JAKARTA, RADAR MALANG - Menteri Perdagangan Budi Santoso mengakui adanya tren kenaikan harga minyak goreng kemasan pemerintah, "Minyakita" yang kini mulai melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) di berbagai pasar tradisional.
Faktor utama penyebab lonjakan ini adalah kenaikan harga biji plastik di tingkat hulu yang berdampak langsung pada membengkaknya biaya produksi kemasan minyak goreng.
Baca Juga: Semakin Erat! Dubes Rusia Sergey Tolchenov Tegaskan Dukungan Energi dan Antariksa untuk Indonesia
"Ketersediaan minyak sebenarnya tidak ada masalah, namun faktor harga plastik di hulu ini yang harus segera kami selesaikan dengan produsen," ungkap Budi Santoso dalam keterangannya pada Rabu (22/4/2026).
Baca Juga: Redam Lonjakan Harga Plastik, Menteri Airlangga Umumkan Hapus Bea Masuk LPG serta Bahan Baku Polimer
Saat ini, harga Minyakita di tingkat pengecer terpantau naik dari Rp18.000 menjadi Rp20.000 per liter, bahkan menyentuh Rp23.000 di beberapa wilayah luar Jawa.
Kondisi ini memicu efek domino bagi para pelaku UMKM, seperti pedagang tahu goreng yang terpaksa mengurangi ukuran produk demi menekan biaya produksi yang membengkak.
Selain harga yang meroket, stok Minyakita di pasaran juga dilaporkan mulai langka akibat berkurangnya pasokan dari pihak distributor pasca libur Idul Fitri.
Baca Juga: Megawati Soekarnoputri Soal Kasus Andre Yunus: "Jangan Gunakan Hukum untuk Intimidasi"
Masyarakat kini mulai beralih kembali ke minyak goreng curah meskipun harganya juga ikut merangkak naik ke angka Rp22.000 per kilogram.
Para pedagang dan konsumen berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga kemasan dan distribusi agar daya beli masyarakat kembali normal.
Baca Juga: QRIS Resmi Merambah Jepang dan Tiongkok, Digitalisasi Rupiah Tembus Pasar Global
Jika tidak segera ditangani, kenaikan ini dikhawatirkan akan memicu inflasi pada komoditas pangan lainnya di kuartal kedua tahun ini.
Editor : Aditya Novrian