Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Perfeksionisme di Kalangan Pelajar Berdampak pada Kesehatan Mental

Salshabila Abidah Ardelia • Sabtu, 25 April 2026 | 22:24 WIB
Pelajar menetapkan standar tinggi dalam belajar, kondisi yang dapat memicu perfeksionisme dan tekanan mental. (Foto: Pexels)
Pelajar menetapkan standar tinggi dalam belajar, kondisi yang dapat memicu perfeksionisme dan tekanan mental. (Foto: Pexels)

JAKARTA, RADAR MALANG - Perfeksionisme di kalangan pelajar semakin meningkat seiring tuntutan prestasi akademik. Kondisi ini penting diperhatikan karena dapat memicu stres, kecemasan, hingga penurunan kesejahteraan mental.

Standar Tinggi dan Tekanan Akademik

Perfeksionisme pada mahasiswa seing dianggap sebagai kualitas yang diinginkan untuk mendapatkan kualitas kinerja dan kesuksesan yang lebih tinggi. Mahasiswa kerap menerapkan standar tinggi bagi capaian akademik mereka.

Baca Juga: Peringati Hari Bumi, Pertamina Patra Niaga FT Madiun Tuang Ratusan Liter Eco-Enzyme di Sungai Bengawan Solo

Penelitian di bidang psikologi melaporkan bahwa tingkat perfeksionisme di kalangan muda telah meningkat secara stabil selama 28 tahun terakhir.

Tekanan dari lingkungan akademik dan ekspektasi diri mendorong mahasiswa untuk terus produktif, bahkan ketika kondisi fisik dan mental mulai menurun.

Dua Sisi Perfeksionisme

Sejumlah penelitian di bidang psikologi menunjukkan bahwa perfeksionisme memiliki dua sisi. Beberapa penelitian menyatakan bahwa orang dengan kekhawatiran perfeksionis yang tinggi cenderung mengalami perasaan tidak berdaya dan kurangnya kendali yang dapat menyebabkan turunnya kinerja akademik.

Tekanan yang datang dari ekspektasi orang lain dan ekspektasi diri sendiri berkontribusi terhadap penurunan kesejahteraan mahasiswa.

Baca Juga: Usaha Sekarat, Penyaluran Kredit Merosot

Dampak pada Kesehatan Mental

Berdasarkan laporan American Psychological Association, mahasiswa yang lebih perfeksionis menunjukkan tingkat kelelahan, kecemasan, depresi, dan kebencian yang lebih tinggi.Kebutuhan yang tak pernah tercukupi untuk terus berprestasi dapat merusak hubungan dengan diri sendiri. 

Curran, seorang ahli psikologi, mengatakan bahwa perfeksionisme tidak hanya mengasingkan diri sendiri dengan mencoba menjadi diri sendiri, tetapi juga mengasingkan diri dari orang lain dalam mengejar standar yang lebih tinggi sehingga menyebabkan kesepian.

Baca Juga: Geliat Mahasiswa Pascasarjana Magister Manajemen Universitas Negeri Malang Majukan Kampung Seni Eduwisata Pagelaran

Pengelolaan yang Seimbang

Pengelolaan ekspektasi menjadi langkah penting untuk mencegah dampak negatif perfeksionisme. Mahasiswa perlu menetapkan target yang realistis dan mengenali batas kemampuan diri.

Selain itu, lingkungan pendidikan juga berperan dalam menciptakan sistem belajar yang tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga proses.

Perfeksionisme dapat menjadi pendorong prestasi jika dikelola dengan tepat. Dengan pemahaman yang seimbang, mahasiswa dapat menjaga kualitas akademik tanpa mengorbankan kesehatan mental.

Editor : Aditya Novrian
#mental health #kesehatan mental mahasiswa #Akademik #perfeksionis #mahasiswa