SURABAYA – Sebanyak 286 siswa MI Al Karim Surabaya menjalani pemeriksaan gigi dan mata kemarin (6/11).
Upaya tersebut dilakukan untuk deteksi dini masalah kesehatan pada anak agar tidak mengganggu kegiatan belajar-mengajar di Surabaya.
Menurut drg Rahmad Adi PPW, dokter yang bertugas di Puskesmas Sidosermo, Surabaya, pihaknya menemukan banyak kasus gigi susu persisten.
Hal itu terjadi ketika gigi dewasa sudah tumbuh tetapi gigi susu belum tanggal.
Kondisi tersebut menyebabkan gigi tumbuh berjejal dan sulit dibersihkan.
’’Banyak orang tua membiarkan gigi susu anaknya tanggal sendiri, padahal seharusnya dicabut,’’ ujarnya kemarin (6/11).
Dari 286 siswa yang diperiksa, sebanyak 11 murid dirujuk untuk mendapatkan perawatan gigi lebih lanjut di Puskesmas Sidosermo.
’’Terhitung banyak yang terjaring, menunjukkan kurangnya perhatian orang tua terhadap kesehatan gigi anak,’’ tambah Rahmad.
Selain gigi, masalah penglihatan juga menjadi perhatian.
Sebab, anak-anak sering tidak menyadari jika memiliki gangguan penglihatan seperti minus atau buta warna.
Di Sidosermo, program deteksi dini ini mencakup 47 sekolah lain di sekitar MI Al Karim.
Menurut Rahmad, deteksi dini sangat penting.
Jika masalah mata terdeteksi lebih awal, siswa bisa segera mendapat bantuan seperti kacamata.
Dengan begitu, siswa tidak terganggu dalam belajar.
’’Jika buta warna terdeteksi sejak dini, anak dapat diarahkan ke jurusan atau profesi yang sesuai saat dewasa, menghindari bidang seperti kedokteran,’’ tambahnya. (dya/ai/adn)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana