Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Mengenang Miran, Polisi Super-Tegas yang Pernah Menjaga Jalanan Malang 

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Selasa, 11 Juli 2023 | 23:00 WIB
Keluarga almarhum Miran, polisi super galak yang berkesan bagi generasi lawas Arek-Arek Malang.
Keluarga almarhum Miran, polisi super galak yang berkesan bagi generasi lawas Arek-Arek Malang.
Sing Duwe Dalan Miran, Wis Opo Jare Miran Ae

Generasi terdahulu Kota Malang tentu tidak asing dengan ketegasan sosok Miran. Bahkan, Soesamto yang menjadi Wali Kota Malang kala itu sangat menaruh hormat. Membuat kelakar yang seolah menyerahkan ketertiban jalanan Kota Malang kepada Miran.

NABILA AMELIA

SENIN, 10 Juli 2023, rumah yang didominasi cat warna cokelat di Jalan Simpang Kepuh C7, Kelurahan Bandungrejosari, Kecamatan Sukun, itu terus dipadati para pelayat. Mereka datang untuk mengucapkan belasungkawa atas kepergian Miran pada Minggu lalu (9/7). Deretan karangan bunga pun terus bertambah. Salah satunya datang dari Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Budi Hermanto.

Dari dalam rumah, muncul seorang perempuan dengan busana berwarna biru dongker. Dia adalah Erny Kurnia, putri kedua sang pemilik rumah yang baru saja tutup usia. Meski berusaha tegar, air mata Erny luruh juga setelah wartawan koran ini memintanya menceritakan sosok Miran semasa hidup.

Bagi Erny, Miran bukan hanya ayah yang baik. Di hati masyarakat Kota Malang, terutama generasi terdahulu, Miran dikenal tegas. Jujur, tidak tebang pilih, dan berani saat masih menjalankan tugas sebagai polisi.

Purnawirawan polisi dengan jabatan terakhir Kasamapta itu dikenal tegas dalam menindak pelanggar lalu lintas. Utamanya pada era 1990-an. Mengendarai mobil Toyota Kijang dan memegang pentungan, Miran ibarat momok bagi pelaku balap liar. Melihat mobilnya saja, anak-anak muda yang siap adu cepat motor di jalanan umum langsung lari tunggang langgang.

Sebab, Miran dikenal tak pandang rasa takut. Pria kelahiran 21 Maret 1944 juga tak ragu untuk menyeruduk para pelaku balap liar dengan mobilnya. Atau memukul mereka dengan pentungan. Tentu semua itu dilakukan Miran dengan penuh perhitungan, membuat kapok tanpa mengakibatkan luka.

Tak hanya pembalap liar. Ketegasan Miran juga dirasakan para tukang becak kala itu hingga PKL yang berjualan di sekitar Alun-alun Merdeka. Termasuk para preman Pasar Besar yang kabarnya pernah menjadi saksi bahwa Miran pernah dibacok, tapi tak mempan. Termasuk sopir angkot hingga para pengendara lain yang melanggar aturan lalu lintas.

Bahkan, Wali Kota Malang periode 1988-1998 Soesamto seperti ”tunduk” setiap Miran menjalankan tugas ketertiban. Soesamto pernah berkata, sing duwe dalan Miran, wis opo jare Miran ae (yang punya jalan Miran, apa kata Miran saja). Demikian sosok Miran di mata almarhum Soesamto.

Sikap Miran yang terkenal disiplin itu juga dirasakan anak-anaknya di rumah. Selain Erny, ada kakak sulungnya yang bernama Emmy Juniar Christanti dan Agung Supriyanto. ”Kedisiplinan bapak ini juga berlaku untuk anak-anaknya di rumah,” ungkap Erny.

Sebagai sosok polisi yang memulai karier dari nol, Miran mengajarkan kepada anak-anaknya untuk selalu berusaha keras apabila menginginkan sesuatu. Bagi sang ayah, keberhasilan tidak bisa diraih secara instan.

Hal tersebut juga turut ditekankan almarhum ibu mereka, Sutinah, yang dulu berprofesi sebagai tenaga kesehatan. Berkat didikan kedua orang tua, Erny bersama dua saudarinya bisa bekerja di bidang pekerjaan yang mereka inginkan.

Saat ini Erny bekerja di salah satu perbankan. Sang kakak menjadi aparatur sipil negara (ASN). Sementara adiknya, Agung, berprofesi sebagai dokter spesialis kandungan. Miran juga tak pernah memaksa anak-anak atau anggota keluarganya untuk mengikuti jejaknya.

Meninggalnya Miran pada Minggu lalu meninggalkan kesedihan yang mendalam untuk Erny. Terlebih, dia yang mendampingi Miran di saat-saat terakhir. Waktu itu, Erny sedang memandikan ayahnya yang sudah sejak Lebaran lalu memutuskan tinggal di rumahnya di daerah Klayatan.

”Mendadak bapak tidak sadar. Lalu saya tepuk-tepuk punggung sambil memanggil beliau,” terang perempuan kelahiran 1973 tersebut. Tapi Miran tidak merespons. Sang ayah tetap dalam kondisi tidak sadar. Kemungkinan mengalami serangan jantung.

Mengetahui ayahnya tak sadar, Miran pun segera meminta bantuan temannya yang bekerja di Rumah Sakit Tentara (RST) Soepraoen. Dia juga sempat memanggil tetangganya untuk memastikan kondisi sang ayah. Sayang, Miran akhirnya mengembuskan napas terakhir di usia 79 tahun.

Miran akhirnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Suropati di Jalan Veteran, Kecamatan Klojen. Pemakaman berlangsung sekitar pukul 15.00 hari Minggu kemarin. (*/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#polisi #malang #miran