Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Nastar: Lebih dari Sekadar Kue Lebaran, Simbol Kemakmuran dan Kebersamaan

Aditya Novrian • Jumat, 28 Maret 2025 | 19:30 WIB
Ilustrasi kue nastar. (Fimela)
Ilustrasi kue nastar. (Fimela)

RADAR MALANG—Setiap perayaan Idulfitri di Indonesia, meja-meja rumah selalu dihiasi dengan berbagai macam kue kering.

Di antara beragam pilihan tersebut, nastar menempati posisi istimewa sebagai hidangan wajib yang disajikan kepada keluarga dan tamu.

Kue mungil berisi selai nanas ini ternyata menyimpan filosofi mendalam yang melampaui kenikmatan rasanya.

Asal-usul dan Makna Nastar

Kata "nastar" berasal dari bahasa Belanda, yaitu gabungan kata "ananas" yang berarti nanas dan "taart" yang berarti tart atau kue pai.

Awalnya, nastar merupakan adaptasi dari kue pie Eropa yang diisi dengan selai nanas lokal, mencerminkan perpaduan budaya kuliner antara Belanda dan Indonesia.

Transformasi ini menggambarkan adaptasi dan harmonisasi budaya dalam tradisi kuliner Indonesia.

Dalam budaya Tionghoa, nastar dikenal sebagai "ong lai" yang secara harfiah berarti "pir emas".

Buah nanas dalam konteks ini melambangkan kemakmuran, rezeki, dan keberuntungan.

Warna kuning keemasan dari kue nastar semakin memperkuat simbolisasi tersebut, menjadikannya hidangan yang sarat akan doa dan harapan baik bagi siapa saja yang menyantapnya.

Nastar dalam Tradisi Lebaran

Lebaran di Indonesia identik dengan tradisi saling berkunjung dan menjalin silaturahmi.

Dalam momen ini, nastar tidak hanya berperan sebagai kudapan manis, tetapi juga sebagai simbol kebersamaan dan kehangatan keluarga.

Proses pembuatan nastar yang sering dilakukan bersama-sama oleh anggota keluarga menciptakan momen berharga yang mempererat ikatan antaranggota keluarga.

Selain itu, nastar sering dijadikan pilihan utama untuk bingkisan Lebaran.

Memberikan nastar kepada sanak saudara, teman, dan kolega melambangkan doa baik dan harapan akan kemakmuran bagi penerimanya.

Tradisi ini memperkuat nilai-nilai berbagi dan kepedulian sosial yang menjadi inti dari perayaan Idulfitri.

Lebih dari Sekadar Kue

Nastar bukan sekadar kue kering biasa. Di balik teksturnya yang lembut dan rasa manis asam yang khas, tersimpan makna mendalam tentang harapan, kebersamaan, dan kasih sayang.

Kehadirannya dalam setiap perayaan Lebaran menjadi pengingat akan pentingnya menjaga hubungan baik, berbagi kebahagiaan, dan mendoakan kesejahteraan bagi sesama.​

Dengan demikian, menikmati nastar saat Lebaran bukan hanya memanjakan lidah, tetapi juga merayakan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

Kue kecil ini mengajarkan kita bahwa dalam kesederhanaannya, terdapat kekayaan makna yang memperkaya tradisi dan budaya kita. (Talita)

Editor : Aditya Novrian
#hari raya iduk fitri #filosofi #lebaran #nastar