Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Tim Riset UB Pencipta Inovasi Alat Sterilisasi Peralatan Medis

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Selasa, 21 Februari 2023 | 03:00 WIB
PRESTASI: Tujuh anggota Tim Riset UB mampu meraih medali emas dalam event Thailand Inventors’ Day pada 2-6 Februari 2023 lalu.(UNIVERSITAS BRAWIJAYA FOR RADAR MALANG)
PRESTASI: Tujuh anggota Tim Riset UB mampu meraih medali emas dalam event Thailand Inventors’ Day pada 2-6 Februari 2023 lalu.(UNIVERSITAS BRAWIJAYA FOR RADAR MALANG)
 
Berbasis Internet of Things,  Raih Dua Penghargaan Internasional

Alat sterilisasi yang diciptakan mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) ini berorientasi untuk membantu tenaga medis di daerah terpencil. Didesain portable, terhubung dengan aplikasi yang bisa mendeteksi bakteri, hemat daya, ekonomis, dan tidak memerlukan listrik konvensional.

FAJAR ANDRE SETIAWAN

USAHA tak akan mengkhianati hasil. Pepatah itu sepertinya tepat untuk menggambarkan perjuangan panjang tim riset Universitas Brawijaya (UB) yang diinisiasi Shofi Ramadhani.

Bersama enam anggota tim lainnya, Shofi mampu menciptakan alat sterilisasi perangkat medis yang memiliki banyak keunggulan.

Bahkan alat itu baru saja mendapatkan dua penghargaan internasional dari dua negara tetangga, yakni Malaysia dan Thailand.

Alat tersebut diberi nama Aladdin. Seperti lampu ajaib, nama itu digunakan untuk mempermudah penyebutan alat yang sebenarnya bernama Magic Toolbox Plasma-Based Integrated Solar Cell with Internet of Things.

Alat tersebut sudah pernah mendapat special award dari Malaysian Research and Innovation Society (MyRIS). Lalu, pada 2 hingga 6 Februari 2023, Aladdin diikutsertakan dalam ajang Thailand Inventor's Day 2023.

Hasilnya sangat membanggakan. Shofi dan rekan-rekannya berhasil membawa pulang medali emas.
Baca Juga : Berikut Daftar Kekayaan Tiga Calon Rektor Universitas Brawijaya.

Thailand Inventors’ Day 2023 merupakan wadah bagi mahasiswa dari berbagai negara untuk memamerkan inovasi.

Kompetisi internasional itu diselenggarakan oleh National Research Council of Thailand (NRCT) di Bangkok International Trade & Exhibition Centre (BITEC).

”Waktu itu kami bersanding dengan tim riset dari 24 negara dunia. Total yang dipamerkan mencapai 469 inovasi,” ujarnya.

Shofi menjelaskan, proses penciptaan alat sterilisasi dan penyimpanan peralatan medis itu memakan waktu yang cukup panjang. Ide pembuatannya sudah muncul sejak tahun 2018.

Prototipe alat tersebut sudah beberapa kali mengalami perubahan dan perbaikan.

”Desain kami pilih seminimalis mungkin, tapi tetap punya kapasitas yang ideal untuk peralatan medisnya,” ungkap Shofi. (Bersambung ke halaman selanjutnya)



Sejumlah fitur pada alat tersebut juga mengalami beberapa kali perbaikan. Misalnya durasi sterilisasi yang terus dipersingkat. Onderdil yang digunakan juga terus disempurnakan.

Hasil akhirnya, fungsi salat tersebut bisa optimal meski memiliki nilai ekonomi yang lebih rendah dibandingkan alat sterilisasi yang telah ada.

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi (FKG UB) itu mengatakan, selain praktis dan ekonomis, penciptaan Aladdin juga berorientasi pada pemanfaatan oleh tenaga-tenaga medis di daerah terpencil.

Sebab, selama ini tenaga medis di daerah 3T (tertinggal, terpencil, dan terbelakang) masih kesulitan untuk mengakses listrik.

Padahal, alat sterilisasi peralatan medis yang ada di pasaran, seperti Autoklaf, kebanyakan dioperasikan menggunakan energi listrik.

Dampaknya, tenaga medis yang sedang bertugas di daerah-daerah terpencil tidak bisa memanfaatkan alat sterilisasi secara maksimal.
Baca Juga : Ini Dua Fakultas Penyumbang Tertinggi Molornya Studi di Universitas Brawijaya.

Sterilisasi kerap dilakukan secara manual. Dengan Aladdin, kendala semacam itu bisa diatasi.

”Aladdin kami desain portable, sehingga mudah dibawa ke mana-mana,” terang mahasiswa yang sedang menjalani program profesi untuk mendapat gelar dokter itu.

Dimensi Aladdin memang terbilang kompak. Seperti kotak dengan ukuran panjang 41 sentimeter, lebar 30 sentimeter, dan tingginya sekitar 25 sentimeter.

Kotak itu sesuai dengan kebutuhan dokter untuk membawa peralatan medis, khususnya dokter gigi.

Bisa juga dibawa mahasiswa kedokteran gigi saat praktikum sebagai wadah peralatan mereka yang cukup banyak.

Ada juga beberapa kelebihan lain dari Aladdin. Di antaranya, menggunakan panel surya sebagai sumber energinya. (Bersambung ke halaman selanjutnya)



Sekali pengisian daya hingga penuh, alat itu bisa digunakan empat hingga lima jam. Aladdin juga bisa mempersingkat waktu sterilisasi.

Rata-rata hanya lima menit saja. Padahal kalau menggunakan Autoklaf, sterilisasi memakan waktu hingga 15 menit. ”Bisa hemat waktu hingga 10 menit,” terangnya.

Biaya untuk membuat Aladdin juga terbilang ekonomis. Satu unit sekitar Rp 4 juta. Bisa dijual dengan harga Rp 5 juta.

Jauh lebih murah dibanding alat sterilisasi selama ini yang mencapai Rp 10 juta.

Shofi mengatakan, alat tersebut bisa terealisasi dengan baik berkat kerja sama lintas disiplin ilmu pengetahuan. Anggota tim yang menciptakan Aladdin terdiri dari tujuh orang.

Dua mahasiswa dari Fakultas Kedokteran Gigi UB, yakni Shofi Ramadhani dan Linda Risalatul Muyasaroh.
Baca Juga : Pemkot Malang Gandeng Universitas Brawijaya Susun Masterplan Drainase.

Sementara lima anggota lainnya adalah mahasiswa Fakultas Teknik UB. Yakni Muhamad Romadhani Prabowo, M. Dilan Linoval, Akmal Mulki Majid, Raden Aryanta Luthfi Widyatna, dan Fadhil Raditya Abhiseka.

Meski demikian, pembuatan alat tersebut juga sempat mengalami kendala. Misalnya, untuk mengoneksikan alat sterilisasi dengan perangkat aplikasi yang ada di laptop harus melalui serangkaian kegagalan.

Sering kali error karena program yang tidak sesuai. ”Kami perlu menyesuaikan coding-nya satu per satu. Itu untuk mendeteksi bakteri yang sudah kita setting agar bisa terbaca,” ungkapnya.

Untuk pengecekan bakteri dan sejenisnya menjadi urusan Shofi dan temannya dari FKG UB. Sedangkan untuk kesempurnaan alat, mesin, dan program aplikasi merupakan tanggung jawab anggota tim yang berasal dari FT UB.

Shofi berharap inovasi berupa alat sterilisasi itu tidak berhenti pada hasil riset yang terpajang dalam pameran. Dia berharap ada pihak yang melirik karyanya agar bisa diproduksi secara massal.

Sehingga, Aladdin mampu membantu tenaga medis di daerah terpencil untuk membersihkan dan menyimpan peralatan medisnya. (*/fat) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
##beritamalang #radarmalang ##internetofthings ##jawaposradarmalang #UB #inovasi ##mediaonlinemalang ##beritamalanghariini ##radarmalanghariini