NABILA AMELIA
Ditemani anaknya, Tuning Saraswati, Muhammad Sukri D. Saputro mendatangi posko pengaduan yang didirikan BPBD Kota Malang di depan Malang Plaza, kemarin siang (3/5). Dia ikut melapor sebagai salah satu korban materiil dari kebakaran yang terjadi Selasa malam (2/5).
Sembari menenteng tas bermotif di lengan kirinya, Sukri tampak berbincang dengan Kabid Kedaruratan Logistik BPBD Kota Malang Khabibah. Dia lantas mencatat kerugian yang dialaminya karena kebakaran di Malang Plaza.
Sukri bukanlah pemilik tenant atau penjaga tenant di Malang Plaza. Dia seorang pelukis yang sedang memamerkan karyanya di Mal tersebut. Total ada 38 lukisan karyanya yang dipamerkan di sana. Semuanya sudah dilalap si jago merah.
Pria berusia 77 tahun itu tidak sendirian. Ada delapan pelukis lain yang juga harus menelan pil pahit serupa. Total ada 200-an lukisan mereka yang ludes terbakar.
Nominal kerugiannya ditaksir mencapai ratusan juta. Sukri mengestimasi angka kerugiannya sekitar Rp 300 juta.
Kerugian yang dirasakan tak sekadar materiil. Sebab, ada kenangan menghidupkan sentra seni di Kota Malang selama satu tahun terakhir di sana. Sekaligus perjuangan para seniman dalam menghasilkan karya.
Link Terkait : Kronologi Kebakaran Malang Plaza yang Disusun Radar Malang.
Sukri masih ingat betul saat anaknya, Tuning Saraswati, mengabarkan peristiwa kebakaran. Saat itu, Tuning mengetahui informasi kebakaran dari video yang beredar di media sosial Selasa dini hari (2/5) pukul 01.00. Anaknya sempat menahan diri untuk tidak langsung memberi kabar kepadanya.
Bapak empat anak itu baru menerima kabar setelah salat Subuh. Sebelum membawa Sukri ke Malang Plaza untuk melihat kondisi di lapangan, Tuning terlebih dulu pergi ke pusat perbelanjaan yang berdiri sejak 1985 tersebut pada pukul 05.00. Baru pada pukul 08.00, Sukri dibawa ke Malang Plaza.
Saat melihat sisa-sisa bangunan Malang Plaza yang terbakar, Sukri langsung berlinang air mata. Demikian pula seniman-seniman lainnya. Mata mereka langsung tertuju ke lantai dua, tepatnya ke arah art center, tempat dipamerkannya 200-an lukisan.
”Tentu kami sangat sedih sekali. Apalagi, membuat lukisan itu tidak bisa hanya satu atau dua hari,” kata Sukri kepada Jawa Pos Radar Malang. Dari seluruh lukisan buatannya, ada delapan yang nilainya mencapai puluhan juta. Yang paling mahal berjudul ’paradise’ atau surga dunia. Nilainya Rp 50 juta.
Lalu, ada lukisan berjudul sawung pinilih atau bantengan seharga Rp 30 juta. Semua lukisan miliknya memang memiliki tema budaya dan beraliran realis. Sebab, Sukri suka membuat lukisan yang bertema legenda dan sejarah. ”Karena ada dinamikanya,” tambah dia.
Selain itu, ada satu lukisan kecil yang turut hangus terbakar, yang harganya Rp 2,5 juta. Lukisan itu sebenarnya sudah dipesan oleh seseorang, dan rencananya akan diambil Selasa lalu (2/5).
”Sebenarnya, saya dan teman-teman mau rembukan pada hari yang sama untuk membicarakan program Kota Malang. Art center ini sudah seperti tempat ngopi kami, tapi malamnya malah kebakaran,” sambung dia.
Meski mengalami musibah di luar dugaannya, Sukri memastikan bakal terus memperjuangkan seni di Kota Malang. Terlebih, memperjuangkan wadah berkarya bagi para seniman yang belum memiliki tempat. Dia juga tetap berharap ada relokasi sementara dan perhatian. Apalagi, dampak yang mereka rasakan tidak kecil.
Pasca kebakaran, Sukri bersama sesama seniman belum melakukan pembahasan lebih lanjut dengan Direktur Malang Plaza Laurensia Ike Anggraini. Mereka hanya bertemu, kemudian berbicara sedikit layaknya bapak dan anak.
Andai tidak terjadi kebakaran, para seniman yang tergabung dalam art center di sana berencana mengembangkan Malang Plaza sebagai sentra seni. Meliputi sentra yang berisi lukisan-lukisan hingga pameran akik. Dukungan dari manajemen Malang Plaza sudah mereka kantongi dengan pemberian tempat khusus. (*/by) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana