Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ribuan Arek Malang Peringati Tragedi Kanjuruhan dengan 10 Tuntutan dan Doa

Fathoni Prakarsa Nanda • Rabu, 2 Oktober 2024 | 19:00 WIB
MASIH BERDUKA: Massa melakukan demo di depan Kantor DPRD Kabupaten Malang dan mengajukan 10 tuntutan atas kasus Tragedi Kanjuruhan kemarin (1/10).
MASIH BERDUKA: Massa melakukan demo di depan Kantor DPRD Kabupaten Malang dan mengajukan 10 tuntutan atas kasus Tragedi Kanjuruhan kemarin (1/10).

KABUPATEN – Peringatan dua tahun Tragedi Kanjuruhan oleh Arek Malang kemarin (1/10) dipusatkan pada dua agenda.

Pertama, massa Arek Malang dan keluarga korban melakukan aksi demonstrasi di depan gedung DPRD Kabupaten Malang.

Kemudian mereka melakukan doa bersama di pintu 13 Stadion Kanjuruhan.

Aksi demo dilakukan pada pukul 15.00.

Ratusan massa dari BEM Malang Raya dan aliansi keluarga korban tragedi mendatangi kantor DPRD Kabupaten Malang dengan mengenakan pakaian hitam.

Mereka menuntut kerusuhan yang menewaskan 135 orang itu diusut tuntas.

Massa juga terus memanggil semua ketua fraksi DPRD untuk menemui mereka.

Permintaan itu akhirnya dipenuhi.

Hanya ketua Fraksi Partai Gerindra hadir lewat video call.

Di hadapan perwakilan pimpinan legislatif, massa menyampaikan 10 tuntutan keluarga korban Tragedi Kanjuruhan.

Pertama, meminta negara mengaku bersalah atas peristiwa pilu tersebut.

Kemudian menuntut negara meminta maaf, serta menjalankan kembali proses hukum yang belum tuntas.

Keempat, massa meminta perbaikan keamanan dan tata kelola sepak bola Indonesia.

Lalu menuntut Komnas HAM menyatakan Tragedi Kanjuruhan sebagai pelanggaran HAM berat.

Termasuk meminta PSSI mematuhi statuta FIFA dan mengakhiri kerja sama dengan Polri dalam ke amanan pertandingan.

“Ke tujuh, kami menuntut presiden dan DPR RI menjadikan 1 Oktober sebagai hari duka sepak bola nasional.

Juga menuntut Forkopimda Malang Raya untuk mengusulkan tanggal tersebut sebagai hari duka sepak bola nasional,” teriak orator aksi.

Dua tuntutan terakhir adalah menyerukan dukungan semua lapisan masyarakat kepada keluarga korban dalam mencari keadilan.

Lalu mendoakan agar semua korban segera mendapat keadilan.

Semua tuntutan itu disanggupi Plt Ketua DPRD Kabu paten Malang Darmadi.

Menurutnya, apa yang diminta demonstran sejatinya sudah dilakukan tahun lalu dengan cara bersurat ke presiden dan DPR RI.

”Tentu akan kami lakukan lagi. Kalau perlu kami hadir di komisi 3 DPR RI untuk menyampaikan aspirasi tersebut,” kata dia.

Selesai melakukan demo, massa langsung menuju pintu 13 Stadion Kanjuruhan.

Mereka melakukan doa bersama dan mendengar tausiyah Ustad Syarif dari Blimbing.

Dalam ceramahnya, dia mendorong massa bisa legawa dan yakin akan ada pembalasan dari Tuhan.

Tapi, imbauan itu masih sulit dipenuhi keluarga korban.

Misalnya yang diungkapkan Kholifatul dari Bulu lawang.

Ibu dari Jovan, salah satu korban tragedi 1 Oktober 2022, itu masih merasakan trauma mendalam.

”Bukan lagi trauma, saya benci sepak bola. Sampai sekarang,” ucap dia.

Meski begitu, Kholifatul berusaha untuk tetap berdiri tegak bersama keluarga korban lainnya.

Sampai sekarang dia juga masih aktif ikut mencari keadilan.

Tahun lalu bahkan ikut melapor ke Bareskim Mabes Polri, meskipun laporan tersebut ditolak. (biy/fat).

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Tragedi Kanjuruhan #Arek Malang