RADAR MALANG - Selain Prabowo dan Mulyono, Ahmed Al-Kaf menjadi sosok yang tenar akhir-akhir ini.
Yang mengikuti perjalanan timnas tentu tahu apa yang membuat wasit asal Oman itu terkenal.
Bagi yang mungkin belum tahu, sejak 2015, wasit kelahiran 6 Maret 1983 itu sudah memimpin laga Timnas Bahrain sebanyak empat kali. Rekornya, Timnas Bahrain tak pernah kalah.
Laga antara Timnas Bahrain melawan Timnas Indonesia, 10 Oktober lalu, adalah laga yang keempat.
Hasil imbang dari pertandingan itu lebih baik ketimbang sebelumsebelumnya.
Timnas Yaman, Uni Emirat Arab, dan Malaysia bernasib lebih buruk.
Mereka sama-sama kalah saat menghadapi Bahrain di bawah kepemimpinan wasit Ahmed.
Meski punya track record buruk di mata fans timnas, sudah sepatutnya kita berterima kasih kepada Ahmed Al-Kaf.
Dia menjadi lakon utama yang muncul untuk menyatukan rakyat sepak bola di Indonesia.
Tanpa ada komando, netizen yang mengatasnamakan warga +62 kompak menyerang sejumlah akun media sosial.
Di Instagram tak ditemui lagi akun aslinya.
Media sosial Timnas Bahrain dan AFC juga tak luput dari serangan.
Akun Timnas Oman pun terimbas setelah mengeluarkan statement pembelaan terhadap Ahmed Al-Kaf.
Ribuan komentar juga memenuhi akun Instagram FIFA.
Serangan-serangan itu membuat Timnas Bahrain ketakutan untuk tampil tandang di Stadion Gelora Bung Karno (GBK).
Peretasan website dan media sosial, serta ancaman menjadi dalih mereka untuk meminta Asian Football Confederation (AFC) memindahkan venue ke tempat yang lebih aman.
Aman menurut mereka. Fenomena itu menjadi bukti yang kesekian kalinya bahwa sepak bola tak hanya pertandingan 2 x 45 menit.
Sudah lama sepak bola menjadi bahasa tersendiri.
Bersama musik, dia lah bahasa yang paling universal di dunia.
Karena itu, sulit untuk memisahkan sepak bola dengan politik, yang juga memiliki bahasa tersendiri.
Misi itu pula lah yang mendorong Soeratin Sosrosoegondo untuk menginisiasi terbentuknya federasi sepak bola di Indonesia.
Dengan semangat sumpah pemuda pada 1928, dia percaya bila sepak bola bisa menjadi bahasa dan alat pemersatu.
Juga menjadi ajang untuk mengangkat derajat bangsa di mata dunia.
Soeratin merelakan hidup berkecukupan ketika bekerja di perusahaan bangunan Belanda, Sizten en Lausada.
Dia memilih berjuang lewat federasi sepak bola dengan menjadi Ketua PSSI 1930 sampai 1940.
Pada masa kepemimpinannya, Timnas Indonesia atau yang dulu bernama Timnas Hindia Belanda, bisa masuk Piala Dunia 1938 di Prancis.
Saat itu, PSSI di bawah pimpinan Soeratin memang tidak mengikutsertakan pemain ke Tim Hindia Belanda.
Itu sebagai bentuk protes karena sebelumnya Soeratin ingin ada satu turnamen antara kedua kesebelasan untuk menentukan wakil Tim Hindia Belanda.
Bentuk perlawanan itu patut diapresiasi.
Lagi-lagi sepak bola menjadi alat untuk memprotes kebijakan yang saat itu dikuasai pemerintah Belanda.
Meski tak ada pemain dari PSSI, tetap ada wakil pribumi di Piala Dunia 1938.
Ditambah pemain asal Belanda dan keturunan Tionghoa.
Piala Dunia 1938 itu hanya diikuti 15 Tim.
Memang sedikit, karena saat itu perang masih berkecamuk.
Indonesia kalah 0-6 atas Timnas Hongaria pada putaran pertama.
Contoh sepak bola dijadikan alat perlawanan terjadi lagi pada 1974.
Timnas Israel yang sebelumnya menjadi salah satu pendiri AFC pada 1954, resmi dikeluarkan.
Sebelum itu, rentetan penolakan sudah terjadi berkali-kali.
Salah satunya saat Kualifikasi Piala Dunia 1958 zona AsiaAfrika.
Babak itu dimenangkan Israel tanpa melakoni laga.
Itu karena Timnas Turki, Sudan, Indonesia, dan Mesir menolak bertanding melawan mereka.
Israel pun otomatis menang WO (walkover).
Perjalanan Timnas Israel lolos pertama kali ke Piala Dunia 1970 juga diwarnai hal serupa.
Mereka hanya menang WO setelah Timnas Korea Utara menolak bertanding melawan mereka.
Negara-negara Arab dan Muslim juga banyak yang menolak bermain melawan Israel.
Puncaknya, Kuwait memprakarsai resolusi untuk mengeluarkan Israel dari AFC.
Hasilnya, 17 suara setuju, 13 suara tidak setuju, dan 6 lainnya abstain.
Pemungutan suara itu lah yang membuat Israel harus angkat kaki dari AFC pada 1974.
Bila saat itu politik tidak dimainkan dalam federasi sepak bola, apakah anda rela Israel masih menjadi bagian AFC?
Kalau saya jelas tidak.
Setelah dikeluarkan dari AFC, Israel bergabung dengan UEFA, federasi sepak bola negara-negara Eropa.
Mereka baru diterima sebagai anggota penuh pada 1994.
Contoh di lokal Malang sulit dipaparkan.
Terlebih sejak tragedi kelam pada 1 Oktober 2022 itu.
”Sepak bola di Malang tak akan seperti dulu lagi,” begitu kata salah satu rekan saya.
Kebanggaan mungkin sudah memudar, tapi tidak dengan perjuangan. (*)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana