Punya PR Menajamkan Lini Depan Bledek Biru
RUMPUT ARG Soccer Field masih basah oleh sisa hujan yang baru saja turun pada Selasa (13/1) sore. Para pemain Persema berlarian mengejar bola. Sementara dari sisi lapangan seorang pria paro baya berdiri dengan sorot mata tajam.
Sesekali tangannya terangkat. Memberi aba-aba singkat. ”Cepat, ulangi, masuk ruang,” begitu tegas dilontarkan. Dia adalah Iwan Setiawan baru beberapa hari berada di Malang. Namun ritme latihan sudah berubah. Lebih cepat, lebih agresif, dan menuntut keberanian.
Laga uji coba melawan Arek Malang Indonesia pada 13 Januari lalu menjadi gambaran awal sentuhannya. Selama 90 menit, Iwan terus mendorong anak asuhnya bermain menyerang.
Ia seperti ingin segera mematahkan stigma yang menempel di Persema musim ini, tumpul di depan gawang. Statistik tak berpihak. Sejak babak 64 besar, tim berjuluk Bledek Biru itu hanya mencetak lima gol dari enam pertandingan.
Di babak 32 besar, catatannya lebih menyedihkan. Hanya bisa mencetak satu gol dari tiga laga. Situasi itu pula yang membuat manajemen mengambil langkah drastis.
Kerja sama dengan pelatih sebelumnya dihentikan dan nama Iwan Setiawan muncul sebagai pelatih baru di tengah jalan. Bukan keputusan mudah, mengingat kompetisi sudah memasuki fase krusial. Namun bagi Iwan, tawaran itu justru terasa menantang.
Ada keyakinan yang membuatnya mantap. Persema dalam ingatannya bukan klub sembarangan. Nama itu pernah harum di Malang pada awal 2000-an. Stadion Gajayana pernah menjadi saksi kejayaan mereka.
Sebelum akhirnya konflik dan dualisme kompetisi yang memaksa Persema menepi cukup lama dari panggung utama sepak bola nasional. ”Persema itu tim besar,” ujar Iwan.
Kerinduan mengembalikan marwah itulah yang membuatnya percaya diri. Apalagi, manajemen sejak awal menaruh kepercayaan penuh kepadanya. Alasan kedua lebih personal.
Setelah kontraknya bersama Persibo Bojonegoro berakhir pada Desember lalu, Iwan berstatus tanpa klub. Beberapa tawaran sempat datang, namun tak semuanya sejalan dengan filosofi sepak bola yang ia pegang. Persema dianggap paling cocok, meski harus berlaga di Liga 4.
Baca Juga: Persema Malang Pelatih Anyar Bidik Lolos ke Babak Nasional
Melatih di klub kasta terbawah bukan perkara sepele. Waktu adaptasi sangat sempit. Kurang dari dua pekan sebelum babak 16 besar, Iwan harus mengenal karakter pemain satu per satu. Menilai siapa yang layak mengisi sebelas awal dan siapa yang lebih efektif dari bangku cadangan.
”Pekerjaannya padat,” katanya singkat. Ia menyadari, tak ada ruang untuk kesalahan berulang. Fokus utama langsung diarahkan ke lini depan.
Finishing touch menjadi pekerjaan rumah terbesar. Dalam beberapa sesi latihan, Iwan kerap menghentikan permainan hanya untuk membenahi posisi tubuh penyerang atau pilihan sudut tembak. Pendekatannya detail, nyaris cerewet, namun para pemain perlahan mulai memahami maksudnya.
Untuk sektor bertahan, Iwan relatif lebih tenang. Rekam jejak Persema cukup solid. Sejak babak 64 besar, mereka jarang kebobolan dengan margin besar. Bahkan di babak 32 besar. Persema sempat tiga kali clean sheet. Fondasi itu tinggal dipoles agar lebih konsisten. Kepercayaan diri Iwan bukan sekadar keberanian mencoba.
Ia membawa pengalaman panjang selama 29 tahun di dunia kepelatihan. Kariernya dimulai tak lama setelah ia gantung sepatu sebagai pemain. Tawaran pertama datang dari akademi Persija Jakarta pada musim 1997/1998. Dari sana, jalannya menanjak cepat. Ia dipercaya menangani Persija Jakarta sebagai pelatih kepala pada musim 2000/2001 dan 2001/2002.
Nama Iwan kemudian berkelana di berbagai klub besar tanah air. PSMS Medan, Persela Lamongan, hingga Borneo FC pernah berada di bawah komandonya.
Ia juga sempat merasakan atmosfer kompetisi internasional ketika menangani tim nasional Indonesia U-23 pada 2004/2005. Selepas menangani Persela pada musim 2021/2022, perjalanan Iwan lebih banyak diisi klub-klub kasta kedua dan ketiga. Serpong City FC, PS Siak, Persibo, hingga PSBL Langsa menjadi persinggahan berikutnya.
Hingga akhirnya, musim 2025/2026, ia menerima tantangan baru bersama Persema untuk pertama kalinya. Awal kisahnya di Liga 4 tidak manis. Kekalahan telak 0-4 dari Persepam Pamekasan kemarin siang menjadi pil pahit yang harus ditelan.
Namun Iwan tak kehilangan harapan. Dua laga sisa fase grup masih terbuka. Poin maksimal melawan Unesa FC pada 21 Januari dan Pasuruan United dua hari berselang menjadi harga mati jika Persema ingin melaju ke babak delapan besar. (*/adn)
Editor : Aditya Novrian