”Ini kesalahan teknis. Saya wakil bupati dan bupati serta kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo mohon maaf kepada seluruh masyarakat Sidoarjo. Ini kesalahan teknis. Besok sudah kami revisi. Mudah-mudahan jangan sampai seperti ini. Ini kesalahan teknis saja,” katanya seperti dilansir dari Jawapos, Jumat (2/4).
Baca juga : Vaksinasi Lansia di RS Lavalette Malang Lebih Heboh, Ini Sebabnya
Subandi menyatakan telah berkoordinasi dengan dinkes. Kejadian itu menjadi pelajaran sehingga peristiwa serupa tidak terjadi. Selain itu, dicari formulasi yang pas agar tidak timbul keributan berkepanjangan.
”Kami harapkan nanti vaksinasi dilaksanakan setiap desa. (Puskesmas, Red) yang lain mengikuti sistem desa masing-masing. Ini hanya Puskesmas Sidoarjo yang seperti ini,” ujar Subandi.
Ke depan, Subandi berpesan agar tidak terjadi antrean warga yang berjubel dan berkerumun. ”Karena (berjubel) seperti ini risiko tinggi. Niat kami itu memberikan pelayanan vaksinasi kepada masyarakat agar tidak terkena Covid-19. Tapi, berjubel seperti ini berbahaya,” tegas Subandi.
Dia ingin sistem vaksinasi seperti di puskesmas lain bisa dijalankan. Tidak ada antrean yang mengular. Pembagian jadwal harus jelas. Tanpa memegang kartu antrean pun, warga tetap mendapatkan suntikan vaksin. Jangan sampai lansia yang sudah berumur harus bolak-balik ke puskesmas setiap hari.
Sumber: Jawa Pos Editor : Shuvia Rahma