Bina Tujuh Lembaga, Biasa Berdakwah sejak Madrasah Aliyah
Namanya M. Syaiful Bahri. Dia satu-satunya di Jawa Timur (Jatim) yang berhasil menembus 24 besar Akademi Sahur Indosiar (Aksi) 2023. Mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang (UM) itu berhasil menyisihkan ribuan pesaingnya dari berbagai daerah di Indonesia.
ANDIKA SATRIA PERDANA
PECI hitam masih ”menghiasi” kepalanya. Di sela-sela menjalani karantina, ustad Bahri menyempatkan waktu melayani wawancara Jawa Pos Radar Malang kemarin siang (22/3).
Logat bicaranya tidak mengesankan bahwa pria 25 tahun itu berdarah Madura.
Meski lahir di Lumajang, tapi keberangkatannya mengikuti audisi Akademi Sahur Indosiar (Aksi) 2023 atas nama santri Pondok Pesantren (Ponpes) Sabilurrosyad, Gasek, Kelurahan Karangbesuki, Kota Malang.
Mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) itu menjadi satu-satunya Jawa Timur yang tembus 24 finalis Aksi 2023.
”Saya ikut Aksi ini karena murid saya sudah ikut pada tahun lalu, sehingga saya tertantang untuk mencoba," kata ustad Bahri.
Selama mengenyam pendidikan di Malang, ustad Bahri mempunyai banyak murid. Itu karena dia membina dakwah di 7 lembaga pendidikan agama di Bumi Arema.
Baca Juga : Tiga Hari Hanyut, Santri Al Aziz Ditemukan Meninggal.
Tahun lalu, Muridnya yang bernama M. Shoniful Hadi masuk finalis Aksi 2022.
Proses seleksi untuk mengikuti kompetisi nasional ini dimulai sejak awal 2023. Tepatnya pada 28 Januari lalu, dengan sistem audisi secara daring.
”Pertama upload video dakwah. Waktu itu saya mengenakan baju adat Madura. Karena ingin menunjukkan ciri khas saya dan saya juga merupakan keturunan Madura," ungkapnya.
Rupanya, penampilan yang dia suguhkan membuat Indosiar tertarik. Pada 7 Februari lalu, ustad Bahri dipanggil ke Jakarta untuk menjalani sesi wawancara.
"Ketika tes wawancara dan ditanya apa kelebihannya. Selain ceramah, saya bisa tilawah, qari, dan juga bernyanyi," imbuh pria berzodiak Leo itu.
Sebulan kemudian, tepatnya pada 1 Maret dia dihubungi panitia Aksi 2023. Bahri diberi tahu bahwa dia merupakan satu di antara 24 peserta yang menuju babak final. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
Meski terbiasa ceramah, dia tidak menyangka babak tembus 24 besar. Karena itu, dia tidak mematok target.
"Saya belum memikirkan target. Kalau nanti dapat berapa besar, itu bonus. Saya hanya ingin menampilkan yang terbaik, peringkat itu hanyalah bonus," tegas pria yang saat ini berdomisili di Karangbesuki tersebut.
Dia menjalani karantina sejak 16 Maret lalu. Dalam proses itu, Bahri memperdalam ilmu public speaking. Bagaimana gerak-gerik tubuh atau gestur, serta meningkatkan kemampuan akting.
"Selama di karantina, saya bertemu teman dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Karakternya berbeda-beda. Jadi saya bisa memahami masing-masing karakter dan berusaha menyatukan ego agar menjadi satu," katanya.
Semasa remaja, Bahri sudah terbiasa berdakwah, bahkan sejak duduk di bangku kelas I Madrasah Aliyah (MA) pada 2013 lalu. Ketika remaja, Bahri sempat minder.
Baca Juga : Penganiaya Santri Dikeluarkan dari Pondok.
Itu karena rekan-rekan seangkatannya sudah beberapa kali menjuarai kompetisi dakwah, sedangkan dirinya belum. "Rasanya seperti di titik terendah, ketika melihat teman-teman sudah juara, tapi saya belum,” ucap dia kala itu.
Keberhasilan teman-temannya memacu semangat Bahri untuk mengikuti audisi. ”Ini harus menjadi motivasi untuk lebih baik ke depan," beber dia.
Akhirnya, penantian panjang itu berakhir pada 2018. Pada tahun itu, dia menyabet juara MTQ di tingkat provinsi.
Setahun kemudian, dia menjadi juara pertama di kompetisi dakwah yang digelar di Tangerang Selatan (Tangsel). (*/dan) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana