MALANG KOTA, RADAR MALANG - Alunan musik gamelan Jawa mengiringi ratusan siswa SMP Katolik Santa Maria 1 Malang berlatih tari Bapang, kemarin. Di depan Balai Kota Malang, mereka kompak menampilkan gerakan yang selaras. Dalam aksi itu, mereka juga mengenakan topeng dan selendang.
Tari Topeng Bapang Malang yang dibawakan menampilkan cerita Bapang Jayasentika. Seorang tokoh yang digambarkan setia dalam kisah Wayang Panji. Tarian yang disuguhkan menggambarkan jiwa kesatria yang gagah berani. Sedangkan topeng yang dikenakan merepresentasikan sifat amatag dan nafsu manusia yang harus dikendalikan.
Baca Juga: Makna Tari Bapang di Balik Penutupan Porprov di Kabupaten Malang
”Total ada 80-100 siswa SMP yang berlatih untuk pertunjukan pada 1 Juni mendatang,” ujar Wakil Kepala Humas SMPK Santa Maria 1 Malang Galuh Triatmojo. Mereka ditunjuk mengisi segmen tari pada perayaan Hari Lahir Pancasila di depan Wali Kota Malang dan jajarannya. Tari Bapang Malang dipilih karena mewakili kebudayaan yang lahir dari masyarakat Kota Malang.
Filosofi tarian yang dibawakan menyiratkan pesan moral tentang pengabdian, keberanian, dan pentingnya manusia yang mengendalikan nafsu. Untuk itu tokoh Bapang digambarkan berwajah tegas dengan hiasan mahkota, taring, serta topeng merah. Artinya, tokoh Bapang merupakan sosok setia yang siap membela kebenaran rajanya.
Gerakan tari yang bakal ditampilkan memadukan unsur ketegasan fisik dan ritme musik gamelan. Dengan ciri khas gerakan tangan dan kepala patah-patah. Seluruh penari menampilkan tarian itu dengan lincah dan menunjukkan kewibawaan.
Baca Juga: 2.022 Pelajar Kabupaten Malang Bawakan Tari Bapang Massal
”Kami menyiapkan pertunjukan ini selama dua bulan berutur-turut,” lanjut Galuh. Mulai dari pembuatan koreografer, penyatuan gerakan penari, hingga pencarian kostum serta aksesoris. Kini mereka sudah siap unjuk kebolehan menari pada Hari Lahir Pancasila.
Tahun ini tema yang diambil bertajuk Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia. Menyoroti pentingnya aktualisasi Pancasila di era digital. Saat itu Pancasila bisa diposisikan sebagai pedoman etika agar perdamaian dunia tetap terjaga. (aff/gp)
Editor : A. Nugroho