MALANG RAYA - Kasus kanker tulang di Malang Raya terus meningkat.
Sedikitnya ada 200-an kasus baru yang ditemukan tiap tahunnya.
Seperti dicatat Departemen Orthopaedi dan Traumatologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FKUB)/RSUD dr Saiful Anwar (RSSA) Malang.
Beranjak dari angka itu dan bertepatan dengan Hari Tulang Nasional yang berlangsung kemarin (11/4), mereka mengajak masyarakat untuk peduli.
Spesialis dari Divisi Orthopaedi Onkologi FK UB/ RSSA dr Satria Pandu Persada Isma SpOT Subsp Onk Ort R (K) menjelaskan, pihaknya rutin melakukan pendataan terhadap kasus kanker tulang sejak 2011.
Pada enam tahun awal, ada 60 sampai 70 kasus baru yang ditemukan setiap tahunnya.
Baca Juga: Dinas Kesehatan Kabupaten Malang Temukan 26 Ibu Hamil Kena Hepatitis
Memasuki tahun 2017 hingga sekarang, jumlah kasus terus meningkat.
Berkisar antara 100 sampai 200 kasus baru setiap tahunnya.
”Peningkatan jumlah kasus kanker tulang juga dipengaruhi dengan adanya BPJS. Sehingga masyarakat semakin terbantu dan mau berobat,” kata Satria, kemarin (11/4).
Pada 2018 lalu, mereka mencatat ada 105 kasus baru.
Jumlahnya meningkat pada 2019 dengan 135 kasus.
Pada 2020 dan 2021 ada penurunan.
Masing-masing 76 dan 67 kasus.
Jumlahnya kembali meningkat pada 2022 dengan 138 kasus.
Sementara sejak 2023 sampai April 2025 ini, mereka mencatat ada 400 pasien kanker tulang yang baru.
Satria menyebut kanker tulang terbagi menjadi dua.
Yang pertama yakni kanker tulang primer atau kanker yang muncul dari jaringan tulang itu sendiri.
Selanjutnya kanker tulang sekunder, atau kanker yang merupakan metastasis (penyebaran) dari kanker di bagian lain tubuh.
Ada berbagai penyebab kanker tulang.
Bisa karena genetik.
Baca Juga: Mengatur Kembali Pola Tidur Usai Ramadan untuk Kesehatan Optimal
Bisa juga dari dampak penyebaran dari kanker di bagian tubuh lain seperti kanker payudara.
”Belakangan ini saya mendapati yang lebih banyak ditemukan adalah kanker tulang sekunder, karena sebelumnya ada kanker payudara. Namun ada juga yang akibat dari kanker lainnya,” papar Satria.
Usia pasien kanker tulang bervariatif.
Untuk kanker tulang primer, paling banyak diderita oleh anak-anak yang berusia belasan tahun.
Jenis yang paling banyak diderita adalah osteosarcoma atau kanker yang bermula di sel-sel pembentuk kanker.
Sementara pada orang dewasa, kanker tulang banyak diderita orang usia 40 tahun ke atas.
Namun diiringi dengan metastasis dari kanker lain.
Agar kanker tulang bisa dideteksi lebih awal, Satria meminta masyarakat untuk memperhatikan gejalanya.
Salah satu gejala khas yang muncul pada pasien kanker tulang adalah nyeri.
”Nyeri tersebut biasanya berlangsung terus menerus dan bisa bertambah intensitasnya. Tanpa melakukan aktivitas bisa dirasakan,” jelas dia.
Gejala lanjutannya yakni muncul benjolan yang semakin membesar.
Benjolan tersebut bisa terlihat di lutut hingga bagian tubuh lainnya seperti panggul.
Jika muncul di panggul, benjolan sukar terlihat.
Baca Juga: Bapenda Kabupaten Malang Evaluasi Tarif Jasa Pelayanan Kesehatan
Karena itu harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut saat terjadi nyeri berkepanjangan di area panggul.
Dr Dandy Drestanto Adiwignyo SpOT menambahkan, ke depan pihaknya berharap pemerintah bisa menerapkan proses skrining.
Tujuannya untuk mendeteksi kanker tulang lebih awal meskipun tidak sakit.
”Kalau di luar negeri sudah ada skrining melalui DNA,” sebut dia.
Jika skrining dilakukan lebih awal, kemungkinan sembuhnya bakal lebih tinggi.
Namun bila terlambat, kanker bisa menyebar ke organ-organ lain hingga berujung pada kematian. (mel/by)
Editor : A. Nugroho