Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Permainan Tradisional Congklak di Indonesia dan O An Quan di Vietnam

Indra Andi • Senin, 27 April 2026 | 11:36 WIB
Tran Thanh Vy - Mahasiswa Vietnam, Program Magister Pendidikan Bahasa Indonesia.
Tran Thanh Vy - Mahasiswa Vietnam, Program Magister Pendidikan Bahasa Indonesia.

 

Permainan tradisional merupakan bagian integral dari warisan budaya yang eksistensinya ditemukan di hampir seluruh negara. Meskipun Indonesia dan Vietnam secara geografis terletak berjauhan dan mempunyai identitas budaya yang unik, keduanya berakar pada tradisi agraris dan struktur sosial komunal khas Asia Tenggara. Landasan sosiokultural tersebut yang membentuk keberadaan permainan rakyat di masing-masing negara. Di samping perbedaan identitas nasional, permainan tradisional di Indonesia dan Vietnam juga menunjukkan kemiripan tertentu. Karakteristik persamaan dan perbedaan ini termanifestasi secara nyata melalui dua permainan tradisional, yaitu Congkak di Indonesia dan O An Quan di Vietnam.

Kedua permainan tradisional, Congklak di Indonesia dan O An Quan di Vietnam dikategorikan sebagai representasi permainan strategi matematis yang menekankan keterampilan perhitungan. Berbagai penelitian di kedua negara mengindikasikan bahwa keterlibatan anak-anak dalam permainan Congklak dan O An Quan berkontribusi signifikan terhadap pengembangan pola pikir strategis, pemupukan nilai kesabaran, serta stimulasi interaksi sosial yang positif. Baik Congklak maupun O An Quan mengadopsi model papan yang terbagi menjadi beberapa lubang untuk taruh biji, yang diintegrasikan dengan aturan giliran bermain secara bergantian serta mekanisme perolehan biji berdasarkan regulasi yang telah ditentukan. Hal ini menuntut pemain untuk mengaktifkan kognitif seperti kemampuan kalkulasi matematis dan daya ingat, yang dibarengi dengan pengendalian diri serta kesabaran dalam menanti transisi giliran bermain.

Persamaan dan Perbedaan antara Congklak dan O An Quan

Permainan Congklak dan O An Quan menunjukkan sejumlah kesamaan. Pertama, keduanya termasuk dalam kategori permainan tradisional. Baik Congklak maupun O An Quan merupakan permainan strategi yang menggunakan papan dan mengandalkan mekanisme pergerakan biji. Dalam permainan ini, pemain bergiliran memainkan langkah secara berurutan. Pemain melakukan proses distribusi biji permainan (berupa batu kecil, kerikil, atau cangkang) ke dalam lubang-lubang papan mengikuti suatu siklus tertentu. Tujuan permainan ini adalah memperoleh jumlah biji yang lebih besar daripada lawan melalui perhitungan dan prediksi. Hal ini menunjukkan bahwa permainan Congklak dan O An Quan menuntut pemain untuk mengerahkan kapasitas kognitif secara optimal dalam merumuskan strategi dan perencanaan guna mencapai kemenangan. Persamaan kedua antara Congklak dan O An Quan adalah keduanya bersifat interaktif secara langsung antarpemain dan berlangsung dalam ruang sosial komunitas. Hal ini merefleksikan karakteristik masyarakat tradisional yang bersifat komunal, dimana aktivitas rekreasi berkaitan erat dengan komunikasi dan hubungan sosial.

Di samping adanya kesamaan, keunikan identitas budaya masing-masing negara menyebabkan tetap adanya perbedaan tertentu dalam kedua permainan tradiional tersebut. Perbedaan ini mula-mula terlihat pada alat permainan yang digunakan. Permainan Congklak umumnya menggunakan papan kayu permanen dengan sejumlah lubang kecil yang tersusun secara simestis serta dua lubang besar pada kedua ujungnya. Bentuk lubang pada umumnya berupa lingkaran dan oval. Adapun biji permainan yang digunakan biasanya berupa kerikil, cangkang kerang kewuk (cangkang berbentuk oval), serta biji tanaman seperti sawo, sirsak, dan asam. Sebalik dengan Congklak, alat permainan O An Quan cenderung lebih fleksibel. Papan permainan umumnya digambar di permukaan tanah dengan struktur yang sederhana. Struktur papan permainan juga terdiri atas lubang-lubang kecil yang tersusun secara simetris serta dua lubang besar di kedua ujungnya. Namun demikian, bentuk lubang tersebut umumnya berupa persegi.

Selain itu, aturan permainan dan sistem penilaian juga menunjukkan adanya perbedaan. Congklak menekankan distribusi biji secara berkelanjutan dengan tujuan utama mengumpulkan sebanyak mungkin biji ke dalam lubang penyimpanan milik sendiri. Mekanisme permainan ini lebih berorientasi pada akumulasi dan tidak menitikberatkan pada pengambilan langsung biji dari lawan. Sebaliknya, O An Quan mengandalkan mekanisme “penangkapan” biji berdasarkan posisi akhir langkah, sehingga menuntut perhitungan dan strategi yang lebih kompleks dalam menentukan setiap giliran. Hal ini menunjukkan adanya keberagaman di setiap negara dalam mengorganisasi permainan yang mencerminkan identitas budaya masing-masing.

Nilai Permainan dan Transformasi Model Praktik Budaya

Baik Congklak maupun O An Quan memiliki nilai yang melampaui sekadar fungsi hiburan, yaitu nilai pendidikan, nilai sosial dan nilai budaya. Pertama, nilai pendidikan terkandung dalam kedua permainan tersebut sebagai sarana pengembangan kecerdasan kognitif dan strategi. Hal ini tercermin melalui aktivitas berhitung, pengambilan keputusan, serta pembentukan sikap sabar dan penerimaan terhadap hasil permainan. Kedua, nilai sosial dalam Congklak dan O An Quan tercermin melalui praktik bergiliran, kepatuhan terhadap aturan, serta interaksi antarpemain yang membentuk kebersamaan. Melalui mekanisme tersebut, kedua permainan ini merefleksikan nilai penyesuaian sikap dan perilaku dalam hubungan sosial. Dengan demikian, pengalamanan bermain Congklak dan O An Quan mencerminkan nilai kebersamaan dan kemampuan adaptasi sosial dasar pada anak-anak. Dari perspektif budaya, kedua permainan tersebut mencerminkan nilai-nilai kolektivitas yang berakar pada sistem budaya agraris. Hal ini tercermin dari penggunaan alat permainan pada kedua permainan tersebut yang umumnya tersedia dan mudah diperoleh dalam lingkungan masyarakat. Lebih lanjut, permainan tradisional tersebut mencerminkan konsep distribusi sumber daya dalam masyarakat agraris.

Dalam konteks masyarakat modern, nilai-nilai permainan tradisional congklak di Indonesia dan O An Quan di Vietnam mengalami pergeseran yang signifikan. Pergeseran ini terjadi dalam pola praktik budaya dan ruang keberadaannya. Permainan tersebut tidak lagi umum dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, permainan tersebut kini lebih sering hadir dalam kegiatan yang bersifat terorganisasi, seperti di lingkungan sekolah atau dalam berbagai festival budaya, misalnya perayaan Hari Kemerdekaan 17 Agustus di Indonesia dan Hari Guru 20 November di Vietnam. Hal ini menunjukkan bahwa permainan tradisional mengalami pergeseran gradual dari praktik budaya sehari-hari menuju bentuk pelestarian yang dilakukan secara sadar dan terencana. Pergeseran ini merefleksikan hasil positif karena permainan tradisional tetap dipraktikkan dan dilestarikan. Namun demikian, fenomena tersebut juga menunjukkan sejumlah keterbatasan ketika permainan tidak sepenuhnya mampu mengaktualisasikan fungsi dan nilai asalinya.

Berdasarkan paparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa terdapat persamaan dan perbedaan antara permainan tradisional Congklak di Indonesia dan O An Quan Vietnam. Persamaan ini mencerminkan adanya fondasi budaya bersama di kawasan Asia Tenggara, sementara perbedaannya menegaskan identitas khas masing-masing masyarakat. Dengan demikian, kedua permainan ini dapat dipahami sebagai medium untuk memahami kehidupan sosial, fungsi edukatif, serta keberlanjutan budaya. Dalam konteks masyarakat modern, nilai-nilai tersebut tidak lagi ditentukan oleh frekuensi penggunaannya. Di sisi lain, nilai-nilai itu mengalami pergeseran menjadi simbol budaya yang hadir dalam berbagai konteks terorganisasi, seperti festival, institusi pendidikan, dan praktik budaya kontemporer.

Penulis : Tran Thanh Vy - Mahasiswa Vietnam, Program Magister Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Muhammadiyah Malang

Editor : Indra Andi
#Universitas Muhamadiyah Malang #Permainan Tradiaional #budaya indonesia