MALANG KOTA - Apakah Arema FC bubar? Itu yang menjadi pertanyaan publik Aremania belakangan.
Sebab, manajemen Singo Edan mulai membuka opsi membubarkan tim. Senin siang, 31 Januari 2023, ratusan pendukung Arema FC berkumpul di Kandang Singa, Kota Malang.
Mereka pun memberi pernyataan sikap atas pertanyaan apakah Arema FC bubar. Suporter tim berlogo singa menggelar rapat koordinasi terbuka.
Komisaris PT Arema Aremania Bersatu Berprestasi Indonesia (AABBI) Tatang Dwi Arifianto juga hadir.
Ada beberapa hal yang disepakati dalam pertemuan itu. Salah satunya, ratusan Aremania berharap Tim Singo Edan tidak dibubarkan.
Menyikapi permintaan itu, Tatang berjanji bakal mengupayakannya. Langkah terdekat yang akan dilakukan yakni berkoordinasi dengan direksi klub.
”Saya akan meminta (ke direksi) agar tim ini tetap eksis,” kata pria berusia 45 tahun tersebut.
Dia memperkirakan, jawaban pertanyaan apakah Arema FC bubar disampaikan satu dua hari lagi.
Kepada Jawa Pos Radar Malang, dia mengaku sudah menyampaikan secara lisan sikap dari Aremania itu kepada direksi klub.
”Saya sudah melaporkannya ke bapak Iwan Budianto,” tuturnya.
Tatang menyebut bila pria yang akrab disapa IB itu tidak bisa hadir karena ada kegiatan di luar kota, kemarin. Tepatnya di Jakarta.
Dari pengamatan, Aremania mendasarkan permintaan agar tim Arema FC tidak bubar dengan beberapa argumen.
Contohnya, Amin Fals, Aremania asal Sukorejo, Pasuruan. Dia datang ke kantor Arema FC sejak pagi.
Aremania Sukorejo itu dengan tegas menolak bila perjalanan Singo Edan di kompetisi harus berakhir.
”Apa yang kami banggakan bila Arema FC bubar,” kata dia.
Baca Juga : Ricuh Demo Arek Malang Bersikap, Enam Alami Luka-Luka
Pria ini sudah menyukai Arema sejak duduk di bangku SD. Singo Edan sudah seperti sebuah identitas.
Karena itu, Aremania mengaku kecewa dengan pernyataan manajemen. Dia tidak sepakat dengan opsi membubarkan tim.
Iin, Aremania Dinoyo juga menyatakan hal serupa. Dia memprediksi bakal banyak efek yang terjadi jika Arema FC bubar.
Salah satunya berefek pada sektor ekonomi. Khususnya pelaku UMKM yang selama ini berkaitan dengan Arema FC.
”Kalau klub ini bubar, bagaimana nasib mereka,” kata dia. Karena itulah, kemarin dia ikut datang untuk menyatakan sikap.
Sementara itu, Manajer Arema FC Wiebie Dwi Andriyas juga mengungkapkan hal serupa.
Menurut dia, seluruh elemen tim juga tidak menghendaki manajemen untuk mengambil langkah tersebut.
”Saya mendorong itu tidak dilakukan. Karena itu saya terus berkomunikasi dengan jajaran manajemen,” kata Owner NZR Grup ini.
Manajer Arema FC mengakui bila opsi membubarkan tim membuat elemen tim bertanya-tanya.
Semua mulai panik bila langkah tersebut benar-benar diambil.
Berangkat dari kondisi itu, dia mengaku bahagia saat direksi klub akan mempertimbangkan lagi keputusannya. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
Dalam kesempatan kemarin, ratusan Aremania juga bergotong-royong mengembalikan logo Arema FC ke posisi semula.
Seperti diketahui, logo tim itu sempat rusak saat terjadi kerusuhan, Minggu lalu (29/1).
Logo tim Arema FC hancur setelah diinjak-injak massa. Lalu setelah dibakar.
Informasi yang diterima wartawan media ini, logo tersebut dibuat dengan biaya patungan dari Aremania.
Mereka mengumpulkan uang secara sukarela demi membuat simbol klub Arema FC tersebut.
Kemarin, logo itu sudah kembali dipasang. Posisinya terletak di sebelah kiri store tim.
Proses pemasangannya diiringi chant yang dikumandangkan Aremania.
Yuli Sumpil menyebut bila logo Tim Arema FC itu merupakan simbol sakral.
Karena itu, saat mendengar logo itu dirusak, secara pribadi dia mengaku kecewa dan sakit hati.
”Aremania telah mengorbankan jiwa raganya untuk logo ini,” kata Dirigen Aremania itu.
Dia menyebut bila kampanye usut tuntas harus dilakukan dengan benar. Tidak dilakukan dengan merusak sampai membakar logo tim Arema FC.
Sebab menurutnya, simbol tersebut tidak salah. ”Apa pun alasannya, yang merusak itu hal yang salah,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, dia mengaku tidak menyimpan dendam. Dia hanya berharap ke depan Malang tetap kondusif, dan tidak terpecah belah.
”Mari kita jaga kebersamaan. Kita jaga usut tuntas sampai tuntas,” imbuhnya.
Bagi Yuli, yang perlu terus diperjuangkan adalah mereka yang menjadi korban, dan para keluarga korban. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
Dalam rapat koordinasi terbuka di kantor Arema FC kemarin, sejumlah keluarga korban juga ambil bagian.
Salah satunya yakni Rini Hanifah, ibu dari korban meninggal bernama Agus Rianshah, warga Purwosari, Pasuruan.
Ada juga Juariyah, ibu dari korban bernama Sfwa Dinar dari Muharto. Keduanya memberi dukungan agar Arema FC tetap eksis.
”Anak saya kehilangan nyawa gara-gara Arema, masa Arema mau bubar,” kata Rini sambil meneteskan air mata.
Dia juga berharap Aremania tidak mudah terpecah belah.
”Jangan mau dipecah belah. Saya itu mangkel, demi Allah saya sedih kalau Arema dijelek-jelekkan,” sambungnya.
Senada dengan Rini, Juariah juga mencurahkan isi hatinya di hadapan komisaris Arema FC Tatang Dwi Arifianto.
”Saya mau tetap usut tuntas. Korban-korban sudah kehilangan nyawanya untuk Arema, jangan sampai bubar. Arema harus tetap berjalan,” tegas Juariah. (gp/by) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana