Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Inkonsistensi Saat Interval Kedua Berlanjut, Sering Kebobolan setelah Turun Minum

Galih R Prasetyo • Selasa, 6 Januari 2026 | 10:24 WIB
HARUS BERBENAH: Winger Arema FC Ian Puleio (kiri) berebut bola dengan pemain Bali United di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Bali, pada Minggu lalu (4/1).
HARUS BERBENAH: Winger Arema FC Ian Puleio (kiri) berebut bola dengan pemain Bali United di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Bali, pada Minggu lalu (4/1).

KABUPATEN - Kekalahan dari Bali United menyisakan banyak pekerjaan rumah bagi Arema FC. Tak hanya lini serang yang tumpul, performa tim seusai turun minum perlu dievaluasi. Dalam lima laga terakhir empat kali kebobolan pada babak kedua (selengkapnya baca grafis). 

Akibat itu, Arema FC tidak mampu mencuri satu kemenangan. Justru, harus mengakhiri laga dengan dua hasil seri dan dua kekalahan. Akibatnya, tertahan di posisi 11 klasemen BRI Super League pekan ke-16.

Pelatih Kepala Arema FC Marcos Santos menjelaskan, tim masih berupaya memecahkan masalah tersebut. Menurutnya, upaya perbaikan sejatinya selalu dilakukan. ”Pada babak pertama, kami selalu tampil bagus, mampu memanfaatkan peluang dan mendominasi laga. Namun ketika bermain di babak kedua permainan kami kurang berkembang,” ujar juru taktik berusia 46 tahun tersebut.

Berdasar pengamatannya, terdapat sejumlah faktor yang membuat timnya tidak bermain konsisten saat interval kedua. Pertama, sulit menjaga ketenangan saat tim tidak kunjung mencetak gol. Hal itu dapat menempatkan elemen ke dalam rasa frustrasi, sehingga melakukan kesalahan individu yang berujung kebobolan.

Kedua skema yang dilancarkan lawan juga cukup efektif. Setelah turun minum, mengganti strategi yang lebih baik dengan memasukkan pemain khusus. Umumnya pemain Singo Edan yang baru menyadari hal tersebut langsung dihukum dengan permainan cepat dan menekan.

Bagi Marcos, kondisi tersebut cukup membuatnya kesal. Itu karena penampilan positif tim hanya bisa bertahan sampai 45 menit saja. Berangkat dari situasi itu, dia dan tim pelatih Arema FC akan merancang skema agar anak asuhnya mampu tampil solid sampai akhir laga.

Namun, dia tidak bisa menjamin perubahan tersebut terjadi secara instan. Itu karena habit bermain dan kondisi fisik perlu diasah. ”Kalau ingin mengubah kebiasaan (inkonsisten di babak kedua) itu, kami harus mau berkembang setiap hari,” tambahnya. (gp/zan)

Editor : Aditya Novrian
#Arema FC #BRI Super League #Kabupaten Malang #Singo Edan