Terhitung 1 Oktober lalu, Gunawan Wibisono HS bukan kader PDIP lagi.
Itu setelah keluar surat pemecatan dari DPP PDIP terhadap Gunawan Wibisono.
Abah Gun, sapaannya, yang merupakan calon Bupati Malang, blak-blakan mengungkap faktor di balik pemecatannya.
DORONGAN dari Didik dan Darmadi terhadap Gunawan Wibisono agar maju dalam Pilkada 2024 berlanjut hingga Rakernas PDI Perjuangan pada 24-26 Mei lalu.
“Darmadi secara lisan menyampaikan kepada saya, akan segera melaksanakan konsolidasi level fraksi, DPC bahkan sampai ke PAC dan ranting. Masih di Jakarta saat Rakernas PDI Perjuangan berlangsung, Darmadi meminta saya menyiapkan dana untuk konsolidasi fraksi. Mengingat saat itu yang mendapat undangan rakernas hanya fraksi, maka Darmadi minta sementara disiapkan dana untuk mengumpulkan fraksi yang kebetulan sedang ada di Jakarta,” beber Abah Gun, sapaan akrab Gunawan Wibisono, calon bupati (Cabup) Malang.
”Berhubung untuk kepentingan partai yang oleh undang-undang diperbolehkan, maka anak saya transfer dana yang dimaksud lewat ajudan Darmadi,” tambahnya.
Interaksi intensif Abah Gun dengan Darmadi berlangsung hingga lobi-lobi politik ke sejumlah elite partai di Jawa Timur.
Darmadi ikut serta saat Abah Gun bertemu dengan Sarmuji, ketua DPD Partai Golkar Jatim yang kini menjabat Sekjen DPP Partai Golkar.
“Saat awal saya bertemu, silaturahmi dengan Pak Sarmuji, saya ditemani Darmadi, bahkan dia ikut meyakinkan Pak Sarmuji dengan men-downgrade Sanusi yang katanya gak komitmen dan gak konsisten,” ungkapnya.
Setelah melakukan serangkaian konsolidasi, Abah Gun menerima kabar mengejutkan.
Yakni Darmadi menerima tawaran bergabung dengan Tim 9 Pemenangan Sanusi. Bahkan, Darmadi didapuk sebagai ketua.
“Sekalipun demikian, Didik - Darmadi masih meminta saya menggalang dukungan kepada PAC-PAC dengan memberi jadwal saya melakukan konsolidasi internal. Makanya saya heran, di akhir cerita mendekati rekom turun, mereka berdua, terutama Darmadi gak pernah komunikasi kepada saya bahwa rekom akan ke Sanusi,” tutur Abah Gun.
Abah Gun mengaku sudah legawa dengan keputusan PDI Perjuangan.
Tapi yang menjadi penyesalannya, usulan pemecatan dirinya datang dari DPC PDIP Kabupaten Malang.
“Dan yang paling saya sesali, dari info yang saya dapat, justru Darmadi yang menginisiasi usulan ke DPP terkait pemecatan saya dengan cerita yang diputar balik. Seolah saya berkhianat melakukan pembangkangan kepada perintah Ibu Mega,” katanya.
”Saya menanggung risiko pemecatan dari partai yang saya cintai, dari Ibu Ketua Umum yang saya hormati. Saya terima pemecatan ini karena semata saya tidak mau melukai harapan rakyat Kabupaten Malang yang sudah telanjur mendukung pencalonan saya sebagai Bupati Malang. Saya memilih menjaga kepercayaan yang saya dapat dari rakyat sebagai pengejawan tahan dari nilai-nilai ideologi yang diajarkan di PDIP yang bersumber dari pemikiran Bung Karno,” tambahnya.
Dia berharap penderitaan yang dialaminya tidak terjadi pada orang lain.
“Biarlah segala cerita yang saya alami, akan tersimpan dalam sejarah. Biarkan saya menjadi korban. Kepada seluruh simpatisan, relawan, dan masyarakat Kabupaten Malang, saya minta agar tetap bersatu, tetap opti mistis. Dan kepada mereka saya berpesan, mengutip apa yang disampaikan oleh Bung Karno, ingatlah bahwa ‘kekuasaan itu ada batasnya, karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat, dan di atas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa’ ,” bebernya.
Abah Gun juga menyampaikan apresiasi kepada Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang selama ini telah menjadi panutan.
“Kepada Ibu Ketua Umum, mohon maaf, saya terpaksa berseberangan dengan Keputusan ibu. Sebab tak mungkin saya meninggalkan rakyat yang telanjur meminta saya untuk memimpin mereka. Namun saya akan tetap menghormati ibu, dan sekalipun saat ini saya tidak diakui lagi sebagai kader PDI Perjuangan, cinta saya tidak akan pernah putus kepada PDI Perjuangan. Pak Sekjen Hasto Kristiyanto, terima kasih sudah memberi saya kesempatan belajar dan berkhidmat lewat PDI Perjuangan,” kata dia.
”Satu lagi sebelum di tutup, semua cerita ini terkonfirmasi, saksi dan bukti masih ada, sehingga jika Darmadi mau pun Didik menganggapnya fitnah, semua saksi siap memberikan kesaksiannya,” pungkasnya.
Hingga berita ditulis tadi malam (7/10) pukul 20.00, belum ada tanggapan dari Sekretaris DPC PDIP Kabupaten Malang Darmadi.
Wartawan koran ini sudah menghubungi sejak Minggu lalu (6/10), terdengar berdering namun telepon tidak diangkat.
Pesan singkat melalui WhatsApp yang dikirim untuk meminta konfirmasi atas tudingan Gunawan juga tidak dibalas.
Sedangkan Ketua DPC PDIP Kabupaten Malang Didik Gatot Subroto hanya membantah keterlibatannya dalam pemberhentian Gunawan dari kader PDIP.
Namun dia tidak bersedia menjawab tudingan Gunawan.
”Terkait pemecatan Abah Gunawan, sudah disampaikan bahwa itu kewenangan DPP. Untuk yang lain-lain, saya no comment,” tandasnya. (yun/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana