Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Konsisten Meneliti, Dr Nurul Huda Masuk Daftar Ilmuwan Terbaik Dunia

Aditya Novrian • Rabu, 5 November 2025 | 19:03 WIB
KONSISTEN: Dosen Luar Biasa Universitas Brawijaya Dr Nurul Huda menunjukkan sertifikat digital penghargaan World’s Top 2 Percent Scientists 2025 yang diraihnya dari Stanford University dan Elsevier.
KONSISTEN: Dosen Luar Biasa Universitas Brawijaya Dr Nurul Huda menunjukkan sertifikat digital penghargaan World’s Top 2 Percent Scientists 2025 yang diraihnya dari Stanford University dan Elsevier.

PAGI di Kota Malang terasa sejuk ketika Dr Nurul Huda melangkah pelan menuju ruang kerjanya di kampus Universitas Brawijaya (UB).

Di meja kayunya yang sederhana, tumpukan jurnal ilmiah dan berkas penelitian tertata rapi. Di layar komputernya, deretan angka sitasi dan notifikasi publikasi baru muncul silih berganti.

Namun wajah pria berusia 57 tahun itu tetap tenang. ”Konsisten saja,” ujarnya lirih. Itu seolah mengingatkan dirinya sendiri tentang prinsip yang selama ini ia pegang teguh.

Kata ”konsisten” bukan sekadar motto. Tapi menjadi nafas hidup bagi Huda. Sejak awal menekuni dunia akademik pada 1991 di Universitas Bung Hatta, Padang, ia sudah terbiasa dengan ritme panjang penelitian dan penulisan ilmiah. Bukan jalan yang cepat apalagi mudah.

Tapi baginya, ilmu yang ditekuni dengan kesabaran akan menemukan jalannya sendiri menuju pengakuan. Keyakinan itu terbukti tahun ini, ketika nama Nurul Huda kembali muncul dalam daftar World’s Top 2 Percent Scientists 2025. Yakni daftar ilmuwan terbaik dunia yang disusun Stanford University dan Elsevier.

Tak hanya satu, Huda meraih dua kategori sekaligus. Kategori pertama adalah single year data yang menilai produktivitas peneliti dalam satu tahun terakhir.

Di bidang food science, Huda menempati peringkat ke-855 dunia berkat 20 artikel ilmiah yang terbit sepanjang tahun ini. Torehan itu bukan pertama kalinya. Sebelumnya, ia juga mengantongi penghargaan serupa pada 2022 dan 2024.

Kategori kedua yang diraih adalah career long data. Sebuah pengakuan atas konsistensinya selama berkarier di dunia penelitian. ”Pencapaian ini bukan akhir. Justru menjadi semangat bagi saya untuk terus berkarya dan menularkan semangat yang sama ke mahasiswa,” tutur Huda saat ditemui di sela kegiatannya.

Sejak bergabung sebagai dosen luar biasa di Pascasarjana Universitas Brawijaya pada 2022, Huda sudah menorehkan 47 artikel terindeks Scopus yang menyertakan nama UB di dalamnya. Angka itu hanyalah sebagian dari produktivitasnya. Jika ditotal, seluruh karya ilmiahnya telah dirujuk lebih dari 5.800 kali oleh peneliti lain di seluruh dunia.

”Bagi saya, sitasi itu lebih berharga daripada penghargaan apa pun. Itu bukti bahwa penelitian kita bermanfaat,” ujarnya.

Meski begitu, Huda bukan sosok yang terpaku pada angka. Ia lebih senang berbicara tentang proses. Tentang bagaimana sebuah ide sederhana dari mahasiswa bisa berubah menjadi artikel ilmiah yang bermanfaat bagi banyak orang.

Baginya, kebahagiaan terbesar bukan ketika namanya muncul di daftar ilmuwan dunia. Tapi saat melihat mahasiswanya berhasil menulis dan menerbitkan karya di jurnal internasional. ”Ada rasa bangga tersendiri saat mahasiswa yang dulu ragu, akhirnya percaya diri menulis. Itu yang membuat saya semangat terus membimbing,” katanya sambil tersenyum.

Karier Huda sendiri berawal dari laut dan ikan. Lulusan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan itu memulai langkah akademiknya di Universitas Bung Hatta. Lalu pada 2005 pindah ke Universitas Sains Malaysia, Penang.

Di negeri jiran itulah ketertarikannya pada food science tumbuh semakin kuat. Ia meneliti tentang pangan laut, kualitas protein ikan, dan inovasi produk berbasis hasil perikanan. Hasilnya tak hanya dipublikasikan, tapi juga digunakan oleh banyak peneliti dan industri pangan di Asia Tenggara.

Setelah hampir dua dekade menetap di Malaysia, Huda kembali menjejakkan kaki di Malang. Ia mengaku menemukan semangat baru di UB. Tempat ia bisa menularkan pengalaman lintas negara kepada mahasiswa Indonesia.

”Saya ingin mereka (mahasiswa) berani menembus jurnal internasional, jangan takut karena bahasa atau standar luar negeri. Kalau ide dan datanya kuat, pasti diterima,” ujarnya mantap.

Namun tidak semua mahasiswa mudah diarahkan. Ada yang terlalu sibuk, ada pula yang kehilangan percaya diri. Huda mengaku tak pernah lelah mengingatkan.

Ia rajin menghubungi mantan mahasiswa yang kini sudah bekerja, sekadar memastikan mereka masih menulis, masih meneliti, masih menyalakan api akademiknya.

”Kalau ada yang punya potensi besar, saya terus pantau. Kadang lewat pesan singkat saja, tapi itu bisa menyemangati mereka,” ungkapnya.

Bagi Huda, dunia penelitian bukan tentang kecepatan atau gengsi. Melainkan tentang keberlanjutan. Ilmu harus diteruskan, bukan disimpan. ”Selama masih ada waktu dan tenaga, saya ingin tetap menulis dan membimbing,” katanya pelan.

Di ruang kerjanya yang tenang, di antara tumpukan jurnal dan hasil penelitian, Nurul Huda kembali membuka laptopnya. Di layar, satu draf baru menunggu disempurnakan. Tanda bahwa dedikasinya pada ilmu belum akan berhenti dalam waktu dekat. (*/adn)

Editor : A. Nugroho
#ilmuan #Nurul #Konsisten #Huda #UB #jurnal ilmiah #dosen