Dilansir dari CNN World Minggu (23/5), lomba maraton di dataran tinggi Gunung Huanghe Shilin dimulai pada Sabtu pagi dalam kondisi cerah. Namun, pada jam 1 siang waktu setempat, kondisi cuaca berubah dengan turunnya hujan dingin yang membekukan, hujan batu serta angin kencang yang menghantam para pelari di Gansu County, menurut media lokal yang dikelola pemerintah.
Saat suhu turun di Yellow River Stone Forest, pelari mulai dilaporkan menderita hipotermia, sementara yang lain hilang dan belum ditemukan.
Penyelenggara maraton membatalkan perlombaan dan meluncurkan regu pencarian yang terdiri dari 1.200 orang untuk menjelajahi medan yang rumit.
"Pada satu titik, saya tidak bisa merasakan jari-jari saya (karena sangat dingin). Pada saat yang sama lidah saya juga terasa beku," ujar salah satu pelarian yang tidak disebutkan namanya dan mengatakan dia memutuskan untuk meninggalkan balapan.
"Saya mundur kembali dan menuruni gunung, lalu memasuki kabin kayu atas petunjuk penyelamat. Sudah ada sekitar 10 pelari lagi yang turun lebih awal dan kami menunggu penyelamatan di kabin selama sekitar satu jam. Akhirnya sekitar 50 pelari datang dan berlindung di kabin. "
Hingga Minggu pagi, 151 dari 172 peserta lomba telah dipastikan aman, dengan delapan di rumah sakit. 21 lainnya ditemukan tewas, menurut People's Daily.
Jarak perlombaan lari tersebut berjarak 100 kilometer lebih, dua kali lipat jarak maraton standar.
Penulis: Talitha Azmi F.
Editor : Ahmad Yani