Sehingga palang pintu akan otomatis terbuka ketika wajah pengendara dikenal sebagai civitas akademika UM.
Awalnya, tim Direktorat Inovasi UM tersebut terinspirasi dari sistem face recognition yang dipakai oleh Kantor PLN UIP Jawa Bagian Timur dan Bali (JBTB) Ketintang, Surabaya.
Penerapan sistem tersebut sudah mencakup parkir hingga presensi hanya dengan mendeteksi wajah.
Kepala Divisi Pusat Unggulan Ipteks Perguruan Tinggi Disruptive Learning Innovation (PUIPT DLI) UM Harits Ar Rosyid ST MT PhD mengatakan, untuk membuat sistem yang sama persis membutuhkan biaya yang besar.
Sehingga, pihaknya mencari mencari cara untuk menciptakan sistem yang sama namun dengan biaya minim.
”Akhirnya kami menemukan semacam frameworks untuk computer vision,” tuturnya.
Tak sendiran, dia dibantu oleh Tim Pengembangan PUI DLI UM M. Zainal Arifin PhD dan Kepala Pusat Publika UM Prof Aji Prasetya Wibawa PhD.
Dengan teknologi AI tersebut, mesin atau komputer dapat mengenali dan menganalisis suatu item.
Namun, mesin tersebut tidak langsung dapat dipakai karena harus ada data wajah-wajah di civitas UM yang digunakan mesin tersebut belajar mengenal.
Untuk itu, pihaknya berkolaborasi dengan Tim Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (PTIK) UM mengumpulkan gambar wajah seluruh civitas UM, mulai dari dosen hingga mahasiswa.
Totalnya sekitar 65 ribu wajah.
Tahap pengumpulan wajah ini menjadi yang cukup krusial, untuk memastikan mesin dapat benar-benar mengenali wajah warga UM.
Mulai tahap pengembangan hingga implementasi, sistem tersebut hanya membutuhkan dana 25 persen dari yang seharusnya dikeluarkan apabila memakai sistem yang sama dengan PLN JBTB.