Bagaimana perasaan Anda, jika apa yang selama ini Anda yakini kebenarannya, ternyata justru terbukti sebaliknya? Saya tidak sedang bicara tentang misi Artemis II yang tak mendarat di bulan alih-alih seperti Apollo 11 dengan segala kontroversinya. Bukan pula Panama Papers atau Epstein Files yang pernah mencuat lalu hilang bak ditelan bumi. Tapi soal fakta tokoh dalam gim Street Fighter.
M. Bison, antagonis utama dalam gim ini belakangan diketahui bukan nama sebenarnya. Sosok laki-laki sangar berbadan kekar dengan jubah dan topi militer merahnya ini seharusnya adalah karakter bernama Vega. Namanya sengaja diganti saat Capcom membawa gim ini ke Amerika Serikat.
M. Bison atau Mike Bison sebenarnya dilekatkan pada tokoh lain. Tokoh tersebut digambarkan sebagai seorang petinju gempal berkulit gelap dengan sarung tinju merah. Gerakannya lincah namun bertenaga. Bergaya rambut agak plontos, dia punya pukulan dahsyat yang mematikan. Familier? Ya, karakter ini memang terinspirasi dari petinju kelas berat, Mike Tyson. Raja KO yang saat gim Street Fighter II rilis pada tahun 1991 memang begitu populer.
Ketika dikembangkan di Jepang oleh Akira Nishitani, penamaan itu dianggap tak akan jadi masalah. Namun ketika permainan ini diboyong ke Amerika dan bakal dipasarkan secara global, kekhawatiran muncul. Karena terlalu mirip, mereka takut ada respons negatif dari Mike Tyson maupun penggemarnya.
Dengan sedikit utak-atik, akhirnya nama tokoh ini diubah. Kini, sosok petinju pada gim ini lebih dikenal dengan sebutan Balrog. Sedangkan M. Bison justru jadi karakter antagonis utama yang awalnya dikenal sebagai Vega. Sementara Vega yang kini kita tahu sebagai matador bertopeng dengan cakar besi di tangannya, sejatinya dinamai Balrog (Barurogu).
Untungnya, 'penyimpangan' ini hanya melibatkan nama tiga karakter tersebut. Karakter ikonik lain seperti Chun-li, Blanka, Sagat, Guile, Honda, hingga Dhalsim, masih dinamai sebagaimana mereka dibuat.
Bersama duet protagonis, Ken dan Ryu, gim arcade ini diadaptasi ke layar lebar. Teaser dan trailernya sudah berseliweran di berbagai kanal media. Dari sana, tak hanya nama, kostum dan perawakan masing-masing karakter juga dibuat semirip mungkin dengan versi gimnya. Kabarnya, film yang diproduksi Legendary dan Paramount Pictures ini bakal rilis 16 Oktober mendatang.
Tentu bukan memakai nama-nama 'asli'. Apalagi tiap karakter ini sudah begitu melekat di benak pecinta gim yang kini sudah menjadi lelaki dewasa. Bayangan soal berbagai karakter itu bisa saja buyar andaikan nama tokohnya kembali diubah-ubah.
Produser tentu tak mau ambil risiko meski tahu fakta sebenarnya. Dalam konteks ini, lebih baik mempertahankan 'kesalahan' yang ada karena semua itu sudah disepakati bersama. Setidaknya oleh sebagian besar orang yang tahu dan pernah memainkan gimnya.
Akankah bakal meledak seperti versi gim yang jadi pop culture di masanya? Bisa ya, bisa juga tidak.
Tahun 1994, adaptasi serupa pernah dilakukan. Dibintangi Jean Claude Van Damme, film itu tak terlalu sukses dan hanya menjadi jajaran film kelas B.
Kini, dengan keterlibatan bintang besar seperti Jason Momoa dan rapper 50 Cent, sekilas penampakan film laga ini mirip Suicide Squad 2 (2021) yang menyelipkan komedi dan keabsurdan di dalamnya.
Kembali ke pertanyaan awal, bagaimanakah perasaan Anda? Karena konteksnya adalah gim, hiburan, fakta yang terungkap semacam ini bisa jadi dianggap biasa saja. Orang sering menyebutnya fakta yang menyenangkan (fun fact). Dibuat lucu-lucuan. Sekadar trivia yang bisa diceritakan saat nongkrong bareng teman atau keluarga.
Masalah baru muncul jika objeknya lebih serius dan sensitif. Misalnya tentang penulisan ulang sejarah bangsa. Mulai bagaimana gagasan pendahulu dan awal terbentuknya, perjuangan, heroisme, hingga tinjauan secara antropologi ihwal budaya maupun perilaku sosial manusianya.
Di satu pihak, narasi yang ditampilkan dalam penulisan ulang ini adalah soal pelurusan. Bagaimana masa lalu dipotret secara lebih objektif dan mengakar guna menggali identitas kolektif yang komprehensif.
Namun di pihak lain, muncul juga kekhawatiran. Salah satunya berkait dengan adagium 'sejarah ditulis oleh pemenang'.
Jangankan persoalan nama, mengubah sedikit saja detail sejarah, seperti warna kebesaran atau logo daerah yang sudah diterima sebagai kelaziman selama bertahun-tahun, pasti bakal menuai pro dan kontra.
Bagaimana pun, tak dipungkiri bahwa sejarah kerapkali bias kekuasaan. Para penguasa, biasanya menerima manfaat terbesar dari pengubahan sejarah. Sejarah bisa saja digunakan untuk melegitimasi atau malah mengaburkan bahkan menghapus berbagai 'kesalahan' di masa lalu.
Kecurigaan yang cukup beralasan mengingat sejarah negeri ini yang tak lepas dari propaganda. Bukan hanya yang bercorak positif menggerakkan kesadaran untuk mencapai tujuan bersama, tapi juga yang kebablasan dan cenderung menyesatkan.
Sejauh mana kita bisa bersikap? Mengingat buku setebal nyaris 8.000 halaman sudah diterbitkan sejak akhir tahun lalu.
Kuncinya, ada pada kemampuan literasi yang baik dan keberanian untuk bersuara. Keberanian yang seharusnya muncul dari rasa kepedulian. Bukan antipati dan apatisme pada sejarah itu sendiri. "Nek pejabate pengene ngono ya wes ben ngono ae!"
Kendati ada klaim bahwa penulisan sejarah dilakukan oleh para pakar yang sangat kompeten sekalipun, ratusan jumlahnya, ruang-ruang kritik harusnya tetap dibuka. Apa dasar pijakannya, referensinya, bukti-buktinya? Semuanya harus bisa dievaluasi dan didiskusikan lagi sebagai bagian dari dialektika demokrasi.
Apalagi jika kita sadar, bahwa warisan sejarah itu bukan hanya kita yang akan meresapi makna dan merasakan dampaknya. Bukan pula sekadar trivia, suka-suka, atau penghias kurikulum pendidikan semata. Melainkan penentu arah dan nasib generasi mendatang yang mungkin bahkan belum lahir saat sejarah itu ditetapkan. (penulis bisa disapa lewat surel adinugroho.ohorgunida@gmail.com)
Editor : A. Nugroho