RADAR MALANG- Big match yang mempertemukan Arema FC menghadapi Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan pada 28 April nanti terus mendapat penolakan. Salah satunya, dari keluarga korban tragedi Kanjuruhan. Kemarin, mereka menggelar aksi damai solidaritas di depan gedung DPRD Kabupaten Malang.
Ketua Yayasan Keadilan Tragedi Kanjuruhan (YKTK) Devi Atok menjabarkan, rencana laga yang mempertemukan Arema FC dan Persebaya di Stadion Kanjuruhan berpotensi melukai perasaan keluarga korban. Menurutnya, trauma atas tragedi memilukan 1 Oktober 2022 belum sepenuhnya pulih.
Baca Juga: Aremania Dorong Derby Jatim vs Persebaya Dihelat di Kanjuruhan, Nilai Stadion Kini Lebih Siap
”Stadion Kanjuruhan memiliki nilai emosional yang sangat berat bagi kami. Kami mendesak agar pertandingan tersebut digelar di stadion lain,” katanya.
Menurutnya, pertandingan dengan level high risk seharusnya tidak dipaksakan berlangsung di Stadion Kanjuruhan. Dia melihat, aspek keamanan yang berada di dalam stadion belum sepenuhnya terjamin. Terlebih lagi, laga tersebut masih memiliki tensi tinggi antar kedua suporter.
Karena itu, ada potensi insiden kelam beberapa tahun lalu bisa kembali terulang. Panasnya laga, juga dilihat bisa memicu terjadinya eskalasi konflik tidak hanya antar suporter, namun juga bisa meluas menjadi konflik antar wilayah di kawasan perbatasan. Selain itu, pihaknya juga mengkritisi keputusan penyelenggara pertandingan yang lebih mengedepankan aspek bisnis.
Baca Juga: Kapolres Malang Janji Izin Laga Arema FC vs Persebaya di Stadion Kanjuruhan Keluar Pekan Ini
Berdasar pandangannya, laga dengan risiko tinggi harus mengutamakan aspek keselamatan. Sekaligus melihat kondisi psikologis masyarakat di sekitar agar tidak was-was dengan laga high risk itu. Dia mengapresiasi sikap Forkominda Kabupaten Malang yang memutuskan untuk tidak memberikan izin.
”Kanjuruhan memiliki nilai historis yang sangat sensitif, karena berkaitan langsung dengan tragedi yang menelan banyak korban,” tandasnya. (zan/gp)
Editor : Galih R Prasetyo