MALANG KOTA – Antusiasme guru SMK di Kota Malang dan Kota Batu untuk mengikuti Diklat Jurnalistik Guru SMK terbilang tinggi. Hingga kemarin (20/1), jumlah pendaftar telah mencapai 11 orang, padahal panitia baru membuka kuota 30 peserta. Diklat tersebut dijadwalkan berlangsung Selasa (10/2) mendatang.
Diklat kali ini memiliki konsep berbeda dibanding pelaksanaan sebelumnya. Panitia menghadirkan dua pemateri profesional dari bidang jurnalistik dan kepenulisan. Redaktur Senior Jawa Pos Radar Malang Mahmudan dijadwalkan mengisi materi teknik penulisan berita yang cepat, akurat, dan sesuai kaidah jurnalistik. Selain itu, Direktur PT Cita Intrans Selaras Wawan Sulthon Fauzi MPd, yang juga dikenal sebagai penulis produktif di Kota Malang, akan membekali peserta dengan materi kepenulisan kreatif.
Tak hanya pelatihan menulis berita, peserta juga akan diarahkan menghasilkan karya bersama berupa buku antologi. Buku tersebut direncanakan menjadi buku antologi pertama yang ditulis oleh guru-guru SMK di Kota Malang dan Kota Batu.
Sejauh ini, delapan SMK negeri telah mendaftarkan guru-gurunya. Dari Kota Malang antara lain SMKN 4, SMKN 6, SMKN 8, SMKN 9, dan SMKN 11. Sementara dari Kota Batu, partisipasi datang dari SMKN 1, SMKN 2, dan SMKN 3 Batu. Bahkan, ada sekolah yang mendaftarkan lebih dari satu guru untuk mengikuti kegiatan ini.
Kepala SMKN 4 Malang, Drs Gunawan Dwiyono MPd, menilai diklat tersebut penting untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mengelola informasi sekolah. “Banyak prestasi dan kegiatan di sekolah yang sebenarnya layak diketahui publik. Tapi selama ini belum tersampaikan dengan baik. Harapannya, guru-guru bisa lebih percaya diri menulis dan mempublikasikan informasi positif sekolah,” ujarnya.
Dari SMK swasta, SMK PGRI 2 Malang juga turut berpartisipasi. Sekolah tersebut menilai kemampuan jurnalistik penting untuk menangkal informasi keliru atau hoaks yang kerap beredar di lingkungan pendidikan.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kota Malang–Kota Batu mengapresiasi tingginya minat sekolah dalam kegiatan ini. Ia berharap pelatihan tersebut mampu menghidupkan pemberitaan di media sosial sekolah sekaligus menjadi langkah awal bagi guru untuk menulis buku secara mandiri di masa mendatang. (bes/adn)
Editor : Aditya Novrian