KABUPATEN - Penggawa Anyar Matheus Blade betah berkarier di Malang. Meski belum setahun, dia merasa tinggal di Bumi Arema jadi hal yang menyenangkan. Karena itu, dia tidak kesulitan untuk melakukan penyesuaian dengan lingkungan dan tim.
Pemain berusia 28 tahun itu bercerita, awalnya hanya mengetahui Jakarta sebagai salah satu daerah di Indonesia. Tempat itu dikenalnya cukup panas dan padat. Namun, dia mendapatkan kesan yang berbeda setelah berada di Malang,
”Kota ini mengejutkan saya, karena berbeda dengan apa yang pernah saya bayangkan sebelumnya,” katanya. Menurut Blade, hal tersebut yang membuatnya semakin yakin berlabuh dengan Singo Edan. Sebelum itu, ada beberapa tawaran yang datang kepadanya untuk membela klub Negeri Samba.
Blade juga cocok tinggal di Malang karena daerahnya hampir mirip kampung halamannya di Brasil. Dia tinggal di Cabo Frio. Salah satu wilayah yang berada di wilayah ibu kota Brasil Rio de Janeiro.
Tempat itu dikenal cukup dingin karena terletak di kawasan tanjung dan beberapa pegunungan. Karena itu, dia merasa seperti berada di rumah sendiri saat di Malang. ”Mungkin, saya hanya perlu beradaptasi dengan beberapa makanan di sini,” katanya.
Proses adaptasi lingkungan yang berjalan baik itu membuat Blade tidak kesulitan menyesuaikan diri dengan cuaca di Malang. Alhasil, mampu mengikuti latihan intens bersama Arema FC. Sejak awal bergabung, tidak pernah absen berlatih dan berlaga.
Sedangkan terkait adaptasi dengan skema permainan yang diusung Marcos Santos, eks pemain Esporte Clube Noroeste itu menjabarkan, tidak menemukan kendala berarti. Itu menyusul, tim pelatih menjelaskan detail terkait aspek teknis. Penggawa tim yang lebih dulu bergabung banyak membantunya.
”Semoga saya bisa tumbuh bersama tim dengan baik dan meraih prestasi pada masa mendatang,” pungkasnya. Dia yang datang jauh dari benua Amerika Latin bertekad mencatatkan sejarah di Indonesia. Baik itu sejarah secara tim dan pribadi. (zan/gp)
Editor : A. Nugroho