MALANG KOTA – Tren lulusan SMA yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi terus meningkat. Saat ini, persentasenya telah mencapai 80 persen. Sisanya, sekitar 20 persen masih menunggu diterima di kampus pilihan atau memutuskan langsung bekerja.
Kepala Seksi SMA Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Malang-Batu Asrofi menjelaskan, peningkatan ini tidak lepas dari pemetaan studi lanjut siswa yang sudah dilakukan sejak lulusan SMP. ”Kalau memang niatnya kerja, langsung kami arahkan ke SMK,” ujar Asrofi.
Pemetaan dilakukan melalui guru Bimbingan Konseling (BK). Siswa yang berniat kuliah, dengan kondisi ekonomi dan kemampuan akademik memadai, diarahkan ke SMA.
Meski begitu, Asrofi menilai sangat sulit mengarahkan 100 persen lulusan SMA untuk kuliah. ”Masalahnya cukup kompleks, jadi bisa mencapai angka 80 persen saja sudah luar biasa,” katanya.
Jalan lain untuk melanjutkan studi adalah melalui beasiswa. Namun, persaingan cukup ketat dan setiap siswa harus mempersiapkan tes sejak dini. Biaya les tambahan juga menjadi penghalang sebagian siswa untuk mengikuti tes masuk perguruan tinggi.
Di sisi lain, Kepala SMA Dempo Romo Sumardi menyebut dari 378 lulusannya tahun ajaran 2024/2025, tinggal 7 persen yang belum kuliah. ”Mereka belum mendapat tempat kuliah sesuai keinginan dan masih menunggu sampai yang dicita-citakan tercapai,” ujarnya.
Siswa yang belum kuliah biasanya memilih belajar bahasa asing karena sebagian besar menargetkan perguruan tinggi luar negeri. Sementara lulusan SMA negeri mayoritas langsung kuliah dan sisanya memilih bekerja atau menunda perkuliahan untuk mencari biaya.
Dengan pemetaan dan dukungan sejak dini, angka kelulusan yang melanjutkan ke perguruan tinggi di Kota Malang menunjukkan tren positif. Meski tantangan ekonomi masih menjadi hambatan bagi sebagian siswa. (aff/adn)
Editor : A. Nugroho