Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Bank Indonesia Beberkan Pemicu Merosotnya Nilai Tukar Rupiah

Fitri Cahya Dwi Anggriani • Jumat, 5 Juni 2026 | 00:00 WIB
Kembali Anjlok! Nilai tukar rupiah mencapai Rp18.000 per dolar AS. BI ungkap ketegangan antara AS dan Iran menjadi penyebab utama. (Sumber: Unsplash).
Kembali Anjlok! Nilai tukar rupiah mencapai Rp18.000 per dolar AS. BI ungkap ketegangan antara AS dan Iran menjadi penyebab utama. (Sumber: Unsplash).

JAKARTA, RADAR MALANG – Nilai tukar rupiah kembali merosot mencapai Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada sektor perdagangan, Kamis (4/6). Mata uang Indonesia berada di posisi Rp18.015$ atau melemah 0,42%.

Pihak Bank Indonesia (BI) membeberkan pemicu melemahnya nilai tukar rupiah yang disebabkan oleh meningkatnya ketegangan antara AS dengan Iran.

Destry Damayanti selaku Deputi Gubernur Senior BI mengungkapkan bahwa ketegangan yang kian memanas di Timur Tengah berpotensi menahan minyak mentah dunia di level tinggi yang menyebabkan harga minyak dunia semakin meroket. Situasi tersebut memperbesar risiko tekanan inflasi global sekaligus memicu hengkangnya modal asing dari pasar negara berkembang termasuk Indonesia.

Baca Juga: Rupiah Hari Ini Tembus Rp17.672 per Dolar AS, Ini Daftar Barang yang Terancam Naik Harganya

"Pelemahan nilai tukar masih dipengaruhi oleh tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali tereskalasi dan menghambat prospek damai," ujar Destry dalam keterangannya, Kamis (4/6).

Faktor internal turut menjadi penyebab merosotnya nilai tukar rupiah. Destry menilai, tingginya kebutuhan valuta asing yang ada di Indonesia menjadi tekanan tersendiri terhadap nilai tukar rupiah.

Meski demikian, pihak BI berkomitmen untuk tetap menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di perdagangan guna memitigasi fluktuasi rupiah, memastikan mekanisme pasar tetap berjalan dengan baik, sekaligus menjaga pergerakan rupiah tetap sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia.

Baca Juga: Kejagung Beberkan Sejumlah Temuan Korupsi Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Dkk

Oleh karena itu, BI akan mengambil langkah strategis melalui optimalisasi instrument intervensi. Langkat tersebut dilakukan demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Sebagai informasi, dolar AS masih bertahan di tingkat level tertingginya dalam dua bulan terakhir. Peningkatan tersebut dipicu adanya ketegangan di kawasan Teluk yang semakin memanas.

Tercatat pada Kamis (4/6), dolar AS menunjukkan keperkasaannya seiring mencuatnya ketegangan baru di kawasan Teluk yang mengerek naik harga minyak dunia. Hal tersebut berdampak pada para pelaku pasar global untuk menahan diri dan menjauhi aset berisiko.

Baca Juga: Cara Menghitung Gaji Bersih dan Potongan di Indonesia

Lonjakan harga minyak dunia ini jelas menyulitkan Indonesia sebagai negara pengimpor minyak. Ketika harga minyak mengalami kenaikan, Risiko inflasi dan pembengkakan belanja negara otomatis akan turut meningkat.

Hal tersebut membuat investor global memilih menarik modalnya dari pasar Indonesia. Inilah yang menjadi pemicu rupiah terus melemah.

 

Editor : Aditya Novrian
#18.000 #dolar as #bank indonesia #rupiah melemah