Minuman Bisa Bertahan Dua Pekan tanpa Kulkas
Kopi yang basi saat pengiriman ke Bali membuat pelaku usaha Asal Dampit nyaris menyerah. Tapi lima mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) datang membawa harapan lewat mesin hasil racikan tangan dan pikiran mereka. Mesin itu mampu menjaga rasa kopi tetap hidup meski tanpa bantuan pendingin.
DUA ratus cup kopi susu yang dikirim dari Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, menuju Bali itu tak pernah sampai dalam keadaan layak minum. Setelah dua hari perjalanan seluruhnya basi. Aroma asam muncul ketika tutup cup dibuka satu per satu.
Pemilik Kopi Waringin yang mengirim kopi susu itu hanya bisa pasrah. Kerugian datang bukan hanya dari uang, tapi juga dari reputasi.
Kegagalan itu ternyata menjadi titik balik. Dari kisah sedih tersebut, lahirlah gagasan besar. Lima mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) bersepakat mencari solusi agar kopi susu tetap segar meski dikirim jauh tanpa bantuan pendingin atau kulkas.
Hasilnya kini menjadi karya inovatif yang mereka sebut Coffield, singkatan dari Coffee Pulsed Electric Field. Lima mahasiswa itu berasal dari jurusan berbeda. Emmanuel Raphael Lesmana dan Jevon Imantaka Soekardjo dari Bioteknologi, Phelia Angelina dari Ilmu dan Teknologi Pangan, Dastino Putra Rendylovind dari Teknik Bioproses, serta Anggun Istianaya Nasuwa dari Teknologi Industri Pertanian.
Selama tiga bulan, mereka bergulat dengan kabel, tabung, dan cairan kopi di laboratorium Fakultas Teknologi Pertanian (FP).
”Awalnya kami hanya ingin membantu UMKM yang kesulitan mengirim produknya keluar daerah,” ujar Dastino atau yang akrab disapa Didot.
Coffield bekerja dengan teknologi Pulsed Electric Field (PEF). Sebuah metode sterilisasi tanpa panas yang biasanya digunakan di industri pangan modern. Cara kerjanya, cairan kopi susu diberi kejutan listrik bertegangan tinggi.
Proses itu membuat dinding sel mikroba membentuk pori-pori kecil dan menurunkan aktivitas biologisnya. Akibatnya, mikroba tidak bisa berkembang biak.
”Intinya kami membuat jarak antar-sel mikroba, membuat mereka tidak aktif untuk sementara,” jelas Didot. Hasilnya, kopi susu yang diolah dengan mesin Coffield bisa bertahan hingga 14 hari di suhu ruang tanpa kulkas.
Inovasi itu menjadi bukti nyata bagaimana ilmu bioteknologi dan teknologi pangan bisa berpadu dengan kebutuhan praktis pelaku usaha kecil. Mesin Coffield juga dirancang sederhana agar mudah dioperasikan.
Bentuknya menyerupai mesin kopi rumahan, tapi dengan dua tangki besar. Tangki pertama berkapasitas 10 liter digunakan untuk proses pengadukan dan pemasakan. Sementara tangki kedua berkapasitas 5 liter menjadi tempat utama proses PEF berlangsung.
Selama enam jam, mesin bekerja otomatis mengaduk cairan kopi susu menggunakan agitator. Tujuannya menjaga kekentalan dan rasa tetap stabil. Setelah itu, cairan masuk ke tangki kedua untuk menjalani proses sterilisasi. Dari situ, kopi susu siap dikemas.
Tak berhenti di sana, tim Coffield menambahkan fitur automatic dispensing. Fitur ini membuat pengisian kopi ke dalam kemasan menjadi seragam dan praktis. Hanya dengan menekan tombol, mesin akan menuangkan kopi sesuai takaran yang sama setiap kali produksi.
Sekali pengolahan, Coffield mampu menghasilkan hingga 400 cup kopi susu. ”Kami hitung, konsumsi listriknya hanya sekitar 800 watt per jam,” jelas Didot.
Kini, Coffield tengah dalam tahap penyempurnaan. Setelah berhasil membuat kopi susu bertahan 14 hari. Tim kembali mengembangkan fitur baru, nitrogen flushing. Fitur ini bekerja dengan mengganti oksigen di dalam kemasan dengan nitrogen.
Menurut Didot, oksigen adalah sumber kehidupan mikroba. Dengan menghilangkannya, pertumbuhan mikroba bisa ditekan lebih lama. ”Kami menargetkan masa simpan kopi bisa sampai 20 hari,” katanya optimistis.
Semangat mereka kian besar setelah mendapat dukungan dari dosen pembimbing, Joko Prasetyo STP MSi. Selain itu, tim juga memperoleh pendanaan dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) untuk kategori Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Dukungan itu memberi kesempatan bagi Coffield untuk melangkah ke tahap komersialisasi.
Saat ini, satu unit mesin Coffield sudah digunakan oleh Kopi Waringin di Dampit untuk uji coba produksi. Hasilnya cukup menggembirakan. Produk kopi susu bisa dikirim tanpa rusak meski menempuh perjalanan panjang. Dari situ, tim mulai melihat peluang untuk memperluas pasar.
Mereka berencana menjual mesin ini dengan harga mulai Rp 4,5 juta agar terjangkau bagi pelaku UMKM. ”Kami ingin teknologi ini tidak hanya berhenti di laboratorium kampus,” ujar Didot. (*/adn)
Editor : A. Nugroho