Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Buangdisini, Satu-satunya Startup Asal Malang yang Diundang Ke B20 dan O20

Mardi Sampurno • Selasa, 22 November 2022 | 04:24 WIB
MOMEN MEMBANGGAKAN: CEO dan Founder Buangdisini Rheza Varianto (tiga dari kanan) bersama seluruh stafnya saat menghadiri forum B20 di Bali. (BUANGDISINI FOR RADAR MALANG)
MOMEN MEMBANGGAKAN: CEO dan Founder Buangdisini Rheza Varianto (tiga dari kanan) bersama seluruh stafnya saat menghadiri forum B20 di Bali. (BUANGDISINI FOR RADAR MALANG)
PENGOLAHAN SAMPAHNYA DILIRIK PERUSAHAAN HINGGA KAMPUS LN

INDONESIA baru saja menikmati euforia kedatangan para pemimpin negara dalam forum G20 di Bali. Dalam forum itu ternyata ada startup asli Kota Malang turut menjadi bagian dari side event. Namanya Buangdisini. Mereka diundang untuk menghadiri forum B20 dan 020 karena memiliki keistimewaan sistem pengolahan sampah.

Keseruan dalam menghadiri dua forum internasional itu dituturkan CEO dan Founder Startup Buangdisini, Rheza Varianto Yudhistira. Dengan antusias dia menceritakan pengalaman tak terduga yang baru saja menambah catatan emas Buangdisini. Selama bercerita, Rheza sesekali menunjukkan foto dengan para public figure nasional, seperti Sandiaga Uno, Anindiya Bakrie, hingga Ilham Habibie.

Alhamdulillah kami sebagai satu-satunya startup di Kota Malang yang diundang ke forum B20. Lalu Buangdisini juga mewakili Indonesia bersama startup asal Bali mengikuti seremonial peresmian Ocean 20,” jelas pria berkacamata itu.

Tentu saja hal itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Buangdisini. Sebab, B20 merupakan salah satu kelompok keterlibatan yang paling menonjol dalam G20. Tugasnya merumuskan rekomendasi kebijakan tentang isu-isu yang telah ditentukan, kemudian disampaikan kepada presidensi G20. Sementara O20 merupakan wadah bagi perusahaan global di dunia dan negaranegara anggota G20 untuk membuat dan mewujudkan komitmen bersama menuju laut yang berkelanjutan, inklusif, dan memanfaatkan peluang pasar dalam ekonomi kelautan.

Keterlibatan Buangdisini dalam dua forum internasional itu terjadi berkat peran startup asal Amerika, Endeavor. Perusahaan itu memberikan kode referral bagi Buangdisini pada 10 Oktober 2022. Lalu, pada 25 Oktober 2022, Buangdisini dinyatakan terpilih sebagai partisipan dalam forum B20. Tak disangka, pada 7 November juga mendapatkan kode referral untuk mengikuti forum O20.

“Kami datang ke sana dengan rasa nasionalisme dan kebanggaan yang luar biasa. Bener-bener nggak nyangka. Kalau menceritakan lagi pasti merinding,” jelas Alumnus Universitas Prasetia Mulya Jakarta itu.

Di dua forum itu, Buangdisini membawa solusi tentang permasalahan penanganan sampah plastik. Di antaranya, para pengumpul sampah bisa langsung menjual sampah plastik ke pabrik. Dampaknya, para pengumpul sampah bisa meningkatkan pendapatan mereka.

Metode seperti itu sudah dilakukan Buangdisini bagi pengumpul sampah di Malang. Sampah plastik diolah menjadi cacahan, lalu disetorkan ke pabrik daur ulang botol PT Veolia Services Indonesia. “Dalam data kami, saat ini ada hampir 816 mitra atau yang kami sebut changer. Mereka sudah mendapatkan peningkatan pendapatan dari hanya Rp 1 juta per bulan hingga Rp 3 juta per bulan,” tutur Rheza.

Terobosan pengolahan sampah plastik itu menarik perhatian perusahaan hingga akademisi internasional. Di forum B20, mereka ingin segera melakukan kerja sama dengan Buangdisini. Kalangan kampus yang sudah tertarik ada dua, Yakni Universitas Nottingham dari Inggris dan Universitas Deakin dari Australia.

Ada juga yang sudah menawarkan kerja sama suplai material plastik daur ulang. Di antaranya dari Nike, Danone, Coca-Cola, Bain Company, hingga Pan Brothers. Sementara tawaran investasi datang dari The Alliance.

“Apalagi dari hasil G20 kemarin, The Alliance siap mengatasi sampah di Indonesia. Itu semua dimulai tahap 1 di Malang,” sebut pria 29 tahun itu. Maka, saat mengetahui Buangdisini berasal dari Kota Malang, The Alliance ingin segara melakukan MoU dengan Buangdisini.

Rheza menambahkan, di forum G20, Buangdisini sengaja tidak membuka booth di arena pameran. Mereka memilih menayangkan program dan aktivitas secara digital. Alhasil, di setiap kegiatan yang diselenggarakan di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC) itu, dia beserta 7 staf lain harus jemput bola. Mengenalkan lebih jauh tentang Buangdisini kepada tamu undangan yang hadir dari satu bangku ke bangku lain

“Secara nggak langsung cara ini juga melatih public speaking semua staf. Intinya memberikan manfaat yang besar bagi kami,” tegas pria berzodiak Capricorn itu.

Dia juga merasa senang bahwa semua kegiatan yang dilakukan di Bali sudah sesuai dengan target atau goals yang ditetapkan sebelum berangkat. Bagi dia, goal yang paling penting adalah perubahan cara pandang terhadap apa pun di dunia. Karena pertemuan dengan orang dari berbagai negara dengan pola pikir yang beraneka ragam pasti berdampak pada luasnya wawasan.

Satu hal lain yang dia tekankan dari kesempatan terlibat dalam forum level tinggi, yakni menjadi validasi bahwa SDM Kota Malang bisa berkolaborasi di kancah internasional. “Kita ingin memberi tahu bahwa sampah memiliki dua manfaat dari segi ekonomi maupun lingkungan,” tutup ayah satu anak itu.

Sementara itu, sejak berdiri pada 2017 lalu, startup Buangdisini memang sudah meraih berbagai penghargaan. Diawali penghargaan dari Google untuk Pengusaha dan Kemenkominfo dalam 1001 Startup Awardee (2017), lalu Startup Acceleration dari Kemenristekdikti (2018), Young Entrepreneur Startup Universitas Brawijaya (2019), dan Gita Award by Eramus+Programme of The European Union (2020). Awal tahun ini, Buangdisini diganjar penghargaan oleh Bank Indonesia sebagai juara kedua untuk Techcibition Bank Indonesia. (*/fat) Editor : Mardi Sampurno
#G20 #Startup Malang #Perusahaan pengelola sampah #Startup Malang Buangdisini