KASUS yang melibatkan Yai Mim dan Sahara telah menjadi bahan perbincangan luas. Di kafe, grup WhatsApp, media sosial, hingga forum-forum diskusi, nama keduanya muncul bergantian dalam berbagai narasi. Tapi yang menarik bukan hanya isi kasusnya. Melainkan bagaimana kita sebagai masyarakat bereaksi. Kita cepat berpihak, cepat merasa tahu siapa yang salah dan kadang terlalu bersemangat membela. Bahkan sebelum semua fakta terungkap
Tentu kita tidak bisa menyederhanakan situasi ini. Di satu sisi, Yai Mim dikenal sebagai sosok yang dihormati, mewakili institusi yang punya jejak panjang dan pengaruh besar di tengah masyarakat.
Di sisi lain, Sahara hadir dengan suara yang mungkin mengganggu kenyamanan banyak orang. Ia membawa cerita yang tidak mudah didengar karena menyentuh figur yang selama ini dihormati.
Tapi apakah hanya karena tidak nyaman, suara itu harus kita tolak mentah-mentah. Dalam filsafat, kita di ajak untuk mena han diri dari pengha kiman cepat. Filsuf Jean-Paul Sartre misal nya yang berbicara soal tanggung jawab individu atas pilihan-pilihannya.
Dalam setiap tindakan, manusia bukan hanya menyuarakan isi hatinya. Tapi juga menyatakan siapa dirinya. Bisa jadi, Sahara bicara bukan karena ingin menghancurkan siapa pun. Tapi karena merasa harus bersuara.
Dan bisa jadi pula, Yai Mim sebagai manusia biasa sedang menghadapi situasi yang tidak sesederhana tampaknya. Dalam dunia nyata, orang bisa saja salah paham, terseret, atau bahkan menjadi korban dari kesimpangsiuran.
Yang sering kita lupakan adalah bahwa manusia tidak pernah bertindak di ruang hampa. Dalam pemikiran Michel Foucault, kekuasaan dan kebenaran saling terkait. Masyakakat cenderung mempercayai orang-orang yang punya posisi, gelar, atau simbol kehormatan.
Sementara mereka yang suaranya dianggap kecil, sering kali harus berjuang keras hanya untuk bisa didengar. Ini bukan berarti pihak yang berkuasa pasti salah atau yang bicara dari pinggir pasti benar. Tapi ini mengingat kan kita untuk waspada. Jangan-jangan kita terlalu cepat memihak hanya karena kebiasaan mempercayai simbol.
Budaya kita juga punya peran besar dalam membentuk cara bereaksi. Kita dibesarkan dalam nilai-nilai yang mengutamakan rukun, menjaga kehormatan, dan enggan mem buka konflik.
Nilai-nilai ini baik, bahkan mulia, tapi dalam praktiknya kadang justru menjadi penghalang. Ketika ada yang bicara jujur, tapi jujurnya itu menyakitkan. Reaksi kita bisa sangat defensif. Kita ingin semua terlihat damai bahkan jika itu berarti membungkam perbedaan.
Tapi budaya bukan sesuatu yang statis. Dalam falsafah Jawa pun, ada pepatah ajining dhiri ana ing lathi atau harga diri seseorang ada pada ucapannya. Artinya, bicara dengan jujur dan terbuka adalah bagian dari kehormatan, bukan sebaliknya.
Kita tidak bisa mengharapkan masyarakat yang sehat jika hanya satu suara yang boleh didengar. Atau jika suara-suara yang lain langsung dianggap ancaman.
Filsuf Hannah Arendt pernah mengatakan bahwa demokrasi sejati hanya bisa hidup jika ruang publik di buka untuk semua suara. Termasuk yang paling tidak nyaman. Karena justru dari ketidaknyamanan itu kita bisa bertumbuh.
Kita belajar untuk mendengar, menimbang, dan merefleksikan. Dalam konteks kasus ini, kita seharusnya tidak terburu-buru mencari siapa pemenangnya.
Sebaliknya, kita harus bertanya apa yang bisa kita pelajari dari munculnya suara seperti Sahara. Dan bagaimana seharusnya institusi atau tokoh masyarakat merespons tanpa merasa terancam.
Di sisi lain, tentu saja kita perlu menjaga kehati-hatian. Tidak semua tuduhan layak dipercaya begitu saja dan tidak semua kegelisahan harus dipublikasikan tanpa konteks.
Di sinilah pentingnya kebijaksanaan. Dalam etika Aristoteles, tindakan baik bukan hanya soal niat atau aturan, tapi soal pertimbangan mengambil jalan tengah yang paling bijak antara dua ekstrem. Mungkin kita tak perlu terburu buru membela, tapi juga tak perlu langsung menolak.
Literasi menjadi penting di tengah situasi seperti ini. Literasi bukan sekadar kemampuan membaca teks, tapi kemampuan membaca konteks.
Pada akhirnya, Yai Mim dan Sahara adalah manusia. Mereka mungkin lelah, mungkin bingung, atau bahkan merasa dikhianati oleh reaksi publik. Kita tidak tahu persis apa yang mereka alami. Ketika sebuah kisah masuk ke ruang publik, yang dibutuhkan bukan sekadar analisis atau kecaman.
Kasus ini bukan hanya tentang dua nama. Ini tentang kita semua. Bagaimana kita memperlakukan suara yang berbeda, bagaimana kita memahami otoritas, bagai mana kita menjaga martabat, dan bagaimana kita merawat ruang publik agar tetap menjadi milik bersama. (*)
Editor : A. Nugroho