Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kenalkan Dunia Investasi ke Pelajar SD

Fathoni Prakarsa Nanda • Senin, 20 Januari 2025 | 18:05 WIB
Photo
Photo

Masih secara Informal, Bisa Diintegrasikan dengan Pelajaran Lain

MALANG KOTA – Edukasi tentang pasar modal makin gencar diberikan kepada seluruh elemen masyarakat. 

Mulai dari Pegawai Negeri Sipil (PNS), ibu rumah tangga hingga mahasiswa. 

Tahun ini muncul wacana untuk memasukkan materi investasi pasar modal dalam kurikulum pembelajaran SD. 

Photo
Photo

Wacana yang diusulkan oleh Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani tersebut mendapat banyak dukungan sekaligus kritik. 

Beberapa pihak beranggapan materi itu masih terlalu rumit untuk diterima anak usia SD. 

Namun tak sedikit juga pihak yang mendukung integrasi pasar modal dengan kurikulum pendidikan dasar.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang Biger A. Maghribi menjelaskan, materi pasar modal yang dimaksud merupakan pengenalan-pengenalan dasar. 

Intinya menunjukkan bahwa terdapat pilihan lain untuk menyimpan uang selain menabung, yakni investasi. 

“Ilmu nya akan sangat dasar sekali. Misalnya penjelasan pasar modal itu apa, yakni tempat bertemunya pemodal dan yang membutuhkan modal,” terang Biger. 

Selama ini OJK Malang sudah banyak melakukan edukasi keuangan di sekolah-sekolah. 

Mulai SD, SMP, SMA, hingga SMK. 

”Untuk anak-anak SD, tahun lalu kita ke Kecamatan Ngantang. Mereka sangat antusias,” tuturnya. 

Materi yang diberikan lebih banyak menge nalkan cara menyisihkan uang dan pilihan untuk menyimpannya. 

Salah satunya dengan menginvestasikan ke pasar modal. 

Tahun ini, pengenalan pasar modal juga menjadi fokus utama OJK, sehingga akan lebih banyak lagi lapisan masyarakat termasuk yang akan menjadi sasaran edukasi. 

Bahkan, kata Biger, bisa saja edukasi diberikan mulai usia Taman Kanak-Kanak, yang tentunya juga menyasar para orang tua atau pendampingnya pada saat edukasi. 

Untuk sementara edukasi terkait pasar modal ke sekolah-sekolah masih bersifat informal. 

Belum terstruktur masuk di kurikulum. 

Pihaknya ingin agar materi pelajaran sekolah diintegrasikan dengan elemen-elemen investasi. 

Bukan praktik pasar modal. 

Misal nya pengetahuan dasar terkait tujuan investasi, profil risiko, keamanan dan lain-lain. 

Dengan begitu, anak-anak dapat bijak secara keuangan dan familiar dengan investasi pasar modal. 

“Harapannya akan seperti Singapura yang warganya sudah paham investasi sejak muda,” imbuh Biger. 

Untuk dapat terjun langsung ke pada pasar modal memang memerlukan KTP. 

Artinya investor harus berusia 17 tahun ke atas. 

Karena itu, edukasi pasar modal yang lebih kompleks akan lebih pas diajarkan saat di bangku SMA dan juga perkuliahan. 

Peneliti Senior Pusat Penelitian Kebijakan Ekonomi (PP KE) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Brawijaya (UB) Joko Budi Susanto menyebutkan, saat ini lembaga atau instrumen investasi sangat mudah diakses. 

Terlebih oleh anak muda yang melek teknologi. 

Kemudahan berinvestasi melalui berbagai aplikasi trading yang dapat dilakukan melalui smartphone tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi kalangan anak muda. 

Dia sepakat literasi keuangan terkait pasar modal perlu digencarkan untuk anak muda, bahkan kepada anak usia SD. 

Tujuannya agar merek tidak terjerumus pada investasi ilegal. 

Tapi, materi pembelajaran harus tetap disesuaikan dengan level pendidikan, 

“Untuk anak-anak sekolah dasar, tentu muatannya lebih pada pengenalan pasar modal sebagai salah satu instrumen untuk investasi dan sumber modal,” tuturnya. 

Pasar modal cukup dikenal kan sebagai salah satu mesin dalam menggerakkan perekonomian. 

Edukasi Investasi Bisa lewat Permainan 

Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang Muflikh Adhim merespons positif wacana pembelajaran saham mulai jenjang pendidikan dasar. 

Dia bahkan melihat ada beberapa lembaga pendidikan yang sudah mengenalkan investasi kepada para pelajar. 

Terutama dari sekolah swasta. 

Tapi bentuk pengenalannya masih dalam konteks yang sederhana. 

Seperti membuat produk sederhana yang kemudian dipresentasikan kepada orang tua dan dijual. 

”Kalau untuk pembelajaran pasar modal, kami masih menunggu arahan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen). Sampai sekarang belum ada petunjuk teknis terkait materi yang akan disampaikan kepada pelajar,” ujarnya. 

Sementara itu, Senior Customer Relationship PT Sucor Sekuritas cabang Malang Agus Priyono menilai pembelajaran investasi sejak dini sebenarnya bagus. 

Sebab, anak-anak jadi bisa memiliki pemahaman tentang perencanaan keuangan. 

Agar lebih bisa diterima, bentuk pengenalannya bisa dikemas melalui permainan-permainan menarik. 

Salah satunya game adalah monopoli. 

“Monopoli itu sebenarnya berbau edukasi investasi. Mungkin hanya perlu dipertajam dengan poin-poin yang berkaitan dengan investasi di Indonesia,” terangnya. 

Agus memberi contoh, dalam permainan monopoli terdapat pembelian aset berupa bangunan atau tempat. 

Orang tua atau guru yang mendampingi anak-anak bermain bisa mengenalkan pembelian aset sebagai investasi. 

”Tapi sembari menyisipkan edukasi soal saham, reksadana, hingga obligasi,” imbuhnya. 

Yang perlu menjadi catatan, lanjut Agus, pembelajaran pasar modal untuk anak SD membutuhkan pengajar dengan latar belakang pendidikan ekonomi. 

Bahkan pengajar tersebut perlu memahami psikologis anak anak, sehingga edukasi bisa disampaikan dengan sederhana. 

Tidak semua anak usia SD juga cocok diberikan materi tentang investasi. 

Menurut Agus, yang sudah mulai bisa menerima materi seperti itu adalah siswa kelas 5 dan 6. 

Hal tersebut juga sudah diterapkan Agus kepada anaknya yang sedang menempuh pendidikan kelas 6 SD. 

”Kalau untuk terjun ke investasi dan pasar modal, pelajar usia SMA sudah tepat karena sudah berpikir untuk masa depan,” imbuhnya. 

Saat ini, Agus juga melihat para pelajar SMA sekarang sudah antusias mempelajari investasi. 

Hal itu bisa didorong dengan memberikan stimulan seperti buku terkait pasar modal atau bantuan top up saat awal membuka rekening efek. 

Selain pelajar usia sekolah, edukasi tentang investasi banyak dilakukan di tingkat mahasiswa. 

Salah satu mahasiswa yang menjajal investasi adalah Agung Triatmojo. 

Mahasiswa Unmer itu mulai melakukan investasi pada Oktober 2023. 

Dia memilih investasi saham karena bisa mendapat dua keuntungan, yakni dividen dan capital gain. 

”Kebetulan linier dengan jurusan yang saya tempuh sekarang, yakni akuntansi,” ceritanya. 

Karena belum bekerja, Agung mencoba investasi dengan modal awal Rp 600 ribu. 

Dari modal yang ada, Agung mencoba memutar saham. 

Kebetulan pada Oktober 2023 sedang ada perusahaan di sektor energi yang IPO dan memiliki laporan keuangan yang bagus. 

Sejauh ini Agung mengaku sudah mendapat untung lebih dari Rp 5 juta. 

Namun, pernah juga dia mengalami kerugian karena terlalu mengandalkan perasaan tanpa analisis. 

”Selain sektor energi, saya pernah menjajal saham untuk sektor lainnya. Yang menurut saya juga potensial saat ini adalah saham perusahaan pertambangan dan properti,” tandasnya. (dur/mel/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#investasi pasar modal #kenalkan #pasar modal #Edukasi #mahasiswa #kurikulum pembelajaran #Masyarakat #pns #SD #ibu rumah tangga