Edukasi dan Hidupkan Imajinasi Siswa lewat Praktisi.
Sekolah-sekolah di pelosok Kabupaten Malang jadi tujuan Kelas Inspirasi Malang (Kilang). Ratusan orang dari beragam profesi dihadirkan untuk berbagi pengalaman. Salah satu tujuannya, membuka cakrawala ilmu anak-anak.
BELASAN siswa-siswi SDN 4 Gunungjati, Kecamatan Jabung tampak antusias mendengarkan penjelasan dari seorang apoteker. Apoteker yang jadi relawan di Kelas Inspirasi Malang (Kilang) itu tidak hanya menjelaskan teori. Dia juga membawa mortar dan pestle sebagai wadah untuk menggerus obat.
Beberapa anak juga ikut mencoba menggerus obat dengan bimbingan apoteker tersebut. Suasana itu merupakan salah satu gambaran bagaimana aktivitas Kilang pada November 2024 lalu. Tahun lalu mereka memberi inspirasi di sekolah yang ada di Kecamatan Poncokusumo dan Jabung.
Kelas inspirasi itu pertama kali berdiri di Jakarta pada 25 April 2012. Dianggap berpengaruh positif, beberapa kota besar mulai mendirikan. Di antaranya Surabaya, Bandung, Jogjakarta, Pekanbaru, dan Solo. Sedangkan di Malang berdiri pada 20 Februari 2013.
”Sudah masuk tahun ke-11 pada 2024 lalu. Karena waktu pandemi tidak ada kegiatan belajar mengajar,” ucap Secretary and Treasurer Kelas Inspirasi Malang 11 Shafa Fadlilah Harditama ditemui Rabu (25/6) lalu.
Sejak awal berdiri, terdapat 162 sekolah yang sudah didatangi tim Kilang. Sekolah-sekolah yang dituju berada di pelosok Kabupaten Malang. Contohnya, Pujon, Ngantang, Poncokusumo, dan Jabung. Jumlah sekolah di masing-masing kecamatan yang dikunjungi beragam.
Bergantung dengan karakteristik sekolah yang sesuai dengan kriteria Kilang. Ada sembilan sekolah, ada juga yang 10 sekolah di setiap wilayah. ”Tahun ini kami akan melaksanakan di Ngajum. Sekolahnya ada 11,” kata perempuan berusia 21 tahun tersebut.
Sebelum disepakati di sana, tim Kilang sempat survei di kecamatan Dampit dan Turen. Tapi, akibat jarak yang ditempuh terlalu jauh. Mereka memutuskan untuk mencari lokasi lain di sekitar Gunung Kawi. Mulai dari Wagir, Ngajum, dan Wonosari.
Kilang melihat akreditasi dan jumlah siswa sebagai kriteria sekolah yang dikunjungi. Prioritasnya sekolah dengan siswa di bawah 100 anak. Semakin sedikit jumlahnya, akan semakin jadi pilihan.
”Biasanya, sekolah-sekolah seperti itu masih terbelakang. Tidak ada perpustakaan, tidak ada laboratorium, maupun fasilitas-fasilitas lain,” kata perempuan asal Merauke itu. Kilang ingin menjadi sarana atau wadah anak-anak belajar di luar aktivitas sekolah. Satu tujuannya membuka cakrawala ilmu dan wawasan.
Dalam kegiatan Kilang, yang diajarkan merupakan hal-hal yang berhubungan dengan dunia profesi. Para relawan merupakan praktisi dengan pengalaman bekerja minimal dua tahun. Saat ini, sudah ada lebih dari 100 ragam profesi yang ambil bagian di kelas inspirasi itu.
Mulai dari dokter, apoteker, pilot, pegawai bea cukai, pegawai pemadam kebakaran (damkar), dan sebagainya. Semakin unik profesi dan cara mendemonstrasikan, peluang diterima jadi relawan semakin besar. Di satu sekolah, akan ada 6-7 orang praktisi yang mengajar.
Setiap tahun ada 60-70 pengajar. Mereka akan berbagi pengalaman dan ilmu terkait profesinya dalam waktu 30 menit. Sampai hari ini ada 600-700 sekolah tingkat SD yang dikunjungi Kilang.
”Profesi dari dunia kreatif juga ada. Misalnya script writer, desainer grafis, desainer produk, voice over, hingga web developer. Salah satu yang unik cosplayer,” ujar Shafa. Cosplayer itu menggunakan kostum spiderman untuk mendemonstrasikan profesinya. Anak-anak pun semakin antusias menyambut materi tersebut.
Begitu pula dengan profesi lainnya. Seperti voice over yang membawa mikrofon dan audio mixer. Ada juga web developer yang membawa laptop. Siswa-siswi diajarkan langkah-langkah membuat aplikasi secara sederhana. Sedangkan profesi reporter membuat model televisi dan mikrofon dari karton.
Relawan atau praktisi yang ikut kegiatan Kilang berasal dari seluruh Indonesia. Mulai dari Pulau Jawa hingga luar pulau. Seperti Sulawesi dan Kalimantan. Semua akomodasi ditanggung oleh masing-masing relawan.
Itu karena, semua kegiatan yang dilaksanakan tidak dipungut biaya. ”Biaya operasional kami peroleh dari menjual merchandise. Kami tidak menerima sponsor, CSR (Corporate Social Responsibility), dan kerja sama lainnya,” ucapannya. Alasannya, khawatir ada ikatan sama salah satu brand.
Sebagai informasi, ada tujuh sikap dasar yang harus diterapkan oleh relawan Kilang selama bertugas. Yakni sukarela, bebas kepentingan, tanpa biaya, siap belajar, tulus, siap bersilaturahmi, dan ambil bagian. (*/gp)
Editor : A. Nugroho