MALANG, RADAR MALANG - Pelajar kini menghadapi tantangan serius berupa penurunan ketahanan baca terhadap teks panjang. Fenomena itu terjadi bukan karena sekadar malas membaca, melainkan melemahnya kemampuan otak untuk fokus pada narasi kompleks di tengah gempuran informasi instan.
Skor Literasi yang Mengkhawatirkan
Berdasarkan hasil PISA 2022, Indonesai berada di peringkat 69 dari 80 negara dengan skor membaca 359. Hasil ini menempatkan Indonesia pada posisi rendah dalam kemampuan mencerna teks dan membedakan fakta dari opini.
Penurunan ini diperparah oleh pola konsumsi digital yang masif. Berdasarkan laporan We Are Social, rata-rata waktu penggunaan media sosial di Indonesia melampaui 3 jam per hari, yang didominasi oleh konten audiovisual durasi pendek.
Perubahan Pola Pikir Digital
Secara neurosains, Maryanne Wolf dalam studinya menjelaskan bahwa otak digital cenderung mengadopsi pola baca "F" atau pemindaian cepat (skimming). Jalur saraf untuk pembacaan mendalam (deep reading) mulai terkikis karena jarang dilatih untuk berkonsentrasi pada teks yang padat.
Baca Juga: Pekan Depan, 300-an Siswa SD di Malang Jalani TKA Susulan
Akibatnya, pelajar sering mengalami kelelahan kognitif saat membaca bacaan panjang. Hal itu menciptakan hambatan besar bagi mahasiswa tingkat akhir yang dituntut melakukan riset mendalam dan membedah literatur yang kompleks.
Melatih Kembali Fokus
Memulihkan ketahanan baca memerlukan latihan bertahap melalui metode pembacaan lambat tanpa gangguan gawai. Kegiatan itu perlu dilakukan untuk mengembalikan kesabaran kognitif dalam mengolah informasi yang utuh dan mendalam.
Kualitas literasi bukan diukur dari berapa banyak judul yang dibaca, melainkan seberapa dalam sebuah teks dipahami. Kemampuan menguasai teks panjang adalah kunci untuk menjaga daya kritis dan mencegah paparan disinformasi di era digital.
Editor : Aditya Novrian