MALANG RAYA – Berbagai strategi diterapkan SMA swasta untuk menggaet pendaftar. Dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ini, ada sekolah yang berani memberikan cashback untuk pendaftar, mengiming-imingi beasiswa, hingga kemudahan lain yang memikat calon siswa (selengkapnya baca grafis).
Di Kabupaten Malang, SMA swasta meniadakan pagu. Artinya, berapa pun siswa yang mendaftar akan diterima. Sebaliknya, jika hanya satu pendaftar pun tidak dapat dikategorikan pagu kosong. Akan tetapi ada juga SMA swasta yang menerapkan sistem pagu. ”Sesuai kebijakan masing-masing sekolah. Ada yang menerapkan kuota melalui sistem seleksi, tetapi ada juga yang menerima semua pendaftar,” ujar Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Swasta Kabupaten Malang Fatkhurrozi kemarin.
Fatkhurrozi yang juga kepala SMA Islam An-Nuuru Tirtoyudo itu mengatakan, sekolah menerima 50-60 siswa. Mereka dibagi menjadi dua rombongan belajar (rombel). “Tidak ada persyaratan khusus, hanya lulusan SMP atau sederajat. Karena kami ini swasta yang letaknya di desa,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala SMA Islam Al-Maarif Tutik Susanti menerapkan strategi untuk memenuhi kuota. “Salah satunya dengan memberikan cashback untuk setiap jalur pendaftaran. Paling akhir yakni jalur khusus tanpa cashback,” imbuhnya.
Masing-masing jalur memiliki nominal cashback yang berbeda. Untuk jalur inden, dia melanjutkan, cashback-nya mencapai Rp 1,5 juta, gelombang pertama Rp 1 juta, dan gelombang kedua Rp 500 ribu. Sehingga dengan biaya pendaftaran yang seharusnya Rp 6 juta, siswa tersebut mendapat potongan sesuai jalur masuknya. Misalnya jika siswa masuk melalui gelombang kedua, mereka cukup membayar Rp 5,5 juta.
Strategi lain yang dilakukan yakni mempromosikan keunggulan sekolah melalui media sosial (medsos). Misalnya menunjukkan prestasi-prestasi yang diraih siswa-siswinya. Sedangkan jadwal pendaftaran disosialisasikan melalui medsos.
Dengan strategi tersebut, sekolahnya menyiapkan enam rombel dalam SPMB SMA swasta tahun ini. Masing-masing rombel berisi 36 siswa, sehingga sekolah itu menargetkan akan menerima 216 siswa. “Saat ini sudah terpenuhi empat rombel,” katanya.
Terdapat empat jadwal pendaftaran yang dibuka. Yakni jalur inden yang dibuka pada 16 Oktober sampai 31 Desember 2024 lalu. Jalur tersebut untuk pendaftar yang menjadikan SMA Islam Al-Maarif sebagai pilihan pertama. Gelombang pertama pada 1 Januari sampai 20 Maret 2025 lalu, gelombang kedua pada 1 April sampai 20 Juni lalu, dan gelombang khusus pada 1-15 Juli depan. Gelombang khusus tersebut untuk memenuhi kuota.
SMA Swasta Ikut SPMB Online
Lantas bagaimana dengan Kota Malang? SMA swasta membuka SPMB secara online seperti sekolah negeri. Kasi SMA dan PKLPK Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Kota Malang dan Kota Batu Muhammad Asrofi mengatakan, ada 11 SMA swasta yang mengikuti SPMB online. Di antaranya SMA Ibnu Sina, SMA Islam Nusantara, SMA Nasional Malang, dan SMA Kertanegara. ”Memang tidak semua ikut SPMB online. Biasanya yang ikut yang menawarkan kerja sama,” kata dia.
Kendati demikian, untuk menarik minat siswa agar mendaftar, masing-masing SMA swasta juga harus berbenah dan memiliki inovasi. Misalnya memiliki layanan pendidikan unggulan. Bisa berupa kegiatan siswa atau ekstrakurikuler, fasilitas, hingga layanan lainnya.
Ketua MKKS SMA Swasta Kota Malang Br Antonius Sumardi O Carm memaparkan, adanya SPMB online berpotensi membantu sekolah yang kesulitan memenuhi pagu. ”Sebelum ikut SPMB online, pihak sekolah biasanya akan mendapat tawaran dari cabang dinas pendidikan melalui WhatsApp group. Mereka diminta untuk melampirkan kesediaan,” terangnya.
Namun ada pula SMA swasta yang membuka pendaftaran lebih awal untuk mengantisipasi kekurangan murid. Termasuk SMA Katolik St Albertus (SMA Dempo) yang dipimpinnya. Menurut Antonius, beberapa sekolah seperti SMA Frateran, SMA Dempo, dan SMA Santa Maria biasanya membuka pendaftaran lebih awal. ”Untuk SMA Dempo sudah buka pendaftaran sejak September 2024 lalu,” sambung dia.
Selain tiga sekolah itu, dia melanjutkan, beberapa sekolah yang muridnya di atas 500 siswa kebanyakan membuka SPMB mandiri. Jika ditotal, Antonius menyebut ada delapan SMA swasta yang sudah memenuhi pagu. Namun pilihan mengikuti SPMB online seperti sekolah negeri bergantung keputusan sekolah masing-masing.
Dia menambahkan, persoalan pagu menjadi masalah SMA swasta setiap tahun. Penyebabnya beragam. Seperti siswa cenderung memilih SMA negeri dan melakukan pencabutan berkas setelah diterima. ”Tapi pihak sekolah swasta pun tidak bisa menyalahkan, karena memilih sekolah adalah hak masing-masing murid,” tandasnya.
Baru Tiga Sekolah Penuhi Pagu
Di Kota Batu, baru ada tiga SMA swasta yang memenuhi pagu. Yakni SMA Immanuel Batu, SMA Islam Al Izzah Batu dan SMA Islam Al Hikmah Batu. Kepala Seksi SMA dan PKLPK Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Kota Malang dan Kota Batu M. Asrofi mengatakan, SMA swasta kekurangan siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor. Seperti banyaknya orang yang menganggap sekolah swasta kurang bagus dibandingkan sekolah negeri. “Sejauh ini memang ada SMA swasta yang terkesan favorit, tapi khususnya boarding school,” terangnya.
Sedangkan SMA swasta lainnya kurang berinovasi dalam mengembangkan fasilitas sekolah. “Mungkin karena terbatasnya biaya operasional dari yayasan juga,” jelasnya.
Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Provinsi Jawa Timur Aries Agung Paewai menambahkan, SMA swasta tidak perlu khawatir tahun ini. Sebab, ada peluang bagi siswa yang tidak diterima di sekolah negeri. “Kami mengalokasikan dua jenis beasiswa, yakni penuh dan 50 persen,” terangnya kemarin (29/6).
Di Kota Batu, ada 50 kuota yang dibuka untuk siswa baru. Sementara syarat penerimanya bergantung kebijakan sekolah masing-masing. Misalnya dialokasikan kepada siswa tidak mampu hingga memiliki prestasi akademik. “Dengan skema itu akan membantu sekolah swasta memenuhi pagu sekaligus membantu siswa yang kurang mampu,” jelasnya.
Di lain pihak, Ketua MKKS SMA Swasta Kota Batu Wahono mengatakan, tidak semua sekolah mengikuti program tersebut. Dari sembilan SMA swasta, hanya dua sekolah yang mengikuti program beasiswa. Yakni SMA Immanuel Batu dan SMA Katolik Yos Sudarso Batu.
Untuk diketahui, ada dua jenis beasiswa yang digelontorkan. Yakni beasiswa full yang didanai penuh oleh Pemprov Jatim. Sementara potongan beasiswa 50 persen biaya akan ditanggung oleh siswa itu sendiri. “Untuk sekolah kami (SMA Immanuel Batu) membuka 20 kuota,” katanya. Sebanyak 10 kuota beasiswa penuh dan 10 kuota lainnya untuk beasiswa potongan 50 persen.
Sementara itu, di SMA Katolik Yos Sudarso Batu mengalokasikan 20 kursi beasiswa penuh dan 10 kursi beasiswa potongan 50 persen. Kendati begitu, Wahono tak menyebut alasan pasti mengapa beberapa sekolah yang tidak mengikuti program beasiswa.
Dia menduga ada keterbatasan biaya, sehingga tidak bisa turut andil menyediakan beasiswa. Apalagi nominal beasiswa yang digelontorkan Pemprov Jatim lebih kecil daripada SPP yang harus dibayarkan semestinya.(ori/mel/yun/dan)
Editor : A. Nugroho