Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

12 Pelajar Sekolah Rakyat di Kota Malang Pilih Mengundurkan Diri

Nahdiatul Affandiah • Selasa, 23 Juni 2026 | 14:01 WIB
BERKURANG: Salah satu siswi SRMP 16 Kota Malang membersihkan ruang kelas beberapa waktu lalu. (istimewa)
BERKURANG: Salah satu siswi SRMP 16 Kota Malang membersihkan ruang kelas beberapa waktu lalu. (istimewa)

MALANG KOTA, RADAR MALANG - Jumlah pelajar di Sekolah Rakyat menyusut sejak beroperasi pada Juli 2025. Di Kota Malang, total ada 12 pelajar Sekolah Rakyat yang mengundurkan diri. Enam di antaranya dari Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 16 Kota Malang. 

Enam pelajar lainnya dari Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 22 Kota Malang. Mayoritas mengundurkan diri sejak awal Sekolah Rakyat beroperasi. Sesuai skema awal, harusnya ada pelajar yang menggantikan mereka. Namun sampai sekarang belum ada penggantinya. 

Contohnya di SRMP 16. Sekolah Rakyat di sana memiliki kapasitas untuk 100 pelajar. Sejak awal-awal beroperasi, sudah ada enam pelajar yang memilih mengundurkan diri. Alasannya beragam. Ada yang pindah sekolah, masuk pesantren, hingga alasan kesehatan.

Sesuai mekanisme yang ada, Kementerian Sosial (Kemensos) RI melalui Dinas Sosial (Dinsos) Kota Malang bakal mengganti kuota yang hilang itu. Caranya dengan memasukkan siswa baru yang sesuai kriteria pelajar Sekolah Rakyat.

”Namun belum ada siswa pengganti yang diberikan hingga kenaikan kelas, beberapa hari lalu,” ujar Kepala SRMP 16 Kota Malang Rida Afrilyasanti.

Secara umum, dia memastikan bahwa pembelajaran di tempatnya berlangsung lancar. Sempat ada 24 pelajar yang terkendala dalam proses pembelajaran.

Pada awal tahun ajaran baru, mereka masih butuh pendampingan khusus untuk memahami materi. Namun pada akhir semester dua sebelum kenaikan kelas, kemampuan belajar mereka mulai membaik.

”Hasil ujian kenaikan kelas kemarin juga cukup memuaskan, rata-rata nilai para siswa cukup memenuhi standar,” lanjut Rida. Bahkan beberapa siswa bisa meraih nilai sempurna di pelajaran tertentu. Perbedaan nilai itu dimaklumi Rida karena starting point tiap anak di SRMP 16 berbeda. 

Sebab para siswa di sana berasal dari golongan masyarakat miskin. Di mana sebelum adanya SRMP 16, pendidikan sulit diakses oleh mereka. Itu menjadikan guru harus intens mengajar kompetensi dasar sehingga pengetahuan pelajar bisa berkembang serentak. 

”Bahkan kalau dilihat ke belakang, saat pertama mereka datang ke asrama banyak yang belum bisa baca dan menghitung,” lanjut Rida. Karena metode pembelajaran di SRMP yang cukup intens, akhirnya mereka bisa mengejar ketertinggalan. 

Saat itu, satu guru mendampingi satu sampai tiga siswa untuk latihan tambahan dan pembahasan materi saat belajar malam bersama wali asuh.

Kini fokus Rida mulai bergeser pada menonjolkan bakat siswa. Sebab kemampuan akademik mereka sudah cukup mumpuni. Untuk itu, pihaknya dirinya banyak menyediakan Kelas Potensi Bakat (KPB) yang digunakan menyaring bakat anak didiknya.

Di tempat lain, Kepala Dinas Sosial P3A2KB Kota Malang Donny Sandito mengaku terus memantau perkembangan siswa SRMP 16.

Termasuk pengajuan kelengkapan fasilitas, seperti laboratorium hingga sarana ekstrakurikuler. ”Tapi kalau tentang rekrutmen siswa baru, arahan dari Kemensos memang tidak menerima dulu tahun ini,” ujarnya.

Untuk itu pengawasan diarahkan pada pengembangan bakat siswa yang sudah masuk SRMP 16. Mulai dengan memperbanyak kegiatan yang digemari anak-anak. Seperti menambah ekstrakurikuler teater, musik, hingga Pramuka agar minat anak-anak makin banyak dikembangkan.(aff/by)

 

 

Editor : Bayu Mulya Putra
#srmp 16 kota malang #sekolah rakyat di kota malang #SRMA 22 Kota Malang #Sekolah Rakyat #Kemensos RI