ISTILAH ini berasal dari serapan Bahasa Belanda, yakni spoor.
Istilah itu kemudian disesuaikan dengan pelafalan warga Malang dan Jawa.
Jadilah istilah sepor.
Selain sepor, ada kata lain yang serupa.
Salah satunya yaitu praoto.
Pada masa penjajahan, kata truk belum ada.
Sehingga masyarakat pada zaman itu menyebut kendaraan besar dengan praoto.
Istilah itu juga berasal dari Bahasa Belanda, yakni vrachtauto.
Berdasar pengamatan Peneliti Bahasa Universitas Negeri Malang (UM) Nurenzia Sidharta, arti spoor sebenarnya berbeda dengan sepor.
Sepor lebih merujuk kepada kereta api.
Sedangkan spoor dalam Bahasa Belanda bermakna rel kereta api, bukan alat transportasinya.
Nurenzia lantas mencontohkan, penggunaan kata spoor dalam Bahasa Belanda.
Seperti het spoor loopt parallel aan snelweg 99.
Yang memiliki arti, rel kereta itu memanjang sejajar dengan jalan tol 99.
”Kalau pengucapan dalam Bahasa Belanda itu spor. Dengan o seperti mengucapkan kata botok,” jelasnya.
Sedangkan contoh pengucapan dalam Bahasa Jawa seperti ”Nang Suroboyo numpak sepur sing jam piro?”
Selain di Malang, istilah sepor juga banyak dipakai di daerah-daerah lain.
Hampir seluruh daerah di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah mengenalnya. (adk/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana