RADAR MALANG - Di balik hiruk-pikuk kemajuan teknologi dan gempuran informasi di media sosial, Indonesia tengah menghadapi krisis yang jarang kita sadari. krisis kehadiran ayah atau yang dikenal dengan istilah “fatherless” Bukan berarti sang ayah tidak hidup atau tidak menafkahi, melainkan secara emosional dan fisik, sosok ayah absen dalam kehidupan anak.
Fenomena ini makin nyata dan diam-diam memengaruhi pola asuh, karakter anak, hingga kesehatan mental generasi muda di Tanah Air.
Menurut data yang dirilis oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), Indonesia termasuk dalam negara dengan tingkat fatherless tertinggi di Asia Tenggara. Berdasarkan survei lembaga non-pemerintah, lebih dari 50% anak Indonesia mengaku tidak dekat atau tidak memiliki hubungan emosional yang kuat dengan ayah mereka.
Fenomena ini bisa disebabkan oleh banyak faktor. Beberapa di antaranya adalah budaya patriarki yang masih kuat, tuntutan kerja yang membuat ayah terlalu sibuk, hingga pola keluarga yang mengalami disfungsi seperti perceraian atau kekerasan dalam rumah tangga. Namun yang paling mengejutkan, banyak keluarga yang tampak utuh di permukaan pun ternyata menyimpan jarak emosional yang dalam antara ayah dan anak.
Dampaknya tak main-main. Riset dari berbagai universitas di Indonesia menunjukkan bahwa anak-anak yang tumbuh tanpa kehadiran emosional ayah cenderung mengalami krisis identitas, penurunan prestasi akademik, hingga masalah dalam menjalin relasi sosial. Bahkan, dalam beberapa kasus ekstrim, kondisi ini berkaitan dengan meningkatnya angka kenakalan remaja dan depresi di usia muda.
Di media sosial, isu fatherless mulai mendapat sorotan dari generasi muda, terutama Gen Z. Tagar seperti #fatherlessgeneration dan #woundswithoutscars ramai digunakan di TikTok dan X (dulu Twitter) untuk menceritakan pengalaman pribadi dan trauma masa kecil akibat ketiadaan figur ayah. Beberapa konten viral bahkan memperlihatkan reaksi emosional remaja yang tidak bisa menyebut "ayah" tanpa meneteskan air mata.
Para psikolog dan memberhatikan anak mengingatkan bahwa kedekatan ayah bukan hanya soal memberikan uang atau mainan, tapi juga waktu, perhatian, dan validasi emosi. Sosok ayah yang hadir aktif secara emosional diyakini memiliki peran besar dalam membentuk kepercayaan diri, ketahanan mental, dan nilai-nilai sosial anak.
Fenomena fatherless adalah masalah sunyi yang mengakar dan butuh perhatian serius, bukan hanya dari keluarga, tapi juga dari pemerintah, sekolah, dan komunitas. Hadirnya ayah secara utuh, bukan hanya fisik tapi juga emosional, bisa menjadi pondasi kuat bagi generasi masa depan Indonesia.
Sudah saatnya kita mengubah pola pikir bahwa mendidik anak bukan hanya tugas ibu. Ayah pun punya peran penting yang tak tergantikan dalam membentuk masa depan bangsa. (fie)
Editor : A. Nugroho