Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Rika Wijayanti, Atlet Paralayang Berprestasi dari Kota Wisata Batu

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Kamis, 2 Maret 2023 | 03:00 WIB
TERBANG : Rika Wijayanti saat mengenakan perlengkapan olahraga paralayang. (Rika Wijayanti for Radar Malang)
TERBANG : Rika Wijayanti saat mengenakan perlengkapan olahraga paralayang. (Rika Wijayanti for Radar Malang)
BERAWAL DARI HOBI: Rika Wijayanti menekuni olahraga sejak kelas XI SMK. Kini dia sudah mengoleksi gelar juara dari berbagai kejuaraan nasional maupun internasional. (RIKA WIJAYANTI FOR RADAR MALANG)

Olahraga paralayang mengantarkan Rika ke berbagai belahan dunia. Mulai dari Malaysia, Turki, India, Kazakhstan, Korea, dan beberapa negara lain. Pada 16-19 Februari lalu, dia berhasil meraih Juara 1 Women Class Paragliding Accuracy World Cup (PGAWC) di Nongkhai, Thailand.

AFIFAH RAHMATIKA FURZAEN

SAAT ditanya tentang awal ketertarikan pada paralayang, ingatan Rika langsung kembali ke tahun 2012. Kala itu dia masih duduk di bangku kelas XI SMK 17 Agustus Kota Batu.

Sepulang sekolah dia terbiasa menyaksikan atlet paralayang mendarat di lapangan dekat rumahnya.

”Kebetulan kakak saya yang nomor tiga, Joni Efendi, senang dengan olahraga paralayang.  Saya akhirnya tertarik karena para atlet paralayang bisa ke luar kota dan luar negeri untuk kompetisi,” ucap bungsu dari empat bersaudara itu.

Saat mulai menekuni olahraga paralayang, Rika lebih menganggapnya sebagai hobi. Sama sekali tidak pernah terpikir untuk bisa menjadi atlet.

Lulus SMK pada 2017, dia berniat untuk kuliah atau bekerja sebagai pegawai bank. Namun, dua keinginan itu tak kunjung terwujud.

Akhirnya Rika mencoba lebih serius berlatih paralayang. Dia meluangkan waktu untuk mempelajari cara terbang dengan parasut.
Baca Juga : Di Kota Batu, Tiga Kakak Adik Bisa Koleksi 40 Medali Paralayang.

Setiap hari dia menjadi seorang observer. Rika mengamati bagaimana orang-orang menerbangkan parasut.

Sesekali dia diberi kesempatan terbang bersama kakaknya untuk berlatih keterampilan mengendalikan parasut.

”Kalau terbang bersama kakak, saya diajari bagaimana caranya menarik tali dengan benar hingga mengendalikan parasut saat ada angin,” kenangnya.

Suatu ketika, perempuan kelahiran Batu, 8 September 1995 itu ingin mengikuti kelas paralayang dengan biaya mandiri.

Dia bergabung ke Klub Bintang dengan pembelajaran 40 kali penerbangan. Rasa grogi dialami Rika saat pertama kali terbang sendirian dan dipandu instruktur dari jarak jauh.

”Ketika terbang saya membawa HT yang berfungsi mendengarkan komando instruktur. Misalnya, terbang lurus, tarik kanan, dan sebagainya,” katanya. (Bersambung ke halaman selanjutnya)



Penerbangan sendirian pertama kali itu sangat berkesan. Meski grogi, Rika mulai bisa menikmati pemandangan alam yang sangat indah dari ketinggian.

Saat sudah terbiasa terbang, Rika iseng membawa ponsel untuk memotret kemacetan Kota Batu dari ketinggian. Lalu, foto itu diunggah ke Instastory Instagram dan menandai ke akun Wali Kota Batu.

Perlahan namun pasti, kemampuan Rika dalam menerbangkan paralayang terus meningkat.

Bahkan hobi itu mengantarkannya menjadi atlet yang kerap menjuarai kejuaraan nasional maupun internasional. Misalnya, pada 2018 dia meraih Juara 1 Perorangan Accuracy PGAWC Turki.

Kemudian, pada 2019 dia berhasil menyabet Juara 1 Perorangan dalam Accuracy Bondoland International di India.

Selanjutnya, pada 2020 berhasil meraih Juara 1 Perorangan dalam ketepatan mendarat putri Liga Jatim Seri 2, Modangan. Di luar itu masih banyak puluhan prestasi yang pernah diraih Rika.
Baca Juga : Kemiskinan Ekstrem di Balik Gemerlap Kota Wisata Batu.

Di balik deretan prestasi itu, Rika juga menyimpan satu pengalaman dramatis. Tiga bulan sebelum PON Papua 2021, tangan kirinya mengalami patah tulang.

”Waktu itu tanggal 30 Juni 2021. Cuaca cukup terik,” ucap Rika mengawali pengalaman tersebut.

Seperti biasa dia melakukan latihan terbang cross country. Sebuah teknik terbang mencari ketinggian layaknya burung elang.

Angin berembus cukup kencang. Perlahan, Rika berusaha mengatur tali parasut. Menanti timing yang tepat di antara liarnya embusan angin.

Tapi, perhitungannya meleset hingga menabrak bukit. ”Tangan saya bengkak dan perlu pengobatan segera,” ceritanya.

Menerima kabar bahwa tangan kirinya patah adalah hal terberat bagi Rika. Mentalnya sempat down. (Bersambung ke halaman selanjutnya)



Latihan keras yang dia lakukan untuk persiapan PON terancam sia-sia. Rika bahkan harus menjalani operasi di RSUD Karsa Husada Batu.

Setelah operasi, dokter mengingatkan bahwa fase pemulihan idealnya 3 bulan. Namun Rika tak ingin waktunya terbuang sia-sia.

Setelah istirahat selama 35 hari, dia nekat kembali menerbangkan parasut. ”Rasanya jelas berbeda. Tenaga di tangan kiri belum sepenuhnya full,” kenangnya.

Namun, rasa sakit itu dia lawan. Rika percaya bahwa semangat bisa menjadi obat paling ampuh. Terbukti, dia berhasil meraih Juara 1 Beregu Race to Goal PON Papua 2021.

”Saya tidak menyangka, dalam kondisi pemulihan tangan yang habis operasi karena patah, ternyata bisa menorehkan prestasi di negeri sendiri,” ungkapnya.

Terbaru, Rika meraih Juara 1 Women Class dan Juara 2 kategori tim di PGAWC Thailand.
Baca Juga : UT Malang Gelar Sosprom, Buka Stan di Expo Pariwisata Batu.

Dia berhasil memenuhi poin ketepatan mendarat di lingkaran berdiameter 16 sentimeter yang disediakan penyelenggara.

Diameter pendaratan itu lebih kecil dibanding yang biasa digunakan di Indonesia, yakni 22 sentimeter.

”Bagi saya, lawan terberat sebenarnya bukan atlet dari negara mana pun, melainkan ego sendiri. Prestasi itu bonus dari Yang Maha Kuasa. Yang perlu kita ingat, teruslah memberikan hasil maksimal,” tandasnya. (*/fat) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
##beritamalang #radarmalang ##jawaposradarmalang ##mediaonlinemalang ##beritamalanghariini ##radarmalanghariini