MALANG- Universitas Negeri Malang (UM) sedang gencar-gencarnya melakukan aksi lingkungan. Baik dalam kampus maupun di luar kampus.
Hal itu sejalan dengan strategi pengembangan dan keberlanjutan program kerja UM, yaitu membangun kampus sehat dan mencerdaskan.
Pada Rabu (27/6), Prof Dr Sumarmi MPd, Ketua UM Green Campus dan dan semua TIM GC UM, mengajak para staf bagian pertamanan UM untuk belajar dan membuat biomol.
Pada dasarnya, biomol merupakan hasil fermentasi limbah organik menjadi bahan yang mempunyai banyak manfaat.
Secara garis besar, cairan hasil fermentasi biomol dapat digunakan sebagai bahan untuk mempercepat fermentasi pupuk organik.
Biomol mampu menjadi sarana untuk mengurangi penggunaan bahan kimia dan membudayakan gaya hidup berkelanjutan. Hasil sampah yang telah diolah bersama menjadi sesuatu yang bermanfaat, salah satunya adalah biomol.
"Cara pembuatan biomol cukup mudah. Pertama, sebelum pembuatan biomol dimulai, teman-teman Staf Tendik bagian Pertamanan diharuskan mengumpulkam sampah organik, seperti kulit buah dan sampah sayur dari beberapa kantin di UM," terang Prof Sumarmi.
Setelah itu, beberapa barang yang perlu dipersiapkan untuk membuat biomol ini adalah gunting, drum, air, gula merah yang telah dilarutkan, dan dedak bekatul.
Begitu alat dan bahan siap, maka sampah- sampah organik yang telah diperoleh digunting menjadi potongan yang lebih kecil.
Selanjutnya, seluruh sampah dimasukkan ke dalam setengah bagian drum berisi air, baru kemudian dimasukkan dedak bekatul.
"Setelah itu, barulah dimasukkan larutan gula merah sejumlah, dan terakhir diberi sedikit Biomol/EM4 yang sudah jadi sebagai pemicu pengembangbiakan bakteri. Terakhir, drum ditutup dan dapat dipanen setelah 1 bulan," terangnya.
Prof Sumarmi berharap kegiatan ini dapat menghasilkan sesuatu yang awalnya barang sudah tidak berguna, menjadi berguna. Karena sampah yang terolah tersebut memungkinkan sekali menjadi hal yang sangat bermanfaat.
Biomol yang dibuat itu menurutnyai akan dimanfaatkan sebagai pengolah sampah organik yang ada di UM.
"Karena kita perlu bergerak dari hal yang sederhana terlebih dahulu di lingkungan kampus kita tercinta. Ke depan tidak hanya berdampak pada lingkungan kampus, tetapi juga untuk masyarakat," kata dia.
Dengan begitu, ucap Prof Sumarmi, seluruh civitas UM memiliki harapan besar agar teman-teman tendik bagian pertamanan dan mahasiswa UM memiliki jiwa peduli lingkungan yang tinggi sekaligus memiliki gaya hidup berkelanjutan.
Sehingga suatu saat sampah dari UM semuanya dapat terkelola di dalam kampus, dan zero waste ke TPA. (Jprm1/nen)
Editor : Neny Fitrin