang bensin Tito yang per hari dijatah Rp 5 ribu.

”Selama tiga bulan saya menabung dapat Rp 60 ribu. Yang Rp 15 ribu ditambahi ayah saya,” kenangnya.

Melihat keseriusan dan bakat besar Tito, ayahnya mulai menyisihkan uang untuk membelikan anak pertamanya itu sebuah sepeda motor.

Bahkan, sang ayah juga mendukung Tito dengan mengajarkan cara mengecat sepeda motor dengan benar.

Termasuk membelikan kuncikunci untuk keperluan modifikasi.

Baca Juga: Malang Raya Sepakat Modifikasi Aturan PSBB Jawa Bali, Seperti Apa?

Pada 1994, Tito mendapatkan sepeda motor pertamanya, yakni Kawasaki KZ200.

Tahun itu juga Tito mulai merambah dunia custom chopper.

Karena jenis custom tersebut terbilang ekstrem, sang ayah berpesan agar Tito tetap taat aturan dalam memodifikasi sepeda motor.

Juga selalu mengedepankan aspek keselamatan dalam konsep dan pengerjaannya.

”Pernah waktu itu cover setang plastik yang ada lampunya saya lepas. Sepeda motor saya jadi tanpa lampu. Langsung dimarahi habis habisan,” kenang Tito.

Hobi dan keahlian Tito semakin terasah saat dirinya menempuh program studi S1 Teknik Mesin di Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang pada 1995.

Sejak saat itu, Tito semakin berani memodifikasi hingga membuat bodi sepeda motor dari nol.

Dia juga memutuskan untuk membangun rumah custom yang diberi nama Dream Light Chopper Malang di teras rumahnya.

Pada 1997, Tito mulai bisa membuat seluruh bodi motor sesuai seleranya.

Seluruh bahannya menggunakan besi.

Hanya mesin sepeda motor saja yang dibeli.

Tito juga sering ikut kontes custom sepeda motor hingga menjadi juara nasional dan diliput Ototrend.

Lulus kuliah pada tahun 2000, Tito melamar kerja di tabloid itu dan langsung diterima sebagai jurnalis otomotif.

Kemudian pada 2013, dia iseng mengerjakan custom sepeda motor dan ikut dalam event internasional bernama Art of Speed di Kuala Lumpur, Malaysia.

Tito yang saat itu disponsori oleh Honda berhasil meraih juara satu pada kategori full custom.

Dari tiga sepeda motor yang diberangkatkan dari Indonesia, hanya Tito yang menyabet gelar juara.

Sebenarnya, sepeda motor yang diikutkan lomba itu adalah pesanan seorang teman.

Saat ini, sepeda motor tersebut dipajang di toko milik temannya di Kota Batu.

”Sempat mau dibeli salah satu museum transportasi di Kota Batu. Tapi karena pihak museum minta sertifikat kemenangannya juga, jadi tidak dilepas sama teman saya,” lanjut Tito.

Kini, 38 tahun sudah Tito menekuni dunia modifikasi sepeda motor.

Dari puluhan aliran yang sudah dipelajari dan hafal di luar kepala, Tito tetap menyukai aliran custom.

Sebab, tingkat kesulitan pengerjaannya sangat menantang.

Kandungan estetika dari hasil custom tersebut juga bisa diatur oleh penciptanya sendiri.

Apalagi, di aliran custom Tito tidak menggantungkan diri pada barang pabrik.

Seluruh bodi kendaraan murni hasil ciptaannya dari bahan besi.

”Kecuali mesin, semua bodi kendaraan saya yang mengerjakan dengan selera saya sendiri,” terang Tito.

Berbeda dengan aliran modifikasi yang cenderung memadupadankan karya pabrik, sehingga bisa tinggal beli dan bongkar pasang saja.

Saat ini Tito sudah memproduksi sekitar 1516 sepeda motor custom.

Tidak banyak, karena waktunya lebih banyak habis untuk liputan dan menjadi juri lomba.

Mayoritas sepeda motor tersebut adalah pesanan teman yang sabar menunggu karena proses pengerjaannya cenderung lama.

Bisa berbulanbulan hingga bertahuntahun.(*/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#juri #malang #kontes #modifikasi motor