Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ikhtiar Dulu, Pasrah ke Takdir Kemudian

A. Nugroho • Minggu, 12 Oktober 2025 | 18:35 WIB
Andika Satria Perdana, Jurnalis Jawa Pos Radar Malang
Andika Satria Perdana, Jurnalis Jawa Pos Radar Malang

KATA ’takdir’ menjadi perbincangan hangat belakangan ini. Ungkapan itu muncul dari Pengasuh Ponpes Putra Al Khoziny di Kecamatan Buduran, Sidoarjo, KH Raden Abdus Salam Muji, 29 September lalu. Tepat setelah bangunan tiga lantai di lembaga pendidikan keagamaan itu roboh dan mengakibatkan 67 santri meninggal dunia.

”Saya kira memang ini takdir dari Allah SWT. Jadi semuanya harus bisa bersabar, mudah mudahan di beri ganti oleh Allah yang lebih baik serta dibalas de ngan pahala,” begitu perkataan KH Raden Abdus Sa lam Muji di sejumlah media. Tak banyak pernyataan lain dari pemilik ponpes tersebut yang dikutip media.

Tidak ada gempa, tidak ada badai, bahkan hujan pun tidak mengguyur lingkungan ponpes. Hari Senin, sekitar pukul 14.40 WIB, ketika lebih dari 100 santri melakukan ibadah Salat Asar, kejadian nahas itu terjadi. Dari penuturan santri yang selamat, bangunan musala sempat bergoyang sebelum ambruk.

Ada yang sempat menyelamatkan diri. Ada juga yang terus melanjutkan salatnya. Sebanyak 67 santri akhirnya melaksanakan salat terakhirnya di dunia. Melihat dampak yang begitu besar, agaknya menggunakan kata takdir bukan sesuatu yang pas.

Kejadian itu, menurut Badan Nasional Penanggu ngan Bencana (BNPB) murni karena kegagalan konstruksi. Bukan bencana alam. Alquran juga sudah menjelaskan bahwa nyawa manusia itu sangat mahal. Allah berfirman pada Surat Al Maidah Ayat 32. ”Menyelamatkan satu nyawa sama dengan menyelamatkan seluruh manusia. Sebaliknya membunuh satu jiwa, sama saja dengan membunuh seluruh umat manusia,” Kembali lagi, jika terjadi gempa besar kemudian bangunan itu ambruk, kita bisa menyebut itu sebagai takdir. Hari itu dan detik itu juga tidak ada bencana alam yang terjadi.

Namun ada 67 keluarga yang harus kehilangan nyawa anak terkasihnya, keponakan terkasih, atau cucu kesayangan. Menurut data BNPB, kejadian di Ponpes Al Khoziny menjadi tragedi paling mematikan selama 2025. Pada bulan Juli lalu, sebanyak 106 rumah rusak akibat gempa bumi di Poso, Sulawesi Tengah. Ada dua korban meninggal dunia saat itu. Sedangkan banjir bandang di Bali merenggut 12 korban jiwa.

Korban 67 santri merupa kan sebuah ironi saat orang tua menitipkan anaknya untuk belajar ilmu agama lebih dalam. Bangunan baru Ponpes Al Khoziny yang am bruk diduga tidak memi liki Perizinan Bangunan Gedung (PBG), atau dulunya di sebut dengan Izin Mendi rikan Bangunan (IMB).

Tidak tertib administrasi itu tidak terjadi di sana saja. Berdasar data Kementerian Pe kerjaan Umum (PU), ha nya sedikit ponpes di Indo nesia yang mengantongi PBG. Dari 42 ribu ponpes yang dibangun, pemerintah hanya mencatat 50 pondok yang mengantongi PBG. Dengan fakta kurangnya kesadaran administrasi, seharusnya seluruh pihak sadar terhadap pentingnya mendirikan bangunan sesuai standar dan meleng kapi persyaratan.

Satu hal lagi yang memper kuat kejadian nahas itu ada lah kelalaian. Karena be berapa pihak telah menyebut ada kegagalan konstruksi. Dilansir dari Detik. com, pihak pertama yang menyebut ada kegagalan konstruksi adalah Badan Sar Nasional (Basarnas).

Jika bangunan sesuai stan dar, saat ambruk hanya ter jadi patahan. Tetapi dibangunan Ponpes Al Khoziny, bangunannya melengkung atau disebut pancake model. Bangunan yang ambruk ter sebut membentuk tumpu kan seperti kue pancake.

”Ini jatuhnya kegagalan kons truksi, bangunan yang ambruk berubah menjadi tumpukan atau istilahnya pancake model,” ujar Ka subdit RPDO Basarnas Emi Freezer. Kegagalan itu diperkuat dengan pernyataan dari pakar kontruksi bangunan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Mudji Irawan.

Dikutip dari Tempo. co, Mudji menilai pembangunan ponpes itu tidak memperhatikan konsep kontruksi yang benar. Pengerjaannya tidak memperhatikan sambungan antar elemen struktur. Menurut Mudji, sambungan antar balok dengan kolom tidak dilakukan dengan benar.

Ketika ada tambahan beban di lantai tiga, struktur bangunannya akan kolaps. ”Selain itu, saat bangunan masih dicor, ada aktivitas di bawah (salat). Getaran dari aktivitas yang berlangsung menyebabkan bangunan semakin tertekan dan akhirnya ambruk,” jelasnya.

Dari dua indikator, yaitu diduga tidak memiliki perizinan dan kegagalan konstruksi, bisa dipastikan bila kejadian itu seharusnya bisa dicegah. Sehingga tak elok rasanya, jika menyebut kejadian yang merenggut nyawa 67 anak itu hanya karena takdir.

Tanpa ada sebab lainnya. Secercah harapan muncul ketika ada keluarga korban yang menginginkan ambruknya ponpes itu diproses hukum. Agar ada keadilan bagi 67 korban yang wafat. Keadilan tak hanya untuk mereka, namun juga untuk santri di seluruh Indonesia. Meski hanya berniat menuntut ilmu agama dan berharap ridho kyai, mereka berhak mengenyam pendidikan dengan aman dan nyaman.

Dalam Agama Islam juga ada istilah takdir muallaq, atau takdir yang bisa diubah de ngan berdoa dan berikhtiar. Juga ada takdir mubram, yang merupakan ketetapan Allah SWT yang tidak bisa diganggu gugat. Kalau belum ada ikhtiar yang dilakukan, sepertinya kurang pas mengaitkan semuanya dengan takdir. (*)

Editor : A. Nugroho
#Pasrah #takdir #Ponpes #ikhtiar