Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Keluh Kesah Atlet Binaraga Kabupaten yang Viral karena Ayam Tiren

Bayu Mulya Putra • Senin, 12 Mei 2025 | 20:57 WIB

DIUNDANG DEDDY CORBUZIER: Pelatih Binaraga Kabupaten Malang Indra Khusnul (kiri) melakukan briefing bersama atlet-atletnya, beberapa hari lalu.
DIUNDANG DEDDY CORBUZIER: Pelatih Binaraga Kabupaten Malang Indra Khusnul (kiri) melakukan briefing bersama atlet-atletnya, beberapa hari lalu.

DERETAN motor terparkir di depan Heroes Gym di Kecamatan Lawang, Jumat lalu (9/5). Kendaraan-kendaraan itu milik atlet binaraga Kabupaten Malang yang sedang menjalani latihan di sana.

Setiap hari, mereka latihan sekitar pukul 19.00. Durasinya antara 45 sampai 60 menit. Intensitas latihan mereka memang ditingkatkan sebagai persiapan menyambut Porprov 2025.

”Atlet yang disiapkan Porprov ada 12. Sabtu (9/5) kami diundang ke Jakarta untuk podcast dengan Deddy Corbuzier. Dua atlet dan saya di sana sampai hari Selasa (13/5),” ujar Pelatih Binaraga Kabupaten Malang Indra Khusnul.

Indra mendapat undangan podcast tersebut pada Kamis lalu (8/5). Dia bersama dua atletnya mengiyakan tawaran dari salah satu konten podcast terbesar di Indonesia itu. Tujuan menghadiri undangan itu agar pemerintah bisa memberikan perhatian lebih kepada dunia olahraga.

Baca Juga: Anggaran Rp 60 Juta Untuk Cabor Binaraga Malang, Kadispora Tak Sadar Atlet Konsumsi Ayam Tiren

”Sebenarnya tidak binaraga saja yang susah (di Kabupaten Malang), hampir semua cabor (cabang olahraga) susah. Tetapi kendalanya berbedabeda,” tutur Indra.

Sorotan terhadap mereka mencuat setelah video viral atlet-atlet binaraga Kabupaten Malang yang dikabarkan mengonsumsi ayam sisa.

Beberapa menyebutnya ayam tiren. Indra tak menyangka video itu menjadi pembicaraan nasional. Padahal, awalnya video tersebut hanya berisi saling curhat sesama pelatih. Namun, tanpa diketahui, ada yang mengungahnya di internet.

”Karena itu banyak yang wawancara ke sini, dan akhirnya sedikit mengganggu persiapan dan psikis atlet. Sehingga sekarang sudah dibatasi, kalau wawancara lebih banyak ke saya, ke anak-anak hanya sifatnya konfirmasi,” jelas pria yang juga menjadi Ketua Persatuan Binaraga dan Fitness Indonesia (PBFI) Kabupaten Malang itu.

Baca Juga: Miris! Demi Asupan Protein, Atlet Binaraga Ini Makan Ayam Tiren karena Dana Tak Cair

Video makan ayam sisa itu seolah menjadi puncak gunung es. Indra dan atletnya tidak tahu harus bagaimana lagi agar mendapatkan perhatian yang layak.

Dengan target kembali menjadi juara umum, mereka hanya mendapat uang untuk latihan Rp 1 juta sampai Rp 1,45 juta per bulan Idealnya, per atlet membutuhkan dana operasional Rp 6 juta sampai Rp 7 juta per bulan. Sehingga selama bulan April, Indra harus nombok untuk kebutuhan atlet.

”Kesuksesan binaraga itu 70 persen dari asupan nutrisi dan latihan. Persiapan lainnya hanya 30 persen. Ketika nutrisi tidak bagus, otot mereka sulit terbentuk dengan sempurna,” terang Indra.

Sebagai contoh, untuk kebutuhan protein dan karbohidrat, per atlet butuh biaya sekitar Rp 3 juta per bulan. Dari angka itu saja, dana yang disediakan Pemkab Malang sudah kurang.

”Satu anak per hari butuh satu kilogram ayam dan harus bagian dada. Kemudian nasinya juga harus nasi merah,” imbuh dia.

Karena keterbatasan dana, mau tidak mau, mereka mengandalkan daging ayam sisa atau sudah expired. Umumnya adalah ayam yang tidak laku sehari sebelumnya.

Beberapa di antaranya merupakan pemberian dari pedagang di Pasar Lawang. Beberapa juga mereka beli. Meski sisa, mereka memilih kondisi yang lumayan bagus.

”Kami usahakan warna ungunya tidak terlalu banyak. Kalau banyak tentu tidak bisa dimakan. Alhamdulillah selama ini tidak ada yang keracunan,” kata bapak tiga anak itu.

Baca Juga: Binaraga Kabupaten Malang, Anggaran Hanya Penuhi 10 Persen Kebutuhan

Kebutuhan nutrisi atlet tidak hanya berupa karbohidrat dan protein saja. Mereka juga membutuhkan tambahan susu, suplemen, multivitamin, dan serat. Dan itu biayanya tidak sedikit, sekitar Rp 2 juta sampai Rp 3 juta per bulan.

”Kalau protein tidak ada serat, atletnya bisa ambeien. Butuh susu protein, kemudian suplemen untuk menguatkan sendi,” jelas Indra.

Karena banyaknya kebutuhan itu, pelatih dan atlet harus memutar otak. Tak hanya soal ayam yang harus diakali.

Suplemen kepada atlet pun kadang mereka harus menggunakan obat yang hampir atau sudah kedaluwarsa.

Baca Juga: Rekrut Atlet dari Nomor Indoor untuk Proyeksi Porprov

”Karena yang kedaluwarsa itu lebih murah, tidak gratis seperti ayam tiren, tapi cukup mengurangi beban biaya,” ucap pria asli Lawang itu.

Indra memahami jika anggaran Pemkab Malang terbatas. Hanya saja dia dan para atlet menyayangkan tidak ada langkah lain yang dilakukan pemerintah.

Seperti mengusahakan bapak asuh atau mengupayakan bantuan CSR (Corporate Social Responsibility) dari pelaku usaha swasta.

”Minimal ada surat rekomendasi dari Pemkab Malang untuk mendapat pendanaan dari swasta. Kalau kami tidak dapat rekomendasi, ya tidak dianggap sama perusahaan, itu yang saya alami,” beber Indra.

Dia mengaku sudah meminta surat rekomendasi ke pemkab. Namun belum ada respons hingga saat ini. (*/by)

Editor : Aditya Novrian
#keluh #atlet #Viral #latihan #binaraga