JAKARTA, RADAR MALANG - Perfeksionisme di kalangan pelajar semakin meningkat seiring tuntutan prestasi akademik. Kondisi ini penting diperhatikan karena dapat memicu stres, kecemasan, hingga penurunan kesejahteraan mental.
Standar Tinggi dan Tekanan Akademik
Perfeksionisme pada mahasiswa seing dianggap sebagai kualitas yang diinginkan untuk mendapatkan kualitas kinerja dan kesuksesan yang lebih tinggi. Mahasiswa kerap menerapkan standar tinggi bagi capaian akademik mereka.
Penelitian di bidang psikologi melaporkan bahwa tingkat perfeksionisme di kalangan muda telah meningkat secara stabil selama 28 tahun terakhir.
Tekanan dari lingkungan akademik dan ekspektasi diri mendorong mahasiswa untuk terus produktif, bahkan ketika kondisi fisik dan mental mulai menurun.
Dua Sisi Perfeksionisme
Sejumlah penelitian di bidang psikologi menunjukkan bahwa perfeksionisme memiliki dua sisi. Beberapa penelitian menyatakan bahwa orang dengan kekhawatiran perfeksionis yang tinggi cenderung mengalami perasaan tidak berdaya dan kurangnya kendali yang dapat menyebabkan turunnya kinerja akademik.
Tekanan yang datang dari ekspektasi orang lain dan ekspektasi diri sendiri berkontribusi terhadap penurunan kesejahteraan mahasiswa.
Baca Juga: Usaha Sekarat, Penyaluran Kredit Merosot
Dampak pada Kesehatan Mental
Berdasarkan laporan American Psychological Association, mahasiswa yang lebih perfeksionis menunjukkan tingkat kelelahan, kecemasan, depresi, dan kebencian yang lebih tinggi.Kebutuhan yang tak pernah tercukupi untuk terus berprestasi dapat merusak hubungan dengan diri sendiri.
Curran, seorang ahli psikologi, mengatakan bahwa perfeksionisme tidak hanya mengasingkan diri sendiri dengan mencoba menjadi diri sendiri, tetapi juga mengasingkan diri dari orang lain dalam mengejar standar yang lebih tinggi sehingga menyebabkan kesepian.
Pengelolaan yang Seimbang
Pengelolaan ekspektasi menjadi langkah penting untuk mencegah dampak negatif perfeksionisme. Mahasiswa perlu menetapkan target yang realistis dan mengenali batas kemampuan diri.
Selain itu, lingkungan pendidikan juga berperan dalam menciptakan sistem belajar yang tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga proses.
Perfeksionisme dapat menjadi pendorong prestasi jika dikelola dengan tepat. Dengan pemahaman yang seimbang, mahasiswa dapat menjaga kualitas akademik tanpa mengorbankan kesehatan mental.
Editor : Aditya Novrian