Jauh sebelum ada program Makan Bergizi Gratis (MBG), Yayasan An-Nur 1 Bululawang sudah punya dapur makanan sendiri. Ketika program MBG dimulai Januari 2025 lalu, mereka jadi salah satu yang paling siap menjalankannya.
Pemberian Makan Bergizi Gratis (MBG) di MTs An-Nur Bululawang berbeda dari sekolah kebanyakan. Sebab, yang menyuplai bukan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dari luar. Sebab, mereka sudah punya SPPG sendiri.
Dapur MBG milik madrasah tersebut sudah berdiri sejak Januari 2025 lalu. Total ada 397 anak penerima MBG di sana. Koordinator MBG MTs An-Nur Bululawang Ahmad Baihaqi menyampaikan, sejak awal program tersebut dicanangkan Presiden RI Prabowo Subianto, pihaknya sudah siap.
Mereka sudah memiliki gedung untuk dapur sehat. ”Kami memiliki dapur sendiri (SPPG Yayasan An-Nur 1 Bululawang) dan makanan yang diberikan tidak ada yang instan,” ucap dia. Menu yang diberikan setiap hari juga bervariasi. Namun, tetap terdiri dari nasi sebagai sumber karbohidrat, lauk-pauk sebagai sumber protein, sayur dan buah sebagai sumber serat, dan susu sebagai pelengkap.
Makanan tersebut umumnya diberikan kepada para pelajar setiap pukul 11.30. ”Saat bulan Ramadan lalu juga tetap ada MBG. Kami bagikan dalam bentuk kemasan,” imbuhnya.
Khusus bulan Ramadan, menu yang diberikan yakni makanan yang tidak mudah basi, namun tetap memerhatikan nilai gizi. Seperti biskuit, kurma, dan susu. Sehingga bisa dikonsumsi saat berbuka.
Sebelum ada MBG, siswa-siswinya bertanggung jawab atas makanannya sendiri. Baik santri di Pondok Pesantren (Ponpes) An-Nur maupun siswa-siswi yang pulang-pergi. Biasanya, mereka hanya makan saat pagi dan sore.
Namun, dengan adanya MBG, mereka makan tiga kali sehari. Yakni pagi, siang, dan sore. ”Alhamdulillah, sampai saat ini belum ada kendala pelaksanaan MBG. Semuanya berjalan lancar,” kata Baihaqi.
Sementara itu, seperti diberitakan, setiap SPPG maksimal hanya melayani 3.500 porsi per hari. Radius pelayanannya sekitar 4 sampai 6 kilometer dari SPPG. Bagi yang memiliki alergi terhadap makanan tertentu tidak perlu khawatir.
Tim SPPG sudah menerima data dari masing-masing sekolah. Sebagai contoh, di MI Nurul Yaqin kelas 4 sampai 6 terdapat empat anak yang alergi ikan laut. Kemudian, di MI Taufiqiyah, ada dua anak yang alergi ayam. Sehingga menu bisa disesuaikan. (yun/by)
Editor : A. Nugroho