Selama Setahun, Rutin Belajar Setiap Hari
Nadila Nada Zuhayra tergolong istimewa. Gadis 19 tahun itu meraih nilai 1.000 dalam Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) pada Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT) 2023. Perolehan nilai sempurna membuatnya diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.
DUROTUL KARIMAH
WAJAHNYA kalem. Suaranya lirih saat mempersilakan Jawa Pos Radar Malang duduk di depannya, kemarin. ”Saya memang suka menyendiri, termasuk belajar, saya lebih suka sendiri daripada berkelompok,” ujar Nadila Nada Zuhayra sambil duduk di deretan bangku depan perpustakaan Universitas Brawijaya (UB).
Selama berbicara, Nada sering kali merunduk. Di sekolahnya dulu, MAN 2 Kota Malang, Nada dikenal sebagai gadis yang pintar yang tidak banyak omong. Namanya menjadi perhatian setelah meraih nilai sempurna dalam Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT). Dalam tes yang berlokasi di UB tersebut, dia mendapat nilai 1.000. Perolehan nilai tersebut membuatnya lolos seleksi fakultas kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.
Termasuk untuk mata pelajaran sulit yang umumnya menjadi momok para pelajar, dia meraih nilai memuaskan. Yakni mata pelajaran matematika, fisika, dan biologi. ”Itu mata pelajaran favorit saya,” kata gadis berusia 19 tahun itu.
Meski Nada tergolong siswa yang brilian, dia tidak masuk daftar siswa eligible atau siswa yang memenuhi syarat mengikuti Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP). Sebagai manusia, dia sempat kecewa dan minder. ”Berarti banyak yang lebih pintar dari saya,” kata perempuan berjilbab itu.
Perasaan minder itu lantas dibuang jauh-jauh. Dia berusaha memandang sisi positif dari setiap permasalahan. ”Karena tidak memenuhi syarat ikut SNBP, maka saya bisa fokus mempersiapkan pelaksanaan SNBT dan tidak lagi mengandalkan SNBP,” kata gadis yang bercita-cita menjadi dokter tersebut.
Sejak kecil Nada ingin menjadi dokter. Itu karena ibunya juga seorang dokter, sehingga termotivasi mengikuti jejak orang tuanya. Menyadari tidak mudah lolos seleksi di kampus kedokteran, Nada kecil giat belajar. Orang tuanya juga mendukung penuh. Memfasilitasi melalui penyediaan materi tambahan.
”Akhirnya saya masuk bimbingan belajar biar lebih fokus lagi belajarnya,” ungkap anak kedua dari tiga bersaudara tersebut.
Setiap hari, Nada menambah jam belajar dan mengurangi waktunya untuk bermain. Usai sekolah, dia langsung mengikuti bimbel. Kemudian malam harinya me-review soal-soal latihan. Hal itu berlangsung setahun penuh. ”Setiap hari Sabtu selalu ikut try out, dan minggunya evaluasi hasilnya,” tutur Nada.
Bagi Nada, tiada hari tanpa belajar. Apa pun akan dia lakukan agar semangat belajarnya tidak kendur. Ketika jenuh, dia pindah tempat belajar agar merasakan suasana baru. "Kadang di tempat les, atau ke cafe dekat rumah," tambahnya.
Saat pendaftaran SNBT, pilihan pertamanya adalah FK UNS Surakarta. Sedangkan pilihan kedua di Teknik Biomedis Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. "Sebenarnya ingin masuk FK UGM (Universitas Gajah Mada), tapi takut nilainya tidak sampai," tambahnya.
Gadis asli Malang itu tidak menyangka bakal mendapat nilai sempurna, meski dia merasa naskah soal yang dikerjakan lebih mudah dibanding soal try out. "Saat try out nilai saya di urutan tengah. Makanya kaget saat mengetahui bahwa nilai saya 1.000,” tutur Nada.
Dia merasa, faktor penting yang mengantarkan meraih nilai sempurna adalah konsisten latihan mengerjakan soal. Kemudian di sepertiga malam selalu menyempatkan waktu untuk menunaikan salat. Juga menjalani puasa sunah. ”Dukungan dan motivasi dari orang tua juga sangat berpengaruh,” tambah gadis yang hobi menggambar tersebut.
Kini, dia lega lantaran lolos seleksi fakultas kedokteran. Dia berharap bisa mengikuti jejak orang tuanya untuk berprofesi menjadi dokter. ”Saya ingin mengambil spesialis,” kata dia.(*/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana