JAKARTA, RADAR MALANG – Anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dipangkas dari Rp335 triliun menjadi Rp268 triliun. Tahun ini, pemangkasan mulai berdampak pada pelaksanaan program di lapangan.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mengungkapkan, pemangkasan anggaran tersebut memicu pengurangan frekuensi distribusi MBG untuk anak sekolah, yang awalnya enam hari akan menjadi lima hari seminggu.
Langkah tersebut diambil guna menerapkan prinsip hemat, mengingat gejolak global dan arahan Presiden Prabowo.
“Sejak adanya krisis global terutama gejolak di Selat Hormuz, (kami) telah melakukan konsolidasi sesuai arahan Presiden dengan melakukan langkah penghematan,” kata Dadan, Jumat (22/5).
Pengurangan frekuensi distribusi MBG akan berlaku untuk seluruh sekolah dan diseluruh wilayah, namun tidak berlaku kepada sekolah yang masih menerapkan enam hari belajar, termasuk sekolah di daerah tertinggal, terdepan, terluar (3T), dan wilayah dengan frekuensi stunting tinggi.
Pembatasan juga dilakukan saat weekend atau libur sekolah. Ia menjelaskan, nantinya pendistribusian MBG di hari libur sekolah akan diberikan kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
“Pelayanan di hari libur sekolah hanya untuk kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita,” kata Dadan.
Perlu diketahui sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan akan memangkas anggaran MBG yang semula Rp335 triliun menjadi Rp268 triliun pada tahun 2026.
Pemangkasan tersebut merupakan bagian dari Upaya pemerintah guna memperbaiki tata kelola program MBG agar dapat lebih efektif dan efisien.
Langkah penghematan ini dilakukan atas instruksi Presiden Prabowo. Purbaya mengatakan, saat ini Presiden sedang mengupayakan perbaikan manajemen program MBG.
"Presiden sedang memperbaiki manajemen MBG dan cara mereka (BGN) membelanjakan uang," kata Purbaya dalam konferensi pers APBN Kita di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (19/5).
Editor : Aditya Novrian