PAPUA TENGAH, RADAR MALANG - Sebuah kabar duka mendalam menyelimuti bumi Papua saat Nalince Wamang, seorang pelajar yang baru saja lulus SMK tewas tertembak dalam operasi militer di kawasan Tembagapura, Papua Tengah, Kamis (7/5/2026) malam.
Nalince, yang memiliki impian besar untuk melanjutkan pendidikan ke bangku perkuliahan, justru harus meregang nyawa di tangan peluru saat sedang mendulang emas demi mencari biaya sekolah bersama keluarganya.
Baca Juga: MPR Akui Khilaf: Final LCC Empat Pilar Kalbar Diulang akibat Skandal Penilaian
Kepergiannya meninggalkan luka menganga dan tuntutan keadilan yang membubung tinggi dari pihak keluarga terhadap transparansi institusi TNI.
Peristiwa memilukan ini memicu kemarahan publik setelah korban disebut-sebut masuk dalam daftar orang yang tewas dalam operasi keamanan, padahal keluarga dengan tegas menyatakan Nalince hanyalah warga sipil.
Baca Juga: IKN Belum Siap? Mahkamah Konstitusi Tolak Gugatan UU IKN, Jakarta Tetap Jadi Ibu Kota Indonesia
Di tengah kegelapan hutan Tembagapura, semangat seorang anak muda untuk mengubah nasib keluarga lewat pendidikan justru dibalas dengan kekerasan senjata yang mematikan.
Pihak keluarga mendesak agar TNI membuka tabir kebenaran atas insiden ini karena mereka yakin Nalince tidak terlibat dalam kelompok kriminal mana pun.
Baca Juga: Dikhianati Sistem? Nadiem Makarim Dituntut 18 Tahun Penjara Atas Tuduhan Korupsi Chromebook
Tangisan Keluarga: Hilangnya Harapan dan Biaya Kuliah
"Dia baru lulus SMK dan sangat ingin kuliah, itulah alasan kami pergi mendulang emas," ungkap salah satu anggota keluarga dengan nada suara yang bergetar menahan kesedihan.
Pengabdian seorang anak yang ingin meringankan beban orang tua justru berujung pada peti mati, menciptakan rasa "patah hati" yang luar biasa bagi masyarakat sipil di Papua.
Baca Juga: Tragis! Mobil SPPG Tabrak Lapak PKL di Bekasi, Satu Pedagang Dikabarkan Tewas
Kematian Nalince menjadi simbol betapa murahnya nyawa manusia di daerah konflik, di mana mimpi seorang inovator masa depan bisa dipadamkan begitu saja oleh sistem yang dianggap tidak presisi.
Editor : Aditya Novrian