Dilansir dari Jawa Pos Jumat (11/6), Wakil Bupati Sangihe Helmud Hontong meninggal dunia sekitar pukul 16.22 WITA. Saat itu pesawat yang ditumpangi sedang dlaam perjalanan menuju transit di Bandara Sultan Hasanudin.
Terkait kematian Helmut, Ajudan Wabup Harmen Rivaldi Kontu mengatakan bahwa Helmud sempat memberitahukan kepadanya jika dia merasa pusing. Pada saat itu, dia diminta untuk menggosokkan minyak kayu putih di bagian belakang dan leher.
”Sekitar 5 menit itu saya lihat bapak langsung tersandar. Saya panggil dan kore-kore (colek) namun sudah tidak ada respons lagi. Saya langsung panggil pramugari, namun tetap bapak tidak ada respons. Kemudian keluar darah lewat mulut. Tak lama kemudian darah keluar dari hidung,” kata Harmen.
Kapolsek Bandara, Iptu Asep Widianto saat dikonfirmasi membenarkan hal itu. Asep juga mendapatkan informasi dari ajudannya saat mendampingi almarhum. Dia menerangkan bahwa pada saat keberangkatan kondisinya sehat dan tak ada gejala sakit.
”Jadi almarhum ini kan berangkat dari Denpasar menuju Manado tapi transit dulu di Makassar. Nah saat meninggalkan Denpasar kondisinya baik-baik saja,” jelas Asep.
Namun saat sudah berada di atas pesawat, tiba-tiba almarhum tidak sadarkan diri. ”Saat di pesawat almarhum tidak sadarkan diri. Kemudian batuk, mengeluarkan darah dari hidung dan mulut,” terang Asep.
Helmud Hontong merupakan seorang Politisi Partai Golkar merupakan pasangan dari Bupati Sangihe Jabes Gaghana. Jabes menerangkan bahwa semasa hidupnya Helmud menolak adanya aktivitas pertambangan emas di Kabupaten Kepulauan Sangihe.
Bahkan sebelum diberitakan meninggal dunia, dia sempat mengirim surat permohonan pembatalan izin operasi pertambangan emas di wilayahnya. ”Iya, Pak Wakil Bupati memang bikin surat (tolak tambang), namun saya belum melihat suratnya,” kata Jabes.
Sementara itu di media sosial Twitter ramai beredar surat permohonan pembatalan izin operasi pertambangan emas di Kepualauan Sangihe yang ditandatangani oleh Helmud pada 28 April 2021 lalu. Praktis, spekulasi dari kalangan warganet pun bermunculan dan langsung menyangkut pautkan kematian tersebut dengan polemik itu.
Surat yang beredar diketahui ditujukan ke Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif. Sebagai catatan, PT Tambang Mas Sangihe (TMS) merupakan gabungan dari beberapa perusahaan Kanada dan Indonesia. Pemegang saham mayoritas (70 persen) adalah perusahaan Kanada, Sangihe Gold Corporation. Hingga berita ini di unggah, belum ada kepastian terkait teka-teki meninggalnya Wabup Sangihe tersebut.
Penulis : Fanda Yusnia Editor : Farik Fajarwati