Kampus lain seperti Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Universitas Islam Malang (Unisma) tetap membuka kuota yang sama seperti 2025. Begitu juga dengan Binus Malang dan Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA).
Menurut Kepala Bagian Penerimaan Mahasiswa Baru Unisma Ahmad Sufyan Zauri, tahun ini pihaknya kembali membuka kuota untuk 4 ribu mahasiswa. ”Namun kami juga menerima 1 ribu sampai 2 ribu mahasiswa lagi bagi mereka yang ingin berkuliah secara hybrid,” kata dia.
Kuliah hybrid memiliki konsep yang sama dengan kuliah reguler. Termasuk jumlah sistem kredit semester (SKS). Yang berbeda hanya mekanisme kuliah yang memadukan metode daring. Penerapannya pun tidak hanya dilakukan pada kuliah yang berbasis teori. Namun juga praktikum.
Sufyan melanjutkan, untuk calon maba, pihaknya tidak hanya membuka pendaftaran di jalur reguler. Namun juga calon mahasiswa baru yang membutuhkan beasiswa.
”Di kami ada sekitar 8 (pilihan) beasiswa. Setiap tahun, yang diterima lewat (jalur) beasiswa ada 250 sampai 300 mahasiswa,” kata Sufyan. Salah satu beasiswa yang disediakan yakni beasiswa Kartu Indonesia Pintar-Kuliah (KIP-K).
Kampus lain seperti Universitas Ma Chung juga menyediakan beasiswa. Kepala Badan Pemasaran dan Inovasi Bisnis Universitas Ma Chung Dwi Andrianti Agustin menyebut ada 12 jenis beasiswa yang dibuka di tempatnya.
Seperti beasiswa influencer, beasiswa wushu, beasiswa akademik, hingga beasiswa KIP-K. ”Untuk yang masuk lewat jalur beasiswa setiap tahun ada sekitar 100 mahasiswa,” terang Dwi.
Opsi kampus swasta lainnya yakni Universitas Gajayana (Uniga) Malang. Rektor Uniga Malang Prof Dr Ernani Hadiyati SE MS menyampaikan, tahun ini pihaknya membuka kuota untuk seribu mahasiswa. Itu tersebar di 10 program studi (Prodi) S1.
Prodi yang dibuka antara lain Ekonomi, Ilmu Ekonomi Pembangunan, Akuntansi, Bahasa Inggris, dan Ilmu Komunikasi. ”Untuk pembukaan pendaftarannya sudah berjalan sampai September 2026 nanti,” tutur dia.
Selain melalui jalur reguler, Uniga Malang juga membuka penerimaan melalui jalur beasiswa. Antara lain beasiswa KIP, beasiswa tahfiz Alquran, hingga beasiswa prestasi. Pihaknya akrif menggaet calon maba lewat beberapa fasilitas baru. ”Yang terbaru kami memiliki Tax Center, LSP, dan Entrepreneur Corner hingga public space,” sambung Ernani.
Terpisah, Ketua STIA Dr Ali Hanafiah ST MM menyampaikan bahwa pihaknya membuka kuota untuk 350-an mahasiswa S1. Ali melanjutkan, penerimaan mahasiswa baru sudah dibuka pada November 2025 sampai September 2026 nanti.
Selain jalur reguler, STIA juga membuka penerimaan pada jalur beasiswa. Total, ada 4 beasiswa yang dibuka. ”Antara lain yang saya canangkan beasiswa tahfidzul Alquran dan beasiswa content creator,” ucapnya. (mel/by)
Editor : Bayu Mulya Putra